Ulasan
Film Ghost in the Cell: Horor Penjara yang Menampar Realita
Kalau dilihat dari luar, ‘Ghost in the Cell’ yang rilis 16 April 2026 ibarat film horor dengan konsep yang sudah familier: penjara, ketegangan, dan teror dari sesuatu yang nggak kelihatan. Namun, makin lama ditonton, atau bahkan cuma dipikirin, film ini pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang lebih ‘mengganggu’, bukan karena hantunya, tapi karena maknanya. Penasaran? Lanjut kepoin, yuk!
Ceritanya sendiri terkait Dimas, diperankan Endy Arfian, mantan jurnalis yang terjebak di dalam sistem penjara yang keras dan dipenuhi banyak tekanan. Di tempat itu, hal-hal aneh mulai terjadi. Narapidana mati satu per satu dengan cara yang nggak masuk akal, dan semuanya mengarah ke satu hal. Ada sesuatu yang hidup. di dalam sana.
Apakah sebatas gangguan semata? Tentunya nggak, ya. Dan Sobat Yoursay layak untuk tahu banyak dengan menonton filmnya langsung.
Review Film Ghost in the Cell

Yang bikin film ini terasa beda adalah bagaimana penjara itu sendiri diperlakukan. Ini bukan sekadar lokasi. Ini adalah metafora dari dunia kecil yang mewakili sesuatu yang lebih besar. Kepala sipir, napi, hierarki kekuasaan, semuanya terasa seperti cerminan dari realita sosial yang lebih luas.
Di dalam penjara itu, kita ketemu banyak karakter dengan latar yang beragam. Ada Anggoro yang dimainkan Abimana Aryasatya, sosok yang kuat, misterius, dan menyimpan banyak rahasia. Lalu ada Pendi dari Lukman Sardi, yang karakternya terasa lebih ‘grounded’, tapi tetap menyimpan tekanan batin.
Nggak ketinggalan juga karakter-karakter lain yang bikin dunia penjara ini terasa hidup: Irfan (Dimas Danang Suryonegoro), Tokek yang nyeleneh tapi memorable (Aming Sugandhi), Wildan (Mike Lucock), sampai Six yang diperankan Yoga Pratama.
Belum lagi deretan nama lain: Morgan Oey sebagai Bimo, Tora Sudiro sebagai Anton, dan Rio Dewanto sebagai Endy. Mereka semua punya ruang masing-masing, walau nggak semuanya digali dalam.
Yang menarik, meskipun banyak ensemble cast, filmnya tetap terasa fokus. Namun, di sisi lain, di sinilah salah satu catatan kecilnya. Beberapa karakter terasa punya potensi besar tapi nggak dikasih jeda ‘bernapas’ lebih panjang.
Balik lagi ke horornya. Hantu di film ini bukan tipe yang asal muncul buat nakut-nakutin. Horornya terasa punya ‘logika’ yang memilih. Menargetkan orang-orang yang penuh dengan emosi negatif—marah, dendam, frustrasi. Dan di titik itu, film ini berubah jadi sesuatu yang lebih reflektif.
Aku merasa, ini bukan sekadar cerita tentang teror, tapi tentang bagaimana sistem bisa membentuk kondisi batin manusia. Penjara yang keras, aturan yang timpang, dan tekanan yang terus menumpuk. Semuanya menciptakan energi negatif. Dan energi itu, di film ini, jadi sesuatu yang ‘hidup’.
Cara Joko Anwar menyampaikan hal ini juga menarik. Dia nggak bersembunyi di balik simbolisme yang terlalu rumit. Banyak hal disampaikan dengan cukup jelas, bahkan cenderung frontal. Yang mana itu membuat penonton nggak perlu menebak terlalu jauh untuk memahami pesannya.
Meski begitu, film ini nggak melulu berat. Ada momen-momen yang terasa ringan, bahkan absurd. Perpaduan horor dan komedi di sini terasa cukup pas. Kadang kamu lagi tegang, lalu tiba-tiba dipatahkan dengan situasi yang bikin ketawa tipis.
Beberapa adegan kematian juga dibuat dengan gaya yang unik. Nggak cuma seram, tapi juga punya sentuhan seni yang bikin pengalaman nontonnya jadi beda.
Kendati begitu, beberapa kejadian terasa terlalu kebetulan, seperti dipaksakan demi mendorong cerita. Dan seperti yang tadi aku bilang, beberapa karakter sampingan, yang sebenarnya diperankan aktor-aktor kuat, nggak diberi ruang cukup untuk ‘bernapas’ alias berkembang. Padahal dengan cast sekuat ini, potensi eksplorasinya besar banget.
Walau begitu,Film Ghost in the Cell tetap terasa sebagai eksperimen yang berani. Film yang bukan cuma ingin menakuti, tapi juga ingin menyampaikan sesuatu. Tentang sistem, ketidakadilan, juga perihal manusia yang perlahan berubah karena tekanan.
Sudahkah Sobat Yoursay nonton film keren ini? Tontonlah sebelum turun layar! Selamat nonton, ya.