Kesuksesan besar yang diraih Ducati dalam era MotoGP saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran orang-orang penting di dalamnya, baik pendiri, teknisi, tim, sampai pembalap.
Meskipun Ducati tampak bersinar terang sejak meraih kejuaraan dunia tahun 2022 lalu bersama pembalapnya, Pecco Bagnaia, perlu diketahui bahwa sebelumnya pabrikan asal Italia ini sudah melakukan perubahan signifikan bersama satu pembalap lain.
Andrea Dovisiozo adalah sosok pembalap Ducati yang paling terkenal dari tim ini, jejaknya begitu penting dalam sejarah tim tersebut. Pembalap asal Italia ini menjadi bagian penting dari kebangkitan Ducati setelah masa-masa sulit pasca-era Casey Stoner.
Dovizioso bergabung dengan tim pabrikan asal Bologna itu pada tahun 2013, saat performa motor Desmosedici masih jauh dari kata kompetitif. Namun perlahan, melalui konsistensi, kerja keras, dan semangat untuk berubah, dia mengubah wajah Ducati menjadi penantang tangguh di barisan depan.
Puncak pencapaian Dovi bersama Ducati terjadi selama periode 2017 hingga 2019, saat ia secara konsisten mengakhiri musim di posisi runner-up kejuaraan dunia.
Dalam tiga musim berturut-turut itu, ia berduel sengit dengan Marc Marquez, pembalap yang kala itu tengah berada dalam performa puncak bersama Honda. Dovi memberikan perlawanan yang luar biasa di banyak balapan, bahkan beberapa kali memenangi duel langsung melawan Márquez, terutama dalam pertarungan dramatis di lap terakhir.
Sayangnya, gelar juara dunia memang belum pernah singgah ke tangannya. Posisi kedua klasemen menjadi pencapaian tertingginya, tapi tetap menjadi bukti betapa kuatnya ia sebagai pembalap sekaligus tulang punggung tim.
Selama delapan musim bersama Ducati, Dovizioso mengoleksi 13 kemenangan, naik podium sebanyak 39 kali, dan meraih 7 pole position. Angka-angka ini menunjukkan betapa besarnya kontribusinya terhadap perkembangan teknis dan strategi Ducati, yang kemudian menjadi fondasi kesuksesan mereka di musim-musim setelah kepergiannya.
Namun, di balik semua prestasi tersebut, hubungan antara Andrea Dovizioso dan tim, terutama Gigi Dall’igna, tidak selalu harmonis. Kabarnya, sejak 2019, komunikasi antara Dovi dan Dall’igna mulai renggang.
Penyebabnya adalah perbedaan pandangan di antara keduanya, terutama soal arah pengembangan motor dan strategi tim yang menurut Dovizioso tidak sesuai dengan masukan yang ia berikan.
Tahun 2020 menjadi titik akhir dari perjalanan panjang Dovi bersama Ducati. Selain mengalami penurunan performa yang cukup drastis, suasana di dalam tim pun saat itu mulai terasa tidak sehat. Banyak terdengar kabar miring dari dalam garasi mereka.
Ketegangan internal semakin memuncak, dan pembicaraan mengenai perpanjangan kontrak pun akhirnya menemui jalan buntu. Pada akhirnya, Dovizioso memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan kariernya sebagai pembalap reguler MotoGP. Ia pun meninggalkan Ducati, tanpa adanya perpisahan yang manis.
Waktu perlahan memberi ruang bagi Dovi untuk menenangkan diri dan menatap kembali apa yang telah ia capai di MotoGP. Meski begitu, tidak ada perkembangan yang terjadi soal hubungan Dovi dan Ducati.
Baru-baru ini, dalam sebuah kesempatan, ia menyampaikan pesan yang singkat kepada Gigi Dall’Igna. Tidak ada kalimat panjang atau ungkapan nostalgia, hanya dua kata sederhana, yakni “salam hormat”.
Sebuah ucapan yang bisa diartikan sebagai isyarat penerimaan, atau setidaknya bentuk penghargaan terhadap masa lalu yang pernah mereka jalani bersama, meskipun harus dilalui dengan pasang surut.
Andrea Dovizioso mungkin tidak pernah merasakan manisnya menjadi juara dunia, tetapi dedikasinya dalam membentuk landasan yang kokoh bagi Ducati tidak bisa dilupakan begitu saja.
Dovi sendiri menyadari bahwa dia pernah melewati masa-masa indah dengan Ducati, tapi bagaimanapun saat tujuan dan pikiran sudah tidak sejalan, maka berpisah adalah satu-satunya pilihan.
"Cerita berakhir karena banyak alasan. Delapan tahun yang intens, indah, dan sulit. Kami membawa Ducati ke level tertinfgi. Akan luar biasa jika kita menang bersama. Nakun, ketika nilai, tujuan, atau perilaku tidak lagi selaras, kita harus menerima bahwa sudah waktunya untuk berhenti," ujar Dovisiozo, dilansir dari laman MotoGP News.
Andrea Dovisiozo adalah bagian dari sejarah besar Ducati, seorang pejuang yang mengubah Ducati dari tim medioker menjadi penantang gelar yang diperhitungan di MotoGP. Meski relasi keduanya tidak berakhir manis, warisan yang ia tinggalkan akan selalu abadi.
Baca Juga
-
Kesulitan Pakai Motor GP26, Marc Marquez Enggan Kembali Gunakan Motor Lama
-
Kimi Antonelli Merasa Lebih Siap untuk F1 GP Miami 2026, Bakal Hattrick?
-
Tes Jerez 2026: Reaksi Pembalap Positif, MotoGP Bakal Makin Kompetitif
-
Jadwal F1 GP Miami 2026: Favorit Kimi Antonelli, Akankah Dia Menang Lagi?
-
Sadar Diri, Marc Marquez Mengaku Tak Punya Kekuatan untuk Rebut Gelar Juara
Artikel Terkait
Hobi
-
Piala Presiden 2026: PSSI Rajin Garap Turnamen "Hura-Hura", Lupa Prioritas Piala Indonesia
-
Kesulitan Pakai Motor GP26, Marc Marquez Enggan Kembali Gunakan Motor Lama
-
GILA! Mesin Ferrari F355 Dipasang ke Motor, Tenaganya 375 HP Brutal!
-
Kimi Antonelli Merasa Lebih Siap untuk F1 GP Miami 2026, Bakal Hattrick?
-
Venue Playoffs MPL ID S17 Diumumkan, Jakarta Velodrome Jadi Tuan Rumah
Terkini
-
4 Rekomendasi Sheet Mask Witch Hazel untuk Atasi Pori-Pori Besar dan Jerawat
-
Ulasan Novel Beauty Case, Membedah Obsesi Standar Kecantikan bagi Perempuan
-
4 Low pH Cleanser Panthenol Rp30 Ribuan, Perkuat Skin Barrier Kulit Kering
-
Di Balik Centang Biru: Kecemasan Baru dalam Komunikasi
-
Review Film Monster: Refleksi Diri tentang Prasangka Kita pada Orang Lain