Ulasan

Mencintai yang Berbeda: Mengapa Novel 'Kisah Seekor Camar dan Kucing' Wajib Anda Baca

Mencintai yang Berbeda: Mengapa Novel 'Kisah Seekor Camar dan Kucing' Wajib Anda Baca
Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang karya Luis Sepulveda. (Dok.Pribadi/Taufiq)

Bagi penikmat sastra Amerika Latin, nama Luis Sepúlveda mungkin sudah identik dengan Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta. Namun, kali ini Sepúlveda menghadirkan kisah yang lebih ringan namun mendalam melalui seri Mekar terbitan Marjin Kiri. Sampulnya yang menampilkan ilustrasi kucing hitam besar dan anak camar putih karya Svetlana Kharcuk seolah langsung membisikkan inti cerita yang hangat di dalamnya.

Semua bermula saat Zorbas, seekor kucing hitam yang gemuk dan makmur, tiba-tiba bertemu dengan Kengah, seekor camar yang sekarat akibat terperangkap tumpahan minyak di laut. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Kengah memberikan wasiat yang mustahil: Zorbas harus menjaga telurnya, tidak memakannya, dan yang paling ajaib, mengajari anak camar itu terbang. Bagi seekor kucing pelabuhan, janji adalah harga diri. Zorbas pun berkomitmen menjalankan misi yang melampaui kodratnya tersebut.

Kawanan Kucing dan Ensiklopedia yang Jenaka

Zorbas tidak sendirian. Solidaritas kucing pelabuhan membawa kita bertemu dengan karakter-karakter unik seperti Kolonel sang pemilik restoran, Secretario yang setia, hingga Profesor yang tinggal di gudang buku milik mantan pelaut bernama Harry. Profesor adalah karakter yang paling memicu tawa sekaligus kejengkelan; ia sangat "sotoy" dengan ensiklopedianya yang sering kali justru membuat urusan tambah runyam.

Interaksi mereka digambarkan dengan sangat hidup, lengkap dengan diksi "meongan" sebagai pengganti "omongan" yang memperkuat atmosfer dunia binatang. Dinamika persahabatan mereka, termasuk bantuan dari Banyubiru sang kucing laut, memberikan bumbu komedi yang segar di tengah misi "keibuan" Zorbas yang mendesak.

Suara Protes di Balik Cerita Anak

Sepúlveda, yang dikenal sebagai aktivis politik dan pejuang lingkungan, tidak sekadar menulis fabel. Sebagaimana ia menyuarakan kerusakan Amazon dalam karya sebelumnya, lewat buku ini ia menyoroti dampak mengerikan pencemaran laut akibat kapal tanker minyak. Sosok Kengah adalah wujud protes Sepúlveda terhadap keserakahan manusia yang merusak ekosistem.

Namun, di sisi lain, ia juga menunjukkan bahwa masih ada harapan melalui karakter-karakter baik di pelabuhan. Ia seolah ingin menyampaikan bahwa meskipun manusia adalah perusak utama, kemanusiaan (yang justru dalam buku ini direfleksikan oleh para kucing) masih bisa ditemukan melalui kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.

Zorbas: Sang "Ibu" Berbulu Hitam

Tema keluarga dan persahabatan dalam novel ini sangat kuat. Zorbas yang kekar dan maskulin tiba-tiba harus berperan sebagai seorang "Ibu", menjaga telur agar tetap hangat dan melindungi si piyik dari gangguan kucing liar. Momen ketika telur menetas dan si anak camar mencicit "Mami!" kepada kucing hitam besar itu adalah puncak komedi sekaligus keharuan yang luar biasa.

Zorbas membuktikan bahwa kasih sayang tidak mengenal batas spesies, dan peran mengasuh bukanlah hak prerogatif gender tertentu. Jika kisah ini divisualisasikan, kita mungkin akan teringat pada karakter ikonik seperti Garfield atau Puss in Boots, namun dengan kedalaman emosi yang jauh lebih pekat.

Kesimpulan

Khas novel Amerika Latin, buku ini tipis namun padat makna, sebuah "novel sekali duduk" yang akan membekas seumur hidup. Meskipun ditulis dengan gaya yang menyenangkan dan diterjemahkan secara ciamik oleh Ronny Agustinus, ada rasa sesak saat menyadari bahwa Luis Sepúlveda telah berpulang pada 16 April 2020 akibat Covid-19. Karya ini adalah warisan indah bagi kita semua untuk belajar mencintai mereka yang berbeda dari kita, karena seperti kata para kucing pelabuhan: "Sangat mudah untuk menerima dan mencintai mereka yang mirip dengan kita, tetapi mencintai mereka yang berbeda adalah sesuatu yang luar biasa."

Identitas Buku:

  • Judul: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang
  • Penulis: Luis Sepulveda
  • Penerjemah: Ronny Agustinus
  • Penerbit: Marjin Kiri
  • Tahun: 2020
  • Genre: Fiksi
  • Tebal: vi+90 halaman
  • ISBN: 978-602-0788-06-7

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda