Ulasan

Menembus Kabut Silosanen Jember: Perjalanan yang Tak Selamanya Mulus

Menembus Kabut Silosanen Jember: Perjalanan yang Tak Selamanya Mulus
Pemandangan di pintu kebun PTPN XII Silosanen (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Perjalanan itu dimulai dari halaman rumah kami di Ledokombo, pagi yang masih menyisakan embun di ujung daun. Saya, istri, dan anak berangkat dengan satu sepeda motor. Sederhana, tapi penuh harap. Mesin dinyalakan, lalu perlahan kami meninggalkan gang kecil yang akrab, menuju arah pegunungan yang samar terlihat di kejauhan. Tujuan kami jelas, puncak kebun PTPN XII Silosanen.

Sejak keluar dari Ledokombo, jalan mulai berubah. Tidak lagi lurus dan bersahabat, melainkan berkelok seperti pita panjang yang dibentangkan di punggung bukit. Desa pertama yang kami lalui adalah Lembengan. Udara terasa lebih segar, sawah-sawah terbentang, dan sesekali terlihat petani yang sudah mulai bekerja sejak pagi.

Memasuki wilayah Suren, kontur jalan mulai menanjak. Motor yang kami tumpangi harus bekerja lebih keras. Di kiri-kanan jalan, pepohonan mulai rapat, menggantikan pemandangan sawah dengan kebun-kebun yang hijau dan rimbun. Anak saya sesekali menunjuk ke arah pepohonan, mungkin takjub melihat betapa berbeda suasana dari kampung kami.

Perjalanan berlanjut ke Sempolan. Di sini, jalan semakin menantang. Tikungan tajam datang silih berganti, seolah menguji keberanian dan kehati-hatian. Kadang saya harus memperlambat laju kendaraan hingga hampir berhenti untuk memastikan tidak ada kendaraan dari arah berlawanan. Udara semakin dingin, dan kabut tipis mulai menggantung di beberapa titik.

Memasuki kawasan Silo, suasana benar-benar berubah. Jalan menjadi lebih sempit, hanya cukup untuk satu mobil. Jika berpapasan dengan sepeda motor lain, salah satu harus mengalah dengan sedikit turun ke bahu jalan. Rasanya seperti sedang meniti batas antara aman dan bahaya. Apalagi di beberapa sisi, jurang curam menganga di sebelah kiri, tertutup pepohonan lebat yang membuatnya tampak lebih dalam dari yang sebenarnya.

Ketegangan memuncak ketika kami berpapasan dengan sebuah truk besar pengangkut material. Jalan yang sempit dan berada di tikungan tajam membuat situasi menjadi sangat menegangkan. Saya menghentikan motor, mencoba menjaga keseimbangan, sementara truk itu perlahan merayap melewati kami. Roda-rodanya seolah hanya beberapa senti dari tepi jurang.

Dalam hati, saya hanya bisa berdoa. Angin berhembus pelan, tapi terasa berat. Setelah truk itu lewat, saya menarik napas panjang. Istri saya tersenyum tipis, mungkin sama-sama lega.

Perjalanan terus berlanjut menuju Pace dan akhirnya Silosanen. Di sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan tanaman khas perkebunan, yaitu kopi, karet, hingga beberapa tanaman tinggi yang menaungi jalan seperti lorong alami. Sesekali terlihat bunga-bunga liar dengan warna cerah, menyelip di antara hijau yang dominan.

Kebun Silosanen Sumber Tengah

PT Perkebunan Nusantara I Regional 5, Kebun Silosanen Sumber Tengah (Dok.Pribadi/Fathorrozi)
PT Perkebunan Nusantara I Regional 5, Kebun Silosanen Sumber Tengah (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Di sebuah pertigaan, kami melihat papan nama besar bertuliskan PT Perkebunan Nusantara I Regional 5, Kebun Silosanen Sumber Tengah. Dari titik itu, terdapat jalur menuju Sumberlanas dan Baban, yang juga dikenal sebagai Mulyorejo, sebuah kampung tersembunyi yang dikelilingi pegunungan dan lembah. Membayangkannya saja sudah terasa seperti dunia lain yang sunyi dan damai, jauh dari hiruk pikuk kota.

Semakin mendekati tujuan, jalan terasa semakin menantang, namun juga semakin indah. Pepohonan tinggi berdiri seperti penjaga setia, sementara udara pegunungan menyapa dengan kesejukan yang menenangkan.

Pemandangan di Puncak Kebun PTPN XII Silosanen

Pohon-pohon dengan bunga kuning di pintu kebun PTPN XII Silosanen (Dok.Pribadi/Fathorrozi)
Pohon-pohon dengan bunga kuning di pintu kebun PTPN XII Silosanen (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Dan akhirnya, kami tiba di pintu masuk perkebunan PTPN XII Silosanen. Semua rasa tegang sepanjang perjalanan seolah luruh seketika.

Dari titik itu, pemandangan terbentang begitu luas dan menakjubkan. Rumah-rumah tampak berjejer rapi di kejauhan, dikelilingi hamparan hijau yang tak berujung. Pepohonan berdiri anggun, dan di antaranya terlihat pohon-pohon dengan bunga kuning yang mencolok, seolah menjadi lukisan alam yang hidup.

Kami berhenti sejenak. Mesin motor dimatikan. Hanya ada suara angin dan sesekali kicau burung.

Di momen itu, saya sadar bahwa perjalanan yang penuh tikungan tajam, tanjakan curam, dan jalan sempit yang mendebarkan, semuanya terbayar lunas dengan keindahan yang tersaji di depan mata.

Bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat, tapi perjalanan yang menghadirkan cerita, rasa takut, harapan, dan akhirnya, kekaguman yang tak mudah dilupakan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda