Gelaran Piala Asia U-20 resmi berakhir bagi Timnas Indonesia. Berada di grup C, Pasukan Garuda Nusantara tak mampu bersaing dengan Iran dan Uzbekistan yang keluar sebagai dua tim terbaik dan menjadi perwakilan grup di putaran selanjutnya.
Sebagai pelatih kesebelasan, Indra Sjafri tentunya menjadi pihak yang paling disorot di balik kegagalan ini. Bahkan, dalam lansiran laman PSSI (19/2/2025) sang pelatih menyampaikan permintaan maafnya, serta siap untuk dievaluasi terkait hasil minor yang diraih oleh anak asuhnya tersebut.
Indra Sjafri sendiri seolah kehilangan sentuhan magisnya ketika mendampingi Dony Tri Pamungkas dan kolega di gelaran kali ini. Ditargetkan mampu menyentuh babak empat besar, anak asuhnya justru babak belur di kaki Iran dan Uzbekistan dan tampil acak-acakan saat bersua dengan Yaman.
Bahkan, jika dianalisis lebih mendalam lagi, coach Indra juga seolah tak memiliki pakem andalan di Piala Asia U-20 lalu. Setidaknya, dalam tiga pertandingan yang dijalani oleh Pasukan Garuda Nusantara, sang pelatih selalu saja menerapkan formasi yang berbeda.
Berdasarkan data dari laman transfermarkt, dalam tiga laga tersebut Indra Sjafri memainkan formasi 4-2-3-1 saat berjumpa Iran, kemudian 5-4-1 saat melawan Uzbekistan, dan 4-3-3 saat melawan Yaman.
Uniknya, jumlah eksperimen formasi ini ternyata lebih banyak jika dibandingkan dengan yang dilakukan oleh Shin Tae-yong di turnamen resmi yang dijalaninya bersama Timnas Indonesia.
Terhitung, berdasarkan data dari match report transfermarkt, semenjak lolos ke ronde ketiga babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, coach Shin hanya dua kali melakukan perubahan formasi, yakni skema 5-4-1 di lima laga pertama, dan formasi 5-3-2 di laga terakhir melawan Arab Saudi pada bulan November 2024 lalu.
Uniknya, coach Shin bahkan tak melakukan eksperimen formasi di gelaran Piala AFF 2024 kemarin. Di mana pada empat laga melawan Myanmar, Laos, Vietnam dan Filipina sang pelatih hanya merapkan formasi 3-5-2 untuk dimainkan anak asuhnya.
Sehingga total dalam 10 laga terakhir yang dijalani bersama Timnas Indonesia, coach Shin hanya menerapkan 2 formasi saja, dan lebih sedikit daripada coach Indra yang dalam tiga pertandingan menerapkan tiga formasi berbeda.
Berkaitan dengan hal ini, apa mungkin coach Indra belum menemukan formasi andalan yang cocok dengan anak asuhnya ya? Sehingga dirinya masih terus saja bereksperimen meskipun sudah menjalani turnamen resmi?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Otak-atik Skuad Timnas di FIFA Series Tanpa Gelandang Serang: Apa Siasat John Herdman?
-
John Herdman, FIFA Series 2026 dan Lini Tengah Skuat Final yang Tak Lagi Jadi Dapur Pacu Serangan
-
Ironisme Skuat Final FIFA Series 2026: Saat Pemain Paling Menjanjikan Harus Ternafikan
-
Review Skuat Final FIFA Series 2026: Dipenuhi Pekerja Keras, tapi Minim Pemilik Kreativitas
-
Tetapkan Skuat Final, Ini 3 Titik Kelemahan Pasukan Garuda di FIFA Series 2026 Era John Herdman
Artikel Terkait
-
Semakin Terbukti di Lapangan, Indra Sjafri Tinggalkan Warisan dari Shin Tae-yong
-
Pujian Setinggi Langit Eks Manchester City untuk Calon Pemain Timnas Indonesia Dean James
-
Ole Romeny Sudah Resmi Pindah Federasi, Berpeluang Debut Lawan Australia
-
Joey Pelupessy: Denny Landzaat Adalah Ayah Sepak Bola Saya
-
Buntut Ricuh Lawan Persib, Persija Jakarta Dapat Sanksi Berat, Ini Daftarnya
Hobi
-
Resmi Diperkenalkan! Inilah Sosok Maple, Zavu, dan Clutch yang Akan Meriahkan Piala Dunia 2026
-
Moge Matic Rasa Manual, Honda X-ADV Bisa Oper Gigi Pakai Tombol
-
Alasan Logis di Balik Pemulangan Dean James: Demi Mental Pemain, Bukan Karena Performa!
-
Erick Thohir Optimis Timnas Indonesia Unjuk Energi Baru di FIFA Series 2026
-
Gara-Gara Ban, Verstappen Kehilangan Kemenangan di Balapan NLS2 Nurburgring