Ulasan
Membaca Doorstoot naar Djokja: Menyelami Hari-Hari Paling Genting Indonesia
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Namun, proklamasi bukanlah garis akhir perjuangan. Justru setelah kemerdekaan diumumkan, Republik Indonesia harus menghadapi berbagai upaya Belanda untuk kembali menguasai Nusantara.
Salah satu episode paling menentukan terjadi pada Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948, yang menjadi fokus utama buku Doorstoot naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer karya Julius Pour.
Diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada 2009 dengan ketebalan 438 halaman, buku ini tidak sekadar mengisahkan penyerbuan Belanda ke Yogyakarta. Julius Pour justru mengajak pembaca memahami bagaimana sebuah bangsa mempertahankan eksistensinya di tengah serangan militer, tekanan diplomasi, dan perbedaan pandangan di antara para pemimpinnya.
Isi Buku
Judul Doorstoot naar Djokja sendiri merujuk pada operasi militer Belanda yang dikenal sebagai Operatie Kraai atau Operasi Burung Gagak. Serangan dimulai tepat tengah malam pada 19 Desember 1948. Ribuan tentara KNIL dengan dukungan pesawat tempur bergerak menuju Lapangan Udara Maguwo. Pasukan payung Korps Speciale Troepen (KST) diterjunkan untuk menguasai bandara sebagai pintu masuk menuju jantung ibu kota Republik Indonesia yang saat itu berada di Yogyakarta.
Belanda berharap serangan kilat tersebut mampu menghancurkan pemerintahan Republik sekaligus melumpuhkan Tentara Nasional Indonesia. Strategi ini dirancang mengikuti pola operasi militer modern yang mengandalkan serangan udara untuk menciptakan kepanikan, disusul infiltrasi pasukan elite yang bergerak cepat merebut pusat pemerintahan.
Namun, kekuatan terbesar buku ini bukan hanya pada rekonstruksi jalannya operasi militer Belanda. Julius Pour justru memperlihatkan drama yang berlangsung di dalam tubuh Republik sendiri. Ketika bom mulai dijatuhkan dan pasukan Belanda bergerak menuju kota, muncul perbedaan pandangan antara pemimpin sipil dan militer mengenai langkah yang harus diambil.
Presiden Soekarno memilih tetap berada di Yogyakarta. Ia meyakini kehadirannya akan memperkuat posisi diplomasi Indonesia di mata dunia apabila akhirnya ditawan Belanda. Sebaliknya, Panglima Besar Jenderal Soedirman bersikeras meninggalkan kota untuk memimpin perang gerilya. Baginya, seorang panglima tidak boleh tertangkap karena akan menghancurkan moral pasukan.
Pesan Bung Karno kepada Soedirman menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam buku ini. "Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan perang bersama pasukanmu. Tempatmu bukan tempat pelarianku." Kalimat itu bukan sekadar dialog, melainkan gambaran bahwa kedua tokoh besar tersebut memiliki strategi berbeda, tetapi sama-sama bertujuan mempertahankan Republik.
Julius Pour berhasil menunjukkan bahwa perbedaan pendapat itu bukanlah pertentangan pribadi, melainkan konsekuensi dari posisi dan tanggung jawab masing-masing. Pemimpin sipil melihat peluang melalui jalur diplomasi internasional, sedangkan militer percaya bahwa perlawanan bersenjata adalah cara mempertahankan harga diri bangsa.
Kelebihan dan Kekurangan
Yang menarik, buku ini ternyata tidak hanya berkutat pada penyerbuan Yogyakarta. Julius Pour memperluas narasi hingga Solo, Bukittinggi, Batavia, Den Haag, New Delhi, bahkan Konferensi Meja Bundar. Pembaca juga diajak mengikuti perjuangan tokoh-tokoh seperti Kolonel Slamet Riyadi, Mas Achmadi, Sjafruddin Prawiranegara, Sultan Hamengku Buwono IX, hingga berbagai tokoh yang kelak memiliki peran besar dalam sejarah Indonesia.
Sentuhan "petite histoire" atau sejarah kecil menjadi nilai tambah buku ini. Misalnya kisah persaingan antarkomandan, cerita Corps Mahasiswa yang anggotanya kelak menjadi tokoh nasional, hingga pengalaman pribadi beberapa pelaku sejarah yang menyaksikan langsung agresi Belanda. Detail-detail semacam ini membuat sejarah terasa hidup, bukan sekadar deretan tanggal dan nama.
Julius Pour juga menyisipkan sejumlah fakta menarik. Salah satunya mengenai rencana awal Belanda yang hendak menunjuk Kapten Raymond Westerling sebagai pemimpin operasi penyerbuan Yogyakarta. Namun, Westerling akhirnya dicopot setelah menuai kecaman internasional akibat berbagai tindakan represif yang dikaitkan dengannya.
Sulit membayangkan berapa banyak korban sipil yang mungkin berjatuhan apabila tokoh tersebut benar-benar memimpin operasi ke Yogyakarta.
Pesan Moral
Dari sisi penulisan, bahasa Julius Pour terasa ringan, mengalir, dan mudah dipahami. Ia mampu menggabungkan riset sejarah dengan teknik bertutur layaknya novel, sehingga ketegangan perang, kecemasan para pemimpin Republik, hingga dinamika diplomasi internasional dapat dinikmati tanpa membuat pembaca merasa sedang membaca buku akademik.
Pada akhirnya, Doorstoot naar Djokja bukan sekadar buku tentang Agresi Militer Belanda II. Buku ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah negara muda bertahan di tengah ancaman kehancuran, bagaimana perbedaan strategi tidak selalu berarti perpecahan, dan bagaimana perjuangan mempertahankan kemerdekaan dilakukan melalui senapan di hutan maupun diplomasi di meja perundingan.
Julius Pour berhasil mengingatkan bahwa sejarah Indonesia tidak dibentuk oleh satu tokoh atau satu peristiwa, melainkan oleh keberanian banyak orang yang memilih tetap berjuang ketika masa depan republik berada di ujung tanduk.
Identitas Buku
- Judul: Doorstoot naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer
- Penulis: Julius Pour
- Penerbit: Penerbit Buku Kompas
- Tahun Terbit: 2009
- Tebal: x + 438 halaman
- ISBN: 978-979-709-454-6