Sebuah keputusan yang cukup progresif dilakukan oleh induk sepak bola China, CFA beberapa waktu lalu. Pasca kepastian gagalnya The Dragons di ronde ketiga babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, federasi sepak bola tertinggi di Negeri Tirai Bambu tersebut memutuskan untuk mendepak Branko Ivankovic dari kursi kepelatihan Timnasnya.
Alasan yang dikemukakan oleh CFA pun cukup masuk akal. Mereka menilai, pelatih berkebangsaan Kroasia tersebut gagal memenuhi ekspektasi untuk meloloskan China ke Piala Dunia 2026, dan untuk bisa segera berbenah, mereka bergerak cepat untuk melakukan perombakan di tubuh tim.
Dalam proses pencarian pelatih anyar untuk menukangi timnasnya, nama mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong tiba-tiba saja mengemuka. Bukannya tanpa alasan, hal itu dikarenakan sang pelatih memang pernah menjadi target incaran CFA di tahun 2019 lalu, sebelum pada akhirnya mantan pelatih Korea Selatan tersebut memutuskan untuk memilih Indonesia untuk berlabuh.
Sehingga, wajar saja ketika China saat ini tengah mengalami kekosongan di posisi pelatih, nama Shin Tae-yong kembali dihubung-hubungkan dengan mereka. Meskipun menurut lansiran laman Suara.com (18/6/2025) belum terjadi komunikasi antara CFA dengan Shin Tae-yong, namun sejatinya kans STY untuk menakhodai China suatu saat nanti terbuka sangat lebar.
Pasalnya, STY sendiri menyatakan bahwa mejadi pelatih Timnas China merupakan sebuah hal yang cukup menarik, dan bisa saja jika tercipta kompromi antara dirinya dengan pihak CFA, maka dirinya bisa menjadi suksesor dari Branko Ivankovic yang dilengserkan beberapa hari lalu.
Dan jika nantinya hal itu benar adanya, di mana STY benar-benar melatih Timnas China, maka hal tersebut bisa menjadi sebuah jalan bagi sang pelatih untuk memberikan semacam "pelajaran" bagi persepakbolaan negeri ini.
Meskipun intensitas pertemuan antara Timnas Indonesia dan China tak akan setinggi pertemuan antara Timnas Indonesia dengan negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara imbas perbedaan wilayah sub-federasi di benua Asia, namun melatih Timnas China akan tetap membuka kans STY untuk berjumpa dengan Indonesia, atau setidaknya menunjukkan kualitasnya kepada pelaku sepak bola di negeri ini.
Momen terdekat yang bisa dijadikan STY untuk show-off kebolehannya dalam melatih, tentu saja gelaran Piala Asia 2027 di Arab Saudi. Dengan status Indonesia dan China yang berlaga di ronde ketiga babak kualifikasi Piala Dunia 2026, kedua negara ini secara otomatis telah mengamankan tiket di putaran final Piala Asia 2027 mendatang. Sehingga, Shin Tae-yong dan sang suksesor di Timnas Indonesia, yakni Patrick Kluivert bakal bisa saling beradu kebolehan di ajang level benua ini.
Dan tentu saja, jika kita melihat perkembangan terakhir Timnas Indonesia di bawah asuhan Kluivert, kita akan sepakat bahwa tim ini tengah mengalami permasalahan dalam hal konsep permainan. Berbeda halnya dengan saat masih ditangani oleh Shin Tae-yong dulu, pakem permainan Kluivert di empat laga yang dijalaninya bersama Pasukan Merah Putih masih belum sepenuhnya matang.
Masalah demi masalah yang dulunya bisa ditangani dengan baik oleh STY, kini mulai bermunculan, termasuk di antaranya adalah lini pertahanan yang kebobolan hingga 11 gol dalam empat pertandingan tersebut.
Dan ini yang bisa dijadikan jalan oleh STY untuk memberikan pembelajaran bagi persepakbolaan Indonesia. Dengan materi pemain yang ada, coach Shin kemungkinan besar bisa membuat Timnas China lebih bisa meningkat lagi level permainannya.
Statemen ini bukannya tanpa alasan, dengan materi pemain yang dimiliki oleh Indonesia saja STY bisa membawa Pasukan Garuda terbang tinggi, apalagi dengan materi pemain yang dimiliki oleh China, di mana bisa dikatakan sedikit lebih baik daripada milik Indonesia?
Dan patut diingat, coach Shin adalah tipikal pelatih yang pintar membangun sebuah tim dari kondisi minus. Jika dipercayai tugas untuk membangun Timnas China dengan segala dukungan sumber daya yang ada, tentunya tak bisa dibayangkan bagaimana mengerikannya skuat mereka di masa mendatang.
Jika coach Shin bisa membawa China jauh lebih berprestasi ketimbang Indonesia di ajang Piala Asia 2027 nanti, tentunya hal itu akan menjadi sebuah pembelajaran yang sangat tak mengenakkan bagi persepakbolaan Indonesia bukan?
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan
-
Jadi Guru Pembimbing Sekaligus Juri adalah Dilema, Ibarat Sudah Kalah Duluan Sebelum Mulai Lomba
-
Emansipasi atau Eksploitasi? Menggugat Seremonial Tahunan untuk Kartini di Bulan April
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
Artikel Terkait
-
Gerald Vanenburg Coret Pemain Persib dari Timnas U-23, Nama Diaspora Masuk?
-
PSSI Raih Gold FIFA Forward, Bukti Nyata Transformasi Sepak Bola Indonesia?
-
Dihantui Penampakan di Film Lorong Kost, Gibran Marten Kabur dari Tempat Penginapan
-
Bertarung di Ronde Keempat, Kekhawatiran Timnas Indonesia Kini Bukan Lagi tentang Komposisi Pemain!
-
Pupuk Indonesia Rombak Susunan Pengurus, Timses Prabowo Hingga Yovie Widianto Jadi Komisaris
Hobi
-
Jadwal MotoGP Prancis 2026: Ducati Masih Berupaya, Aprilia dalam Bahaya
-
Rekornya Terputus, Marco Bezzecchi Akui Tak Mudah Lawan Alex Marquez
-
Piala Presiden 2026: PSSI Rajin Garap Turnamen "Hura-Hura", Lupa Prioritas Piala Indonesia
-
Kesulitan Pakai Motor GP26, Marc Marquez Enggan Kembali Gunakan Motor Lama
-
GILA! Mesin Ferrari F355 Dipasang ke Motor, Tenaganya 375 HP Brutal!
Terkini
-
Saatnya Mengaku: Kita Scrolling Bukan Mencari Hiburan, Tapi Lari dari Kenyataan
-
Paradoks Digital Nomad: Penyelamat Ekonomi atau Penjajahan Modern?
-
Suara Kerekan dari Sumur Tua di Belakang Rumah Ainun
-
Menyusuri Gelap Kota di Taksi Malam: Antara Realita dan Moral yang Rapuh
-
4 Serum Lokal Vitamin C untuk Cegah Kulit Kusam dan Lelah Akibat Polusi