Sekar Anindyah Lamase | Angelia Cipta RN
Potret pelatih Belanda, Ronald Koeman (New York Times)
Angelia Cipta RN

Kekalahan selalu menjadi bagian dari sepak bola. Namun, ada kekalahan yang meninggalkan luka jauh lebih dalam daripada sekadar tersingkir dari turnamen.

Itulah yang dialami Belanda di Piala Dunia 2026. Kekalahan dramatis melalui adu penalti dari Maroko bukan hanya mengakhiri perjalanan De Oranje, tetapi juga memicu efek domino yang memperlihatkan berbagai persoalan mendasar seperti pelatih mundur, pemain menjadi sasaran rasisme, dan publik kembali mempertanyakan arah sepak bola Belanda.

Ronald Koeman memilih mengakhiri masa jabatannya tak lama setelah kegagalan tersebut. Di saat yang sama, para pemain yang gagal mengeksekusi penalti justru menerima hujatan bernada rasial di media sosial.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa krisis yang dialami Belanda bukan hanya persoalan taktik di lapangan, tetapi juga menyangkut budaya sepak bola yang masih memiliki pekerjaan rumah besar.

Bukan Sekadar Kalah, Belanda Kehilangan Identitas Permainannya

Selama puluhan tahun, Belanda dikenal sebagai negara yang melahirkan filosofi sepak bola modern. Dari Total Football hingga generasi emas yang dihuni Johan Cruyff, Marco van Basten, Dennis Bergkamp, Wesley Sneijder, Robin van Persie, hingga Arjen Robben, identitas mereka selalu jelas dijadikan simbol sebagai tim yang berani menyerang, menguasai bola, dan memainkan sepak bola atraktif.

Sayangnya, identitas tersebut perlahan memudar.

Di bawah Ronald Koeman pada periode keduanya, Belanda justru tampil lebih berhati-hati. Pendekatan pragmatis memang terkadang menghasilkan kemenangan, tetapi sulit membangun keyakinan ketika kualitas individu pemain sebenarnya mampu menawarkan permainan yang lebih agresif.

Puncaknya terjadi saat menghadapi Maroko. Keputusan menggunakan lima bek menjadi simbol perubahan filosofi yang justru membuat Belanda kehilangan keberanian. Alih-alih mendominasi permainan, mereka lebih banyak bereaksi terhadap tekanan lawan.

Maroko mendapatkan ruang untuk berkembang, sementara Belanda terlihat kesulitan membangun serangan dengan ritme yang konsisten.

Masalah terbesar bukanlah formasi, melainkan hilangnya identitas. Sebuah tim nasional yang besar seharusnya mampu memaksakan gaya bermainnya kepada lawan, bukan justru menyesuaikan diri secara berlebihan. Ketika sebuah tim mulai bermain karena takut kalah, kreativitas perlahan menghilang.

Itulah yang terlihat dari Belanda sepanjang turnamen.

Koeman memang berhasil membawa stabilitas pada periode pertamanya. Namun pada periode kedua, ia gagal menemukan evolusi baru. Generasi pemain seperti Frenkie de Jong, Cody Gakpo, Xavi Simons, Justin Kluivert, hingga Quinten Timber belum pernah benar-benar tampil sebagai satu kesatuan yang utuh.

Akibatnya, Belanda tidak hanya kalah dalam pertandingan. Mereka kalah dalam pertarungan identitas yang selama ini menjadi kebanggaan sepak bola negeri tersebut.

Rasisme dan Tekanan Publik Menjadi Alarm yang Lebih Serius

Di balik kegagalan di lapangan, muncul persoalan yang jauh lebih memprihatinkan.

Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville menjadi sasaran komentar rasis setelah gagal dalam adu penalti. Fenomena seperti ini seharusnya sudah tidak memiliki tempat dalam sepak bola modern. Namun kenyataannya, setiap turnamen besar masih menghadirkan cerita serupa.

Ironisnya, para pemain yang selama ini dielu-elukan ketika tampil gemilang justru menjadi korban ketika mengalami kegagalan.

Kritik terhadap performa merupakan hal yang wajar dalam olahraga profesional. Namun menyerang identitas seseorang karena warna kulit atau latar belakang etnis adalah bentuk diskriminasi yang tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun.

Kasus ini mengingatkan publik pada insiden yang pernah dialami sejumlah pemain Inggris setelah final Euro 2020. Artinya, persoalan rasisme belum benar-benar selesai meski berbagai kampanye antirasis telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Federasi Sepak Bola Belanda memang mengambil langkah tegas dengan menempuh jalur hukum terhadap pelaku. Namun langkah hukum hanya menyelesaikan sebagian persoalan. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa kegagalan dalam sepak bola tidak boleh dijadikan alasan untuk menyebarkan kebencian.

Di sisi lain, keputusan Koeman mundur juga menunjukkan sisi manusiawi seorang pelatih. Ia mengakui bahwa kondisi kesehatan sang istri membuatnya melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda. Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa sepak bola, sebesar apa pun tekanannya, tetap bukan hal yang paling penting dalam hidup.

Bagi Belanda sendiri, mundurnya Koeman harus menjadi momentum evaluasi total. Federasi tidak cukup hanya mencari pelatih baru. Mereka harus menentukan kembali arah permainan tim nasional. Apakah tetap mempertahankan pendekatan pragmatis, atau kembali menghidupkan filosofi menyerang yang selama puluhan tahun menjadi identitas mereka.

Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi panggung kebangkitan generasi baru Belanda. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka pulang lebih cepat, kehilangan pelatih, dan menyisakan perdebatan panjang mengenai masa depan tim nasional.

Sepak bola Belanda masih memiliki banyak talenta berkualitas. Akan tetapi, bakat tanpa identitas tidak akan cukup membawa mereka bersaing dengan negara-negara yang kini berkembang jauh lebih cepat. Maroko menjadi bukti bahwa organisasi permainan, keberanian, dan kejelasan filosofi mampu mengalahkan nama besar.

Karena itu, kegagalan ini seharusnya tidak hanya dikenang sebagai kekalahan melalui adu penalti.

Ini adalah titik balik yang memaksa Belanda bertanya pada dirinya sendiri, apakah mereka masih ingin menjadi pelopor sepak bola modern, atau sekadar menjadi tim besar yang terus hidup dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu? Jika pertanyaan itu tidak segera dijawab dengan perubahan nyata, maka kegagalan di Piala Dunia 2026 bisa menjadi awal dari kemunduran yang lebih panjang daripada yang dibayangkan banyak orang.