Lintang Siltya Utami | Angelia Cipta RN
Timnas Paraguay: Generasi Baru La Albirroja Bakal Unjuk Gigi di Piala Dunia 2026 [Instagram/albirroja]
Angelia Cipta RN

Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan drama yang sulit dilupakan. Kali ini, Timnas Jerman harus mengakhiri langkah mereka lebih cepat setelah kalah adu penalti dari Paraguay pada babak 32 besar. Bermain di Gillette Stadium, Foxborough, duel berlangsung sengit selama 120 menit sebelum akhirnya Paraguay memastikan kemenangan 4-3 melalui babak tos-tosan usai skor imbang 1-1.

Sejak peluit awal dibunyikan, pertandingan berjalan sesuai karakter kedua tim. Jerman mencoba mendominasi penguasaan bola dengan permainan umpan pendek dan membangun serangan secara perlahan. Sementara itu, Paraguay memilih pendekatan yang lebih pragmatis. Mereka bertahan rapat, menunggu kesalahan lawan, lalu melancarkan serangan balik cepat.

Strategi Paraguay terbukti efektif. Meski lebih sedikit menguasai bola, mereka justru lebih berbahaya ketika memasuki area pertahanan Jerman. Setiap peluang dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga lini belakang Die Nationalelf tidak pernah benar-benar merasa nyaman.

Jerman sebenarnya beberapa kali mencoba membongkar pertahanan lawan melalui sisi sayap. Florian Wirtz, Leroy Sané, dan Kai Havertz terus bertukar posisi demi menciptakan ruang. Namun, rapatnya organisasi pertahanan Paraguay membuat berbagai upaya tersebut selalu kandas sebelum menghasilkan peluang bersih.

Menjelang turun minum, Paraguay berhasil mencuri keunggulan. Julio Enciso menyambut umpan silang dengan sundulan terarah yang gagal dijangkau Manuel Neuer. Gol itu menjadi pukulan telak bagi Jerman karena datang ketika mereka sedang menguasai jalannya pertandingan.

Babak pertama pun ditutup dengan keunggulan Paraguay, sekaligus memberi tekanan besar kepada skuad asuhan Julian Nagelsmann untuk bangkit setelah jeda.

Havertz Menyelamatkan Jerman, tetapi Keberuntungan Tidak Berpihak

Memasuki babak kedua, Jerman meningkatkan intensitas permainan. Tempo serangan dibuat lebih cepat agar pertahanan Paraguay tidak memiliki cukup waktu untuk kembali ke posisi. Perubahan tersebut langsung membuahkan hasil. Pada awal babak kedua, Kai Havertz berhasil menyamakan kedudukan melalui sundulan yang memanfaatkan umpan akurat dari Florian Wirtz. Gol itu membangkitkan semangat Jerman sekaligus mengubah arah pertandingan.

Setelah skor menjadi imbang, Die Nationalelf semakin agresif. Mereka terus menekan dari berbagai sisi lapangan, sementara Paraguay lebih banyak bertahan dan sesekali mengancam lewat serangan balik. Peluang demi peluang terus tercipta. Havertz hampir membawa Jerman berbalik unggul ketika kembali memenangkan duel udara, tetapi penyelamatan gemilang kiper Orlando Gill menjaga harapan Paraguay tetap hidup.

Tekanan Jerman semakin besar ketika pertandingan memasuki babak tambahan waktu. Mereka bahkan sempat merayakan gol kedua melalui sundulan Jonathan Tah dari situasi sepak pojok. Namun kegembiraan tersebut hanya berlangsung sesaat karena setelah tinjauan VAR, wasit menganulir gol akibat pelanggaran terhadap penjaga gawang Paraguay dalam proses terjadinya gol.

Keputusan tersebut menjadi salah satu momen paling menentukan dalam pertandingan. Mental pemain Jerman sedikit terganggu, sedangkan Paraguay semakin percaya diri mampu membawa laga menuju adu penalti. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 1-1 tidak berubah. Kedua tim pun harus menentukan nasib melalui drama adu penalti, momen yang selalu penuh tekanan bagi siapa pun.

Adu Penalti yang Mengubah Segalanya

Babak adu penalti menjadi ujian mental sesungguhnya. Tidak hanya kemampuan teknik yang diuji, tetapi juga ketenangan menghadapi tekanan puluhan ribu penonton dan harapan seluruh bangsa.

Jerman memulai adu penalti dengan hasil yang buruk. Kai Havertz yang dipercaya sebagai penendang pertama gagal menjalankan tugasnya. Paraguay memanfaatkan momentum tersebut dengan mencetak gol melalui eksekutor pertamanya dan langsung mengambil keunggulan. Joshua Kimmich dan Jamal Musiala sempat menghidupkan kembali harapan Jerman lewat eksekusi yang tenang.

Namun, Paraguay mampu menjaga keunggulan karena para penendangnya tampil sangat percaya diri. Drama kembali terjadi ketika Nick Woltemade gagal mencetak gol setelah tendangannya mampu dibaca kiper Paraguay. Beruntung bagi Jerman, Antonio Sanabria juga gagal memanfaatkan kesempatan untuk mengakhiri pertandingan lebih cepat.

Harapan Die Nationalelf sempat muncul lagi ketika Nadiem Amiri berhasil mencetak gol, disusul kegagalan Fabián Balbuena di kubu Paraguay. Sayangnya, peluang itu tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal. Jonathan Tah yang menjadi salah satu penendang berikutnya juga gagal menjalankan tugasnya.

Kesempatan terakhir akhirnya datang kepada José Canale. Bek Paraguay tersebut tampil tenang meski berada dalam tekanan besar. Tendangannya berhasil mengecoh Manuel Neuer dan memastikan Paraguay menang 4-3 dalam adu penalti sekaligus mengamankan tiket menuju babak 16 besar.

Bagi Paraguay, kemenangan ini menjadi bukti bahwa kerja keras, disiplin bertahan, dan mental yang kuat mampu mengalahkan tim dengan kualitas individu yang lebih tinggi. Mereka tampil sabar sepanjang pertandingan, bertahan dengan rapi, lalu menunjukkan ketenangan luar biasa ketika pertandingan ditentukan dari titik putih.

Sebaliknya, kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Jerman. Meski menguasai jalannya pertandingan dan menciptakan lebih banyak peluang, mereka gagal memaksimalkan dominasi tersebut menjadi kemenangan. Beberapa peluang emas yang terbuang, gol yang dianulir VAR, hingga kegagalan dalam adu penalti menjadi rangkaian peristiwa yang mengakhiri perjalanan Die Nationalelf di Piala Dunia 2026.

Kini Paraguay berhak melangkah ke babak 16 besar dengan penuh percaya diri. Sementara Jerman harus pulang lebih awal sambil melakukan evaluasi besar, karena sekali lagi Piala Dunia membuktikan bahwa penguasaan bola dan status unggulan tidak selalu menjamin kemenangan ketika efektivitas dan ketenangan menjadi faktor penentu.