Sering kali ketika seseorang menjadi korban perundungan (bullying), respons pertama yang ia terima justru kalimat, “Sabar, ya, dia cuma bercanda.” Sekilas terdengar ringan, tetapi sebenarnya ucapan itu menyepelekan rasa sakit yang sedang ia tanggung.
Seolah ejekan atau hinaan hanyalah gangguan kecil yang tidak layak dianggap serius. Padahal, jika kita mau berhenti sejenak, pantaskah sebuah “candaan” membuat seseorang merasa rendah diri?
Saat refleks kita adalah membela pelaku dan menyebut keluhan korban berlebihan, di saat itulah kita ikut menjaga budaya perundungan tetap berjalan. Mungkin ini waktunya melihat ulang keyakinan yang selama ini kita anggap “wajar.” Benarkah semua itu wajar?
Perundungan Tidak Terjadi Secara Mendadak
Perundungan tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dari kebiasaan, norma, dan pola interaksi yang dianggap lumrah. Penjelasan dari BBPMP Jawa Tengah menunjukkan bahwa pelaku perundungan umumnya minim empati. Artinya, ada nilai tentang menghargai manusia lain yang sudah tergeser sejak awal mereka dibentuk oleh lingkungannya.
Ketika ejekan, hinaan, dan candaan yang merendahkan dibiarkan menjadi bagian dari keseharian, perlahan perilaku itu dianggap normal. Pada titik ini, perundungan bukan lagi sekadar tindakan individu, melainkan cerminan budaya sosial yang tidak pernah dibenahi. Jika dibiarkan, pola itu akan terus berulang.
Lingkungan Berperan Besar Membentuk Sikap Seseorang
Baik keluarga, teman, maupun sekolah, semuanya berpengaruh besar pada cara seseorang memperlakukan orang lain. Menurut Alodokter, pola pengasuhan dan kondisi keluarga dapat mendorong kecenderungan anak melakukan perundungan. Ketika kekerasan, baik secara verbal maupun fisik, hadir sebagai bagian dari keseharian, anak bisa menganggapnya sebagai hal yang biasa.
Sekolah pun punya pengaruh besar. Ketika aturan tidak ditegakkan, empati tidak diajarkan, dan budaya saling menghormati tidak menjadi praktik nyata, perundungan bisa tumbuh subur. Dinas Pendidikan Purwakarta menekankan bahwa sekolah yang pasif terhadap kekerasan justru membuat pelaku semakin berani dan korban semakin takut bersuara.
Dengan kata lain, lingkungan bisa melahirkan pelaku sekaligus membuat korban merasa tidak berdaya. Maka, perundungan bukan sekadar masalah individu, melainkan masalah ekosistem sosial yang perlu diperbaiki bersama.
Mengapa Korban Sering Disalahkan?
Ucapan seperti “kamu terlalu sensitif” menunjukkan pola pikir lama: menyederhanakan masalah dengan menaruh beban pada orang yang terluka. Banyak orang memilih menutup mata dengan dalih “itu hanya bercanda.”
Padahal, menurut Alodokter, perundungan muncul dari rendahnya empati. Ketika masyarakat terus menyalahkan korban, pelaku merasa aman karena tidak ada yang menegurnya. Dari sinilah perundungan terus berulang.
Fokus Utama: Memperbaiki Akar Masalah
Memberantas perundungan tidak cukup hanya dengan menghukum pelaku. Yang lebih penting adalah membangun nilai dasar: empati, rasa hormat, dan tanggung jawab sosial. Banyak perilaku perundungan berawal dari ketidakmampuan memahami perasaan orang lain atau kebutuhan mencari pengakuan dengan cara menjatuhkan orang.
Karena itu, pendidikan karakter di rumah, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci. Membiasakan dialog, mengajarkan penghargaan terhadap harga diri orang lain, dan menghadirkan teladan dalam menghormati perbedaan mampu membangun lingkungan yang lebih sehat.
Lingkungan yang Peduli adalah Kunci
Pencegahan perundungan adalah tanggung jawab bersama. Lingkungan yang aman adalah tempat semua orang merasa nyaman berbicara jujur dan menolak perlakuan yang menyakitkan. Ketika orang dewasa hadir sebagai contoh yang tegas dan penuh empati, ruang bagi perundungan untuk berkembang otomatis menyempit. Dukungan kepada korban, baik melalui pendampingan maupun jalur pelaporan yang aman, juga sangat penting agar mereka merasa dilindungi.
Waktunya Menghentikan Siklus
Mengakhiri perundungan tidak cukup hanya dengan memberi hukuman lalu selesai. Selama candaan yang merendahkan dan komentar tajam dianggap sepele, luka itu akan terus ada. Perubahan dimulai dari hal sederhana: belajar memahami perasaan orang lain, memperbaiki cara pandang yang keliru, dan membiasakan sikap saling menghormati dalam keseharian. Perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus jauh lebih kuat dibandingkan tindakan hukuman sesaat.
Baca Juga
-
Dilema Cancel Culture: Kenapa Sulit Membenci Publik Figur yang Bersalah?
-
Hari Pertama Haid dan Tuntutan Perempuan untuk Tetap Kuat
-
Misteri Ikan Sapu-Sapu yang Tak Pernah Habis Dibasmi, Ternyata Biang Keroknya Kita Sendiri?
-
Gaji UMR Katanya Cukup, tapi Mau Jajan dan Healing Harus Mikir Seribu Kali
-
Upah Beda, Perjuangan Sama: Siasat Bertahan dengan Gaji UMK
Artikel Terkait
-
Safe Space Starts With You: Pentingnya Empati Saat Menulis Isu Bullying
-
Cyberbullying Bisa Lebih Kejam daripada Bullying Biasa, Mengapa?
-
Learned Helplessness: Saat Korban Bullying Sulit Melawan, Stop Menghakimi!
-
Sering Tak Dianggap, Ini Dampak Bullying Bagi Bystander
-
Generasi 'Lemah' atau Generasi Sadar Batas? Wajah Baru Dunia Kerja
News
-
Bukan Sekadar Ulang Tahun, Kirab Sultan HB X Wujud Kedekatan dengan Rakyat
-
Over Tourism Mengancam, Seberapa Efektif Pembatasan di Taman Nasional Komodo?
-
Bukan Visual Mewah, Justin Bieber Viral di Coachella Hanya Gara-gara Putar Video YouTube Lama!
-
Kasta Oren hingga Bangsa Mujaer: Rahasia Kucing Bisa Jadi Penawar Penat Kantor
-
Kampus Darurat Kekerasan Seksual: Menggugat Budaya Diam di Lingkungan Akademik
Terkini
-
Jadi Perempuan di Era Gen Z: Melanjutkan Mimpi Kartini dengan Cara Kita
-
Auto Plumpy! 4 Sheet Mask Oat Ini Jadi Penyelamat Kulit Dehidrasi
-
Tari Tradisional vs Dance Modern: Perjuangan 'The Mighty Sachi' Melawan Sistem di Sekolah
-
Drama The Judge Returns: Penyesalan, Waktu, dan Harga dari Sebuah Keputusan
-
Dari Surat Kartini ke Story Instagram: Cara Gen Z Menyuarakan Emansipasi