Ulasan
Sastra Sebagai Perlawanan: Membaca Ulang Luka Bangsa dalam Iblis Tidak Pernah Mati
"Sampai kapan?"
"Sampai aku berhasil membunuh iblis itu."
...
Dan perempuan itu tetap menunggu kekasihnya kembali, meskipun ia tahu bahwa iblis tak akan pernah mati.
"Mengapa dia menjadi batu?"
"Karena ia bodoh."
"Mengapa?"
"Karena ia menunggu kekasihnya yang pergi untuk membunuh iblis."
Percakapan sederhana cerpen tersebut menjadi kunci untuk memahami keseluruhan isi buku Iblis Tidak Pernah Mati karya Seno Gumira Ajidarma ini.
Di dalamnya tersimpan sebuah metafora yang begitu kuat, mulai dari kejahatan, keserakahan, kekerasan, hingga penyalahgunaan kekuasaan. Itu semua mungkin dapat dilawan, tetapi tidak pernah benar-benar musnah. Iblis selalu menemukan wajah baru untuk hidup kembali.
Kumpulan cerpen ini memuat karya-karya yang ditulis antara 1994 hingga 1999. Rentang waktu yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Periode tersebut mencakup tahun-tahun terakhir Orde Baru, ledakan Reformasi 1998, hingga masa-masa awal transisi menuju era baru. Karena itulah, membaca buku ini terasa seperti membuka kapsul waktu yang berisi ketakutan, kemarahan, harapan, sekaligus trauma kolektif bangsa.
Namun, yang membuat buku ini istimewa bukanlah semata-mata karena ia berbicara tentang sejarah. Seno Gumira Ajidarma berhasil mengubah fakta politik menjadi sastra yang hidup. Ia tidak menulis laporan jurnalistik, tetapi menghadirkan suasana, emosi, dan luka yang sering kali gagal ditangkap oleh berita dan dokumen resmi.
Sinopsis dan Struktur Buku
Buku ini terdiri atas lima belas cerpen yang dibagi ke dalam empat bagian besar: Sebelum, Ketika, Sesudah, dan Selamanya.
Pada bagian "Sebelum", pembaca diajak menyaksikan gejala-gejala keretakan rezim melalui cerpen seperti "Kematian Paman Gober", "Dongeng Sebelum Tidur", dan "Sembilan Semar".
"Kematian Paman Gober" menjadi salah satu cerpen paling mengesankan. Melalui tokoh bebek terkaya di dunia, Seno menyindir kekuasaan yang rakus dan dipuja-puja. Cerpen ini terbit pada 1994, ketika kekuasaan Orde Baru masih tampak kokoh. Karena itu keberanian Seno terasa luar biasa. Kritiknya tidak berteriak, tetapi justru menusuk melalui alegori.
Dalam "Sembilan Semar", kegelisahan masyarakat mulai menemukan bentuk. Tokoh Semar yang muncul berulang kali seolah menjadi simbol suara rakyat yang perlahan bangkit dari ketakutan.
Bagian "Ketika" adalah jantung buku ini. Di sinilah terdapat cerpen-cerpen seperti "Pada Suatu Hari Minggu", "Taksi Blues", "Jakarta, Suatu Ketika", dan mahakarya yang paling sering dibicarakan, "Clara atawa Wanita yang Diperkosa".
Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa "Clara" merupakan puncak emosional kumpulan cerpen ini. Cerita tersebut lahir hanya beberapa minggu setelah Tragedi Mei 1998. Ketika banyak pihak masih menyangkal kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa, Seno justru menghadirkan suara korban ke ruang sastra.
Membaca "Clara" bukan sekadar membaca cerita. Ia adalah pengalaman emosional yang menyakitkan. Rasa marah, sedih, ngeri, dan tidak berdaya bercampur menjadi satu. Seno menunjukkan bahwa ada penderitaan yang bahkan tidak mampu dijelaskan oleh bahasa.
Seperti salah satu kutipan yang sangat membekas, "Dunia sebatas mata, dunia seluas pikiran."
Bagian "Sesudah" menghadirkan suasana yang berbeda. Jika sebelumnya pembaca menyaksikan ledakan kemarahan, kini yang tersisa adalah kesunyian setelah badai. Cerpen seperti "Partai Pengemis", "Tujuan: Negeri Senja", "Kisah Seorang Penyadap Telepon", "Cinta dan Ninja", "Patung", "Anak-Anak Langit", dan "Eksodus" dipenuhi nuansa melankolis.
Saya sangat terkesan dengan "Kisah Seorang Penyadap Telepon" yang menghadirkan kritik tentang pengawasan dan kontrol negara secara cerdas. Sementara "Anak-Anak Langit" dan "Eksodus" menghadirkan potret kemiskinan dan keterasingan yang begitu menyayat.
Kutipan berikut terasa sangat relevan hingga hari ini, "...mereka berusaha lepas lari tak ingin tahu tak ingin mengerti tak sudi menatap kemiskinan yang begitu kelam..."
Bagian terakhir, "Selamanya", hanya berisi satu cerpen, yaitu "Karnaval". Di permukaan, cerita ini tampak meriah. Reformasi telah datang, pesta rakyat berlangsung, harapan bermunculan.
Namun di balik kemeriahan itu, masih tersimpan kesedihan yang belum selesai. Seolah Seno ingin mengatakan bahwa tumbangnya sebuah rezim bukanlah akhir dari perjuangan. Iblis hanya berganti topeng.
Relevansi dengan Zaman Sekarang
Inilah alasan mengapa Iblis Tidak Pernah Mati tetap terasa segar meskipun telah berusia lebih dari seperempat abad. Isu-isu yang dibicarakan dalam buku ini belum benar-benar hilang. Keserakahan penguasa, penggusuran, kemiskinan, propaganda, pengawasan terhadap warga, manipulasi informasi, kekerasan aparat, hingga ketidakadilan sosial masih menjadi persoalan yang terus berulang.
Judul buku ini terasa seperti ramalan yang terus terbukti.
"Harus ada seseorang yang melawan iblis, meskipun iblis tidak pernah mati."
Kalimat tersebut bukan hanya pesan pembuka buku, melainkan juga peringatan moral bagi setiap generasi.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kekuatan terbesar buku ini terletak pada kemampuan Seno memadukan sastra, sejarah, dan politik tanpa kehilangan kualitas artistiknya. Ia tidak menggurui pembaca. Ia mengajak pembaca merasakan.
Gaya bertuturnya sangat visual. Banyak adegan terasa seperti bidikan kamera yang bergerak perlahan menangkap fragmen-fragmen tragedi. Tidak heran jika banyak pembaca merasa seolah sedang menyaksikan foto hidup atau dokumenter yang bergerak di depan mata.
Selain itu, keberanian Seno dalam menulis kritik politik pada masa ketika kebebasan berekspresi masih dibatasi menjadikan buku ini memiliki nilai historis yang luar biasa.
Di sisi lain, simbolisme yang sangat tebal dapat menjadi tantangan bagi sebagian pembaca. Beberapa cerpen, terutama seperti "Tujuan: Negeri Senja", membutuhkan pemahaman terhadap konteks sosial-politik Indonesia agar maknanya dapat ditangkap secara utuh.
Pembaca yang tidak akrab dengan sejarah Orde Baru mungkin akan merasa tersesat di antara metafora dan alegori yang berlapis-lapis. Dibandingkan karya-karya yang lebih langsung, beberapa cerita dalam buku ini memang menuntut kesabaran dan perenungan lebih mendalam. Namun justru di situlah kekhasan Seno berada. Ia tidak menawarkan jawaban, melainkan ruang tafsir.
Iblis Tidak Pernah Mati bukan sekadar kumpulan cerpen. Ia adalah arsip emosi sebuah bangsa yang sedang terluka. Ia adalah saksi tentang bagaimana kekuasaan dapat mengubah manusia menjadi monster, sekaligus bagaimana sastra mampu menjaga ingatan agar luka sejarah tidak lenyap ditelan waktu.
Dari "Kematian Paman Gober", "Sembilan Semar", "Taksi Blues", "Jakarta, Suatu Ketika", "Clara atawa Wanita yang Diperkosa", hingga "Karnaval", Seno Gumira Ajidarma menghadirkan potret Indonesia yang mengerikan sekaligus mengharukan.
Ketika halaman terakhir ditutup, yang tersisa bukanlah rasa lega, melainkan kesadaran bahwa perjuangan melawan ketidakadilan tidak pernah benar-benar selesai. Sebab, seperti yang diingatkan Seno dengan getir dan jujur, iblis memang tidak pernah mati, tetapi selama masih ada orang yang berani mengingat, menulis, dan melawan, harapan juga tidak akan pernah mati.
Identitas Buku
- Judul: Iblis Tidak Pernah Mati
- Penulis: Seno Gumira Ajidarma
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Cetakan: I, November 2024
- Tebal: 176 Halaman
- ISBN: 978-623-186-442-0
- Genre: Fiksi/Cerpen