Ulasan

Problematika Finansial Generasi Muda dalam Kami Bukan Jongos Berdasi

Problematika Finansial Generasi Muda dalam Kami Bukan Jongos Berdasi
Novel Kami Bukan Jongos Berdasi. (Dok. Pribadi/ Chairun Nisa)

Kami Bukan Jongos Berdasi merupakan buku kedua dari seri Kami (Bukan) karya JS Khairen, yang dikenal dengan gaya “abang-abangan gondrong”-nya. Cukup melelahkan mengikuti perjuangan para alumni Kampus Udel yang bertahan di dunia kerja. Narasinya sangat tengil, sebagaimana karakter penulisnya. 

Sinopsis

Fokus cerita dalam buku ini terpecah pada semua tokohnya. Setiap tokoh memiliki masalah masing-masing yang saling berkaitan dan memiliki penyelesaian sendiri. Jadi, jika ditanya siapa tokoh utama dalam buku ini, jawabannya adalah para alumni Kampus Udel itu sendiri: Sania, Randi, Arco, Juwisa, Ogi, Gala, serta dosen mereka, Bu Lira, ditambah beberapa tokoh pendamping yang cukup kuat.

Cerita ini terbagi menjadi beberapa episode, totalnya 43. Episode awal menceritakan keseharian Sania yang bekerja di bank EEK (Emirates Equity of Kathar). Malangnya, Sania harus berkutat dengan job desk yang bukan bagiannya, supervisor yang sangat galak bernama Mbak Laksmi, gaji di bawah Rp 4 juta, lembur sampai malam, serta pulang dengan kereta yang sesak. Pekerjaan ini begitu mencekik. Sania memang betulan tidak kompeten kerjanya. Sering menonton Youtube saat kerja hingga melimpahkan bagiannya kepada team worknya.

Anehnya, saat kondisi finansialnya tercekik rekening kosong Sania justru berani meminjam uang di situs pinjol dengan bunga 20% demi gengsi dalam lingkaran pertemanan yang sangat toksik, bahkan untuk menonton konser Coldplay di Singapura. Cara berpikirnya terasa janggal; ia mengira gaji satu-dua bulan cukup untuk melunasi pinjol, padahal justru masa depannya semakin suram. Mimpinya menjadi diva perlahan terkubur, meskipun ia sempat masuk grup band The Poetry yang lumayan memiliki penonton. Setelah memutuskan resign, Sania sempat bekerja di distributor makanan, tetapi terjadi kecurangan. Ia pun banting setir, memanfaatkan gelar bisnisnya menjadi tukang sayur di pasar demi membantu emak dan bapaknya.

Mereka kemudian mengadakan reuni: Sania, Randi, Arco, Juwisa, Gala, serta Bu Lira. tTanpa Ogi, yang masih berkutat di Amerika dengan pekerjaannya di Alphabet Inc. Randi sendiri menjadi wartawan DNN yang, menurut Sania, merusak moral anak bangsa dengan menciptakan judul-judul yang sangat clickbait dan tidak berkualitas. Hidup Randi terbilang lurus: kuliah, bekerja, lalu ingin menikah, tetapi ia belum menemukan pasangan yang tepat meski sudah berkali-kali berpacaran. Ia juga pontang-panting dalam pekerjaannya sebagai wartawan, sering gagal, bahkan demi "tiket emas" promosi, ia nekat naik pesawat kelas bisnis dan menghabiskan dua tabungannya sekaligus untuk meliput peletakan batu pertama IKN.

Juwisa memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan S2 melalui jalur LPDP, tetapi sangat sulit, apalagi dengan latar belakang lulusan Kampus Udel yang kurang dilirik. Bahasa Inggrisnya pun belum baik, sehingga ia harus pontang-panting mengikuti bimbingan belajar, bekerja sebagai pramubakti di Kuy Clean, sekaligus menunggu antrean pendaftaran CPNS. Ia juga bekerja sama dengan Arco sebagai Wedding Organizer (WO) yang cukup menghasilkan.

Namun, di tengah kehidupannya yang hampir mulus sebagai anak baik-baik dengan julukan si ubin masjid yang tidak pernah berbuat jahat dan selalu membantu siapa pun Juwisa justru diputus kerja sama oleh mitranya karena masalah sepele. Ia kemudian mengalami kecelakaan saat naik ojek online yang berujung pada amputasi kaki dan tangan, padahal ia baru saja diterima di Kementerian Pertanian. Nasibnya sangat menyedihkan hingga ia pulang kampung dalam kondisi depresi.

Arco melalang buana ke Eropa sebagai fotografer dan enggan menyelesaikan kuliahnya, meskipun mendapat tuntutan menikah dari ibunya. Sementara itu, adiknya yang masuk fakultas kedokteran justru lebih mandiri. Kekasih Arco sendiri adalah seorang bule Italia.

Ogi hanya hadir sebagai latar melalui percakapan telepon. Ia tidak mendapat porsi besar, kecuali saat menerima curahan hati dari teman-temannya atau berbincang dengan Bu Lira. Bu Lira sendiri, meskipun seorang dosen bergelar S3, tetaplah manusia biasa. Di usianya yang sudah kepala tiga, ia kerap ditanya soal pernikahan, bahkan ada nuansa baper dengan Ogi. Ia juga mendapat tawaran besar dari Pak Prabu untuk proyek di Sumba Timur, yang kisahnya memiliki novel tersendiri berjudul Melangkah.

Gala menjalani hidup yang relatif lurus. Ia berasal dari keluarga kaya dan menikah dengan orang yang dicintainya. Ia sempat memiliki mimpi besar mendirikan sekolah di daerah pegunungan, tetapi harus merintis dari nol karena ayahnya tidak ingin ia menjadi manja. Ia pun memulai karier sebagai guru di sekolah swasta.

Semua kawan ini selalu saling mendukung, bahkan dalam kondisi sulit seperti utang-piutang atau kekurangan finansial. Meski terkadang menjengkelkan karena yang ngutang justru lebih galak saat ditagih mereka tetap saling bertahan. Mereka hidup di kota megapolitan yang padat, panas, macet, dengan persaingan kerja yang luar biasa penuh aksi jilat sana jilat sini.

Namun, pada akhirnya, mereka mampu lepas dari label “jongos berdasi” dan menemukan jati diri masing-masing sebagai manusia. Di tengah pekerjaan, baik dan buruk selalu ada tidak bekerja susah, bekerja pun susah benar-benar menjadi budak dunia.

Gaya Bahasa dan Kesimpulan

Bahasa dalam novel ini terasa sangat tengil, khas gaya JS Khairen—penuh bunyi-bunyian yang nyeleneh dan hidup, seperti “ajigijaw”, “gempar menggelegar”, “makjos”, hingga “wash, wesh, wosh” yang bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Gaya ini membuat narasi terasa ramai, liar, sekaligus dekat dengan realitas anak muda.

Dunia aslinya ternyata tidak seceria gaya bicaranya. Kena mental dari rekan kerja sampai keluarga sudah jadi makanan sehari-hari. Dicemooh gara-gara ingin berkarya malah dianggap hal biasa. Karena tiap hari harus menelan ejekan dan perlakuan kasar, lama-lama mereka menjadi terbiasa dan merasa bahwa hidup keras memang sudah seharusnya begitu.

Identitas Buku

Judul: Kami Bukan Jongos Berdasi
Penulis: JS Khairen
Tahun Terbit: Cetakan Kedua, April 2024
ISBN: 978-602-05-3080-2
Penerbit: Grasindo

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda