Ulasan
Lebih dari Sekadar Kungfu: Mengapa Tai Chi Master adalah Film Jet Li yang Paling Ngenes?
Pertarungan Jet Li dan Collin Chou dalam The Bodyguard From Beijing saja sudah kerasa badass, mengingat keduanya berperan sebagai musuh. Nah, justru ada satu film yang membuatku ngenes sekaligus termotivasi oleh Jet Li yang berjudul Tai Chi Master.
Melansir Mydramalist, Tai Chi master adalah film bergenre aksi, thriller, drama, dan komedi besutan sutradara Yuen Woo Ping. Film ini resmi rilis pada 18 November 1993, yang nggak hanya menyajikan unsur martial arts khas Jet Li, tetapi juga budaya dan politik yang entah kenapa selalu relate di setiap masa.
Film berdurasi 1 jam 36 menit ini bisa ditonton lewat Prime Video, Apple TV, dan Tubi ya. Pastikan, kamu siapkan mental dulu sebelum menonton.
Persahabatan yang Retak Karena Harta, Tahta, Wanita
Tai Chi Master mengisahkan dua sahabat yang menempuh pendidikan di akademi Shaolin guna memperdalam ilmu bela diri. Mereka adalah Zhang Junbao (Jet Li) dan Dong Tian Bao (Chin Siu Ho). Keduanya begitu kompak entah dalam belajar, menjahili guru, sampai menerima hukuman. Tipikal sahabat sejati.
Suatu hari saat menjalani ujian bela diri, Tian Bao memergoki adanya peserta yang menggunakan senjata tajam, yang mana ini dilarang. Karena sifatnya yang agak temperamental, Tian Bao justru membunuh orang itu sehingga dia lantas dikeroyok oleh siswa lainnya. Salah satu biksu Shaolin lantas mengusir Tian Bao dan Junbao demi menyelamatkan keduanya, sekaligus melepas mereka ke dunia luar. Dengan wejangan: Bahwa bela diri adalah untuk kebaikan.
Setelah berkelana lama nan jauh, mereka berdua bertemu Siu Lin (Michelle Yeoh) seorang wanita yang suaminya direbut oleh putri bangsawan, dan berjumpa dengan prajurit Tiongkok dimana Tian Bao memutuskan untuk bergabung sedangkan Junbao tidak. Semula, keduanya tetap berkomunikasi dengan baik kendati sudah berbeda jalan. Pun Tian Bao kerap membawa oleh-oleh dari hasil gajinya. Namun, sifat asalnya mulai keluar sewaktu dia disuguhi oleh harta, tahta, dan wanita, sehingga dengan beringas justru memburu Junbao dan Siu Lin.
Akankah Junbao lolos dari kejaran Tian Bao?
Film Bernuansa Shaolin Khas Era 90-an
Kendati aku menontonnya pada tahun 2000an, tetapi film ini langsung memberikan kesan mendalam. Sinematografinya memang sederhana, dengan berfokus pada akademi Shaolin yang khas dengan penampilan para biksu-biksu yang fasih menguasai martial arts dan kungfu. Lengkap dengan busana biru keabu-abuan, take terbang-terbang khas wuxia, dan setting lokasi ala zaman baheula serta kehadiran para prajurit dengan tombak dan perisai khas Tiongkoknya. Betul-betul film autentik sih bagiku.
Disokong dengan kinerja ahli bela diri yakni Jet Li yang terkenal dingin, Michelle Yeoh yang terkenal sebagai pendekar wanita, dan Chin Siu Ho yang kerap membintangi film-film vampir sebagai murid tangkas tetapi kocak.
Tentu saja hal ini memperkuat fondasi film kungfu sehingga plotnya terasa natural dan berkharisma. Bukannya hambar dan ampas yang cuman mengandalkan teknik editing semata.
Wajah Setegas Jet Li Dipaksa Merasuki Komedi
Nuansa Shaolin dalam film apapun kerap menyuguhkan esensi komedi yang seru abis. Terutama seni merecoki dan menjahili guru yang senantiasa relate bahkan denganku sendiri. Kendati murid hobi menjahili guru, tetapi nggak sampai ekstrem sebagaimana kasus-kasus belakangan ini ya. Kami tetap menghormati guru, dan guru setia membimbing serta memberikan nasihat-nasihat bijak.
Disini pun disajikan kehidupan para murid dan proyeksi kehidupan lanjutan mereka. Ada yang menempuh jalan terjal tetapi selamat, ada juga yang menempuh jalan pintas dengan jurang di ujungnya. Presentasi semacam ini terasa lebih menusuk, ketimbang cuman omon-omon semata.
Aku sendiri terpukau dengan bagaimana film ini masih bisa menyusupkan komedi ketika konfliknya memanas. Terlebih Jet Li dan Michelle Yeoh dipaksa mengemban part komedi ketika Chin Siu Ho menjelma villain. Namun, mengingat sorot mata ketiganya, Chin Siu Ho memang layak menerima peran musuh dalam selimut, ketika Jet Li dan Michelle Yeoh masih terjebak dalam kesedihan dan depresi yang berujung sawan. Kocak parahlah mereka disini tuh.
Budaya Klasik yang Relate di Masa Apapun
Terlepas dari aktor dan aktris yang memang memiliki background ahli bela diri asli, aku sangat terpukau dengan bagaimana film ini disajikan. Bahwasanya lelaki bakal goyah pendiriannya ketika dihadapkan pada harta, tahta, dan wanita.
Tian Bao sukses memproyeksikan bagaimana hal itu terjadi. Meskipun dieksekusi ala budaya klasik, tetapi entah kenapa masih bisa kita temui hingga sekarang.
Aku nggak akan memungkiri bahwa kekuasaan mampu membutakan orang, tetapi nggak akan menyangkal bahwa kebajikan dan kebenaran senantiasa menang. Walau butuh waktu yang lama. Ibarat pepatah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga maupun bangkai busuk yang disimpan akhirnya terendus juga.
Skip Waktu Terasa Terburu-buru, dan Kemenangan Terasa Semu
Kendati film ini berupaya memproyeksikan bahwa kebenaran selalu menang, tetapi eksekusi time skip-nya berasa kecepetan. Part sedih dan kecewa atas penghianatan seorang sahabat sangat pendek, dan ujug-ujug jatuh gila. Meski memang ekspresi wajah dan sorot mata kosong Jet Li sudah mewakili, tetapi harusnya bisa lebih sengsara lagi ya.
Aku bukan penikmat genre kesedihan, tapi asli scene sedihnya tuh kurang sengsara lagi.
Kemudian saat akhirnya dua kubu bebuyutan bertarung habis-habisan, aku justru menyadari bahwa settingannya berasa banget. Dari kacamata fiksi, sah-sah saja kalau dua orang mampu mengalahkan sekian puluh atau ratus prajurit. Namun dari logika, itu nggak logis bahkan terkesan dipaksakan. Kemenangan Jet Li dan Michelle Yeoh memang manis, tetapi rasanya agak semu mengingat mereka dikisahkan berhasil menumbangkan rezim dan dinasti.
Lagi-lagi, film ini bukan cuma menyuguhkan pertarungan semata, tetapi sisi pendewasaan mental dan adu strategi mendalam.
Konsepnya Persahabatan Platonis, Bukan Romantis
Sedari awal, Tai Chi Master memang fokus pada isu persahabatan, penghianatan, dan martial arts. Kendati ada sepucuk konflik antara Siu Lin dan suaminya, tetapi jatuhnya light bahkan nggak berkesan.
Film lebih fokus pada pertemanan Junbao dan Tian Bao yang mirip Naruto dan Sasuke, kendati Tian Bao nggak tobat-tobat. Esensi dari nilai moral maupun sosialnya dieksekusi ciamik, tapi jujur aku ketar-ketir saat isu rezimnya diangkat. Walaupun film ini dirilis pada 1993 tetapi kiprah budaya dan politiknya masih gencar ditemui sampai sekarang.
Kalau menurutku, film ini sebaiknya ditonton oleh usia 13 tahun ke atas mengingat sisi martial arts-nya yang pakem dan nyaris mendominasi plot. Namun untuk pengajaran moral kemungkinan mulai bisa dipahami untuk usia 15 tahun ya.
Secara lengkap, aku memberikan nilai 9/10 untuk Tai Chi Master.
Identitas Film
- Judul: Tai Chi Master
- Sutradara: Yuen Woo Ping
- Genre: aksi, thriller, drama, komedi
- Rilis: 18 November 1993
- Saluran: Prime Video, Apple TV, Tubi
- Negara Asal: Hong Kong
- Bahasa: Cantonese
- Durasi: 1 jam 36 menit