Suatu pagi, saya sedang berjalan-jalan dengan kakak di sekitar GOR Jayabaya Kota Kediri. Kami duduk beristirahat sembari menikmati kue pukis. Tanpa sengaja, pandangan saya tertuju ke arah barat. Lalu dengan random saya tiba-tiba bilang, “Watu Bengkah, yuk!”.
Ajakan spontan yang keluar dari mulut saya pagi itu benar-benar diijabah oleh kakak. Dia menghubungi dua temannya yang sudah berpengalaman mendaki, dan pada 12 Juli 2025 kami pun memulai perjalanan menuju Puncak Watu Bengkah.
Tanpa persiapan matang, hanya bermodal sebotol minum, kamera ponsel, dan tripod, kami berdua bertolak ke kawasan Gunung Klotok yang berada di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Tepatnya di dekat kampus Universitas Kadiri (UNIK).
Kami berangkat pukul 04.15. Perjalanan dari rumah hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit menuju basecamp pendakian. Awalnya, semua lancar-lancar saja, tapi begitu sampai di tanjakan menuju parkiran, motor kami tak kuat menanjak dan berakhir dititipkan di rumah warga sekitar yang kebetulan juga menerima penitipan motor para pendaki. Beruntungnya lagi, bapak pemilik rumah itu dengan sukarela mengantarkan kami ke basecamp yang ternyata jaraknya cukup jauh.
Pendakian Menuju Puncak

Sekitar pukul 05.00, akhirnya kami tiba di basecamp dan bertemu dengan dua teman kakak. Tak banyak cakap, kami langsung memulai pendakian saat itu juga. Langit masih gelap, besar harapan kami bisa melihat Matahari terbit di ketinggian 536 mdpl Puncak Watu Bengkah.
Kami berjalan dalam kesunyian, lampu terpasang di dahi untuk membantu penerangan medan yang dominan berbatu, sehingga agak berbahaya kalau jalan dalam gelap. Mulanya, medan masih cukup landai. Tapi semakin lama, tanjakan semakin terasa. Sebagai pemula yang jarang olahraga, napas saya sudah ngos-ngosan, padahal pendakian belum ada setengah jalan. Selain medan berbatu, kami juga sempat melewati trek tanah yang sedikit miring dengan pepohonan di sisi kanan kiri kami.
Sesekali kami berhenti, bukan untuk foto, tapi demi menunggu saya yang sudah nyaris kehabisan napas karena kelelahan. Beberapa kali bertemu dengan pendaki lain di trek, dengan senang hati saya persilakan mereka mendahului, terutama saat melewati trek menanjak dengan tali. Jujur, itu menakutkan buat saya. Dan trek menuju Puncak Watu Bengkah yang katanya ramah pemula terasa seperti bualan bagi saya.
Saya cukup beruntung, dua teman kakak semuanya baik. Mereka bersedia jalan di belakang, memastikan saya tidak tertinggal, bahkan membawakan tas ransel saya. Meskipun sudah sangat berpengalaman, mereka sama sekali tidak keberatan. Pendakian yang biasanya bisa mereka tempuh dalam waktu kurang dari satu jam berubah menjadi perjalanan selama satu setengah jam karena saya yang sering berhenti untuk mengatur napas.
Tiba di Puncak Watu Bengkah

Singkat cerita, kami berempat tiba di puncak pukul 06.30. Matahari sudah naik cukup tinggi. Harapan untuk melihat Matahari terbit dari lantai dua-nya Kota Kediri sirna. Namun, hal itu sama sekali tidak mengurangi rasa puas dan bahagia di hati saya karena berhasil menaklukkan 536 mdpl, meski dengan napas putus-putus.
Langit sedikit berkabut, tapi tetap cantik. Dari puncak, hamparan Kota Kediri terlihat dari kejauhan, tertutup kabut tipis yang perlahan menghilang seiring naiknya Matahari. Kami menggelar tikar piknik, minum air putih, kemudian menikmati segelas jahe hangat. Tak lupa kami juga mengabadikan momen di sana. Mengambil banyak foto sebagai kenang-kenangan.
Perjalanan Turun dan Pulang ke Rumah
Setelah kurang lebih satu jam menikmati pemandangan di puncak, kami memutuskan untuk turun. Kali ini, kami memilih jalur yang sedikit berbeda. Tak lagi dominan bebatuan, jalur yang kami lewati saat turun merupakan jalur aliran air hujan dari atas.
Perjalanan turun tak kalah menantang. Trek berupa tanah liat kering yang licin. Kami harus ekstra hati-hati dalam melangkah agar tak tergelicir ke jurang. Meskipun untuk orang-orang yang sudah terbiasa melakukan trail run di kawasan Gunung Klotok, mereka bisa melewati jalur ini sambil berlari kecil.
Langkah saya masih sama lambatnya dengan saat berangkat. Sembari berpegangan pada batang dan akar pepohonan di sekitar trek, saya melangkah penuh kehati-hatian. Meskipun beberapa kali, sempat terpeleset. Bahkan terkadang, saya berjalan dengan posisi berjongkok karena takut tergelincir.
Sekitar satu jam lebih lima belas menit, akhirnya kami tiba di parkiran. Masih dengan sedikit ngos-ngosan, saya merasakan kelegaan yang luar biasa karena bisa melewati semuanya dengan baik. Di parkiran, kami saling berpamitan sebelum berpisah.
Tak lupa, sebelum pulang, kami membeli gorengan untuk kami santap setelah sampai di rumah. Pendakian menuju Puncak Watu Bengkah memang terasa sangat melelahkan, bahkan pegal-pegalnya masih terasa sampai hampir satu minggu. Namun, perjalanan ini cukup berkesan bagi saya karena merupakan pendakian pertama.
Dan sejujurnya, seringkali terbesit keinginan di benak saya untuk kembali ke sana. Tapi mengingat trek dan pegal-pegal setelahnya… rasanya sekali saja sudah cukup menjadi pengalaman.