Ulasan

Horor Gunung Welirang: Kesalahan Fatal Pendakian di Film Dusun Mayit (2025)

Horor Gunung Welirang: Kesalahan Fatal Pendakian di Film Dusun Mayit (2025)
Cuplikan Scene Dusun Mayit (IMDB)

Film horor Dusun Mayit yang dirilis pada 31 Desember 2025 ini terinspirasi dari kisah misteri ditemukannya jenazah mengenaskan salah satu pendaki Gunung Welirang. Mengangkat kisah mitos desa gaib dan konsekuensi ketika manusia mengabaikan batas antara dunia nyata dan dunia spiritual.

Pesan yang ingin disampaikan cukup relevan dengan fenomena pendakian massal yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Disutradarai oleh Rizal Mantovani dan diproduksi oleh Hitmaker Studios, Legacy Pictures, serta Masih Belajar Project.

Film ini berdurasi 1 jam 35 menit, menghadirkan Amanda Manopo sebagai Yuni, Ersya Aurelia sebagai Nita, Fahad Haydra sebagai Aryo, dan Randy Martin sebagai Raka.

Sinopsis Dusun Mayit

Cerita berpusat pada empat mahasiswa yang memutuskan mendaki Gunung Welirang. Aryo, Nita, dan Yuni merupakan pendaki pemula yang belum pernah naik gunung sebelumnya. Satu-satunya yang mengaku sebagai pencinta alam adalah Raka.

Awalnya perjalanan mereka dipenuhi canda dan semangat petualangan, namun situasi berubah ketika Nita menendang sebuah sesajen di gunung itu. Saat itu, ia menganggap sepele semua hal termasuk meremehkan teman-temannya yang terbilang lambat dalam berjalan.

Namun keadaaan tenang tak berlangsung lama. Mereka mulai keluar dari jalur dan tersesat. Keanehan bertambah saat mereka justru menemukan pasar di tengah gunung.

Anehnya, masyarakat tidak menanggapi setiap mereka bertanya. Hingga kejadian mengerikan saat Yuni dan Aryo menemukan Nita yang menjilat darahnya sendiri. Ternyata, mereka memasuki wilayah misterius yang dikenal sebagai Dusun Mayit.

Film ini seolah mengingatkan bahwa alam bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang yang harus dihormati, baik dari sisi lingkungan maupun nilai budaya yang hidup di sekitarnya.

Dari sisi atmosfer, Dusun Mayit cukup berhasil membangun rasa tidak nyaman. Ketegangan muncul bukan hanya melalui kemunculan makhluk gaib, tetapi juga dari ketidakpastian yang dialami para tokohnya.  Keunggulan terbesar film ini adalah keberaniannya mengangkat cerita yang berakar pada budaya lokal Indonesia sehingga terasa lebih dekat dan autentik. 

Namun, sebagai seseorang yang aktif dalam kegiatan pecinta alam dan pernah beberapa kali melakukan pendakian gunung, saya melihat ada sejumlah hal yang cukup mengganggu dari sisi representasi dunia pendakian.

Kelebihan dan Kekurangan

Masalah paling mencolok terletak pada karakter Raka. Sebagai satu-satunya tokoh yang mengaku pencinta alam, ia seharusnya menjadi sosok yang memahami standar keselamatan dasar dalam pendakian.

Kenyataannya, hampir tidak terlihat adanya briefing atau pengarahan sebelum keberangkatan. Tiga rekannya yang sama sekali belum pernah mendaki justru diajak naik gunung tanpa persiapan yang memadai.

Dalam dunia pendakian nyata, seorang pendaki berpengalaman biasanya akan menjelaskan perlengkapan wajib, kondisi jalur, manajemen logistik, hingga etika selama berada di gunung. Pemeriksaan perlengkapan sebelum berangkat merupakan prosedur dasar yang tidak boleh diabaikan, terlebih jika membawa pendaki pemula. Sayangnya, aspek ini nyaris tidak ditampilkan dalam film.

Selain itu, perjalanan mereka terlihat berlangsung tanpa perencanaan matang. Tidak ada pembahasan mengenai rute, kondisi cuaca, cadangan logistik, maupun prosedur darurat. Akibatnya, ketika masalah mulai muncul, penonton yang memahami dunia pendakian mungkin akan merasa bahwa berbagai kesulitan yang dialami tokoh-tokohnya sebenarnya dapat dicegah sejak awal.

Kelemahan lain yang cukup disayangkan adalah desain makhluk gaib utama. Akting para pemeran sebenarnya cukup solid dan mampu membangun emosi dalam berbagai adegan menegangkan. Namun, kesan horor yang sudah susah payah dibangun justru berkurang ketika sosok hantu utama muncul di layar.

Bentuknya terasa janggal dan kurang meyakinkan. Alih-alih menyeramkan, tampilannya lebih menyerupai perpaduan antara buto ijo, pegulat sumo, dan makhluk berlendir berukuran raksasa. Beberapa adegan yang seharusnya memunculkan rasa takut justru memancing tawa karena desain visual yang terlihat absurd.

Padahal, dengan cerita yang cukup kuat dan akting pemain yang baik, penggunaan desain makhluk yang lebih sederhana kemungkinan akan menghasilkan efek yang jauh lebih efektif. Dalam horor, terkadang apa yang tidak terlihat justru lebih menakutkan daripada monster yang ditampilkan secara penuh.

Dusun Mayit tetap menawarkan pengalaman menonton yang cukup menarik berkat cerita yang berakar pada mitos lokal dan suasana misteri yang terjaga hingga akhir. Namun, kelemahan pada aspek pendakian dan desain hantunya membuat film ini belum mampu mencapai potensi maksimalnya.

Identitas Film

  • Judul: Dusun Mayit 
  • Sutradara: Rizal Mantovani 
  • Rumah Produksi: Hitmaker Studios, Legacy Pictures, dan Masih Belajar Project 
  • Tahun Rilis: 2025
  • Durasi: 1 Jam 35 Menit 

Pemeran Utama:

  • Amanda Manopo sebagai Yuni
  • Ersya Aurelia sebagai Nita
  • Fahad Haydra sebagai Aryo
  • Randy Martin sebagai Raka
  • Anya Zen sebagai Amari
  • Bambang Gundhul sebagai Mbah Surop

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda