Mentari sore perlahan menurunkan sinarnya di ufuk barat ketika ombak kecil menyapu lembut pasir putih Pantai Tanjung Tinggi. Di antara batu-batu granit raksasa yang berdiri gagah, seorang nelayan tua bernama Pak Darwan tengah menambal jaringnya yang robek. Suara desir angin dan tawa anak-anak yang bermain di tepi pantai menjadi musik alami yang menenangkan hati siapa pun yang datang ke sini.
Sejak muda, Pak Darwan telah hidup dari laut. Ia mengenal setiap lekuk batu dan perubahan arus di sekitar pesisir ini. “Laut ini bukan hanya tempat mencari makan,” katanya sambil menatap jauh ke cakrawala, “tetapi juga guru yang mengajarkan kesabaran.”
Setiap fajar, ia akan berangkat dengan perahu kayu kecilnya, membawa harapan sederhana: cukup tangkapan untuk hari itu. Namun, baginya, keindahan pantai dan ketenangan laut adalah rezeki yang lebih besar daripada sekadar ikan.
Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang gadis muda bernama Rani sedang melukis. Ia datang dari kota untuk mencari inspirasi, dan pesisir Tanjung Tinggi menjadi tempat yang sempurna. Setiap goresan kuasnya menangkap warna langit yang berubah-ubah, dari biru muda menjadi jingga keemasan.
“Saya ingin melukis bukan hanya pemandangan, tetapi juga perasaan yang tumbuh di sini,” ujarnya pelan. Bagi Rani, pantai ini seperti kanvas kehidupan yang penuh cerita, kenangan, dan ketenangan.
Menjelang senja, warna langit semakin memukau. Cahaya oranye menari di permukaan air, memantul di antara batu-batu granit yang megah. Beberapa wisatawan mengambil foto, sementara penduduk lokal menata kembali perahu mereka yang baru bersandar.
Ada harmoni yang indah antara alam, manusia, dan waktu. Setiap detik di Tanjung Tinggi seolah mengajarkan bahwa keindahan sejati tidak perlu dirancang, ia tumbuh sendiri dari keseimbangan.
Di warung kecil dekat bibir pantai, aroma ikan bakar dan sambal kecap menggoda hidung. Ibu Sari, pemilik warung, menyapa ramah setiap pengunjung yang datang.
“Dulu pantai ini sepi, sekarang ramai. Tapi, semoga orang-orang tetap menjaga kebersihannya,” katanya sambil tersenyum. Ia percaya, laut yang bersih adalah warisan paling berharga untuk anak cucu.
Ketika matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, langit berubah menjadi ungu gelap. Suara jangkrik mulai menggantikan kicau burung. Pak Darwan menggulung jaringnya, Rani menutup buku sketsanya, dan ombak terus berbisik pelan di antara batu-batu raksasa. Pesisir Tanjung Tinggi kembali tenang, seolah beristirahat dari hiruk pikuk siang.
Di tempat itu, waktu seakan berhenti. Setiap butir pasir menyimpan cerita tentang manusia dan alam yang saling menjaga. Di balik setiap ombak yang datang dan pergi, selalu ada bisikan lembut yang mengingatkan bahwa keindahan sejati pesisir bukan hanya pada pemandangannya, tetapi juga pada kehidupan yang tumbuh di dalamnya.
Artikel Terkait
-
Rehabilitasi Mangrove Nasional: Menyelamatkan Garis Pesisir Indonesia
-
Berpotensi Ancam Wilayah Pesisir: Ini Suara untuk UU Konservasi
-
Migrasi Sunyi Nelayan: Ketika Laut Tak Lagi Menjanjikan Pulang
-
Akar Melawan Ombak: Perjuangan Komunitas Mangrove Menyelamatkan Pesisir
-
Dampak Pemanasan Global terhadap Ekosistem Pesisir Indonesia
News
-
Bukan Sekadar Hiburan, Pop Culture Juga Mekanisme Bertahan Hidup Manusia Modern di Era Digital
-
Prof. Zainal Arifin Mochtar: Menjaga Akal Sehat di Tengah Kemunduran Demokrasi
-
Bela Lula Lahfah, Reza Arap Tanggapi Tudingan 'Teman Mantan Istri Diembat' dengan Emosional
-
Guncang Panggung! Teater Nala di SMA Negeri 1 Purwakarta Tuai Apresiasi
-
Kesadaran Kolektif dan KUHP Baru: Apa Saja yang Perlu Diketahui?
Terkini
-
Novel Jangan Bercerai, Bunda: Sebuah Cermin Retak Rumah Tangga
-
Comeback BTS Cetak Sejarah! Pre-Order Album ARIRANG Tembus 4 Juta Kopi dalam Seminggu
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
Rilis di Tiongkok, Vivo Y500i Ditenagai Baterai 7200 mAh dan Isi Cepat 44W
-
Kulit Kering? 5 Rekomendasi Body Butter Shea Butter Terbaik Mulai Rp 20 Ribuan