Ulasan
Hansel and Gretel: Dongeng Klasik yang Berubah Jadi Aksi Berdarah
Dongeng Hansel and Gretel karya Grimm Bersaudara selama ini identik dengan kisah dua anak yang tersesat di hutan, menemukan rumah dari permen, lalu berhasil lolos dari penyihir pemakan anak. Namun, bagaimana jika kisah itu tidak berhenti setelah penyihir mati?
Bagaimana jika pengalaman traumatis tersebut justru mengubah keduanya menjadi pemburu penyihir paling ditakuti? Pertanyaan itulah yang menjadi dasar lahirnya Hansel & Gretel: Witch Hunters.
Disutradarai sekaligus ditulis oleh Tommy Wirkola bersama Dante Harper, film berdurasi 88 menit ini merupakan reinterpretasi modern dari dongeng klasik dengan balutan aksi, horor, dan fantasi gelap. Dirilis pada Januari 2013, film ini dibintangi Jeremy Renner sebagai Hansel, Gemma Arterton sebagai Gretel, dan Famke Janssen sebagai Muriel, penyihir kuat yang menjadi musuh utama.
Sinopsis Hansel and Gretel
Film membuka cerita dengan versi yang masih setia pada dongeng aslinya. Hansel dan Gretel kecil ditinggalkan ayah mereka di tengah hutan hingga menemukan rumah kue milik seorang penyihir. Berbeda dengan kisah anak-anak yang biasa dibacakan sebelum tidur, pengalaman tersebut menjadi trauma yang membentuk masa depan mereka. Setelah berhasil membunuh sang penyihir, keduanya tumbuh menjadi pemburu bayaran profesional yang mengabdikan hidupnya untuk memburu para penyihir jahat.
Lima belas tahun kemudian, nama Hansel dan Gretel telah dikenal di berbagai wilayah. Mereka dipanggil ke kota Augsburg setelah sejumlah anak menghilang secara misterius. Di balik penculikan itu terdapat Muriel, penyihir yang sedang mempersiapkan ritual saat fenomena Blood Moon demi memperoleh kekuatan dan keabadian. Misi penyelamatan anak-anak tersebut perlahan membawa Hansel dan Gretel mengungkap rahasia masa lalu keluarga mereka, termasuk alasan mengapa mereka mampu bertahan hidup dari serangan penyihir ketika masih kecil.
Dari sisi konsep, film ini sebenarnya menawarkan ide yang cukup segar. Dongeng yang selama ini identik dengan cerita anak diubah menjadi tontonan dewasa yang dipenuhi senjata modern, ledakan, pertarungan brutal, dan makhluk-makhluk mengerikan.
Hansel tidak lagi digambarkan sebagai anak kecil yang ketakutan, melainkan pemburu penyihir yang tangguh dan memiliki kekebalan terhadap sihir. Gretel pun tampil sebagai sosok perempuan kuat yang mampu bertarung setara dengan kakaknya.
Kelebihan dan Kekurangan
Visual menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Tommy Wirkola menyajikan berbagai adegan aksi dengan tempo cepat dan koreografi yang menghibur. Setiap pertarungan dipenuhi cipratan darah, tubuh yang tercabik, hingga efek praktikal yang cukup meyakinkan. Bagi penonton yang menyukai film aksi-horor dengan intensitas tinggi, Hansel & Gretel: Witch Hunters jelas mampu memberikan hiburan.
Adegan-adegan berdarahnya bahkan beberapa kali terasa cukup ekstrem. Ekspresi para penyihir, terutama Muriel, berhasil menghadirkan aura dingin dan mengintimidasi. Famke Janssen tampil cukup meyakinkan sebagai antagonis dengan tatapan tajam dan gestur yang membuat karakternya terasa mengancam. Beberapa penyihir lain juga memiliki riasan dan desain visual yang menyeramkan sehingga memperkuat nuansa fantasi gelap yang ingin dibangun film ini.
Sayangnya, keunggulan pada aspek visual tidak sepenuhnya diimbangi oleh kualitas cerita. Alur film terasa sangat sederhana dan mudah ditebak. Konflik berkembang mengikuti pola film aksi pada umumnya: memperkenalkan musuh, menyelesaikan misi, lalu mengungkap rahasia masa lalu tokoh utama menjelang akhir cerita. Hampir tidak ada kejutan besar yang benar-benar mampu mengubah arah cerita.
Pendalaman karakter juga menjadi kelemahan yang cukup terasa. Hansel dan Gretel memang tampil karismatik, tetapi latar belakang psikologis mereka kurang digali lebih dalam. Trauma masa kecil yang seharusnya menjadi fondasi utama cerita hanya disentuh sekilas. Demikian pula karakter Muriel yang sebenarnya memiliki potensi menjadi antagonis kompleks, tetapi akhirnya hanya berfungsi sebagai sosok jahat yang harus dikalahkan.
Rekomendasi Penonton
Film ini memang lebih berfokus pada aksi dibanding pengembangan narasi. Ketika adegan pertarungan berhenti, cerita terasa berjalan datar. Beberapa dialog pun terdengar klise sehingga sulit meninggalkan kesan mendalam.
Meski demikian, Hansel & Gretel: Witch Hunters tetap berhasil menjadi tontonan yang menghibur bagi penikmat aksi fantasi. Film ini tidak menawarkan cerita yang rumit atau penuh makna filosofis, tetapi mampu menyajikan reinterpretasi dongeng klasik dengan pendekatan yang berbeda. Perpaduan senjata modern, sihir, monster, dan adegan laga yang intens membuat film ini memiliki identitas tersendiri di antara adaptasi dongeng lainnya.
Jika mencari film dengan plot kompleks, penonton mungkin akan merasa kurang puas. Namun, bagi mereka yang ingin menikmati aksi tanpa banyak berpikir, lengkap dengan pertarungan brutal dan atmosfer fantasi gelap, film ini masih layak menjadi pilihan hiburan yang menyenangkan.
Identitas Film
- Judul: Hansel and Gretel
- Sutradara: Tommy Wirkola
- Penulis: Dante Harper
- Tanggal Rilis: 25 Januari 2013
- Genre: Aksi, Horor, Fantasi Gelap
- Durasi: 1 jam 28 menit
- Studio Produksi: Paramount Pictures, MGM, Gary Sanchez Productions, MTV Films
Pemeran Utama:
- Jeremy Renner sebagai Hansel
- Gemma Arterton sebagai Gretel
- Famke Janssen sebagai Muriel
- Peter Stormare sebagai Sheriff Berringer