Di era algoritma saat ini, kita tidak lagi sekadar "melihat" kehidupan orang lain, melainkan sudah masuk ke tahap "mengonsumsi" kehidupan mereka. Istilah wealth porn, yang dipopulerkan oleh profesor sekaligus pengusaha NYU, Scott Galloway, kini menjadi fenomena global yang mendefinisikan ulang arti kesuksesan. Ini bukan sekadar pamer kekayaan biasa, melainkan pengagungan gaya hidup mewah yang dikurasi secara ekstrem untuk menciptakan ilusi kesempurnaan.
Apa Itu Wealth Porn?
Wealth porn adalah konten yang meracuni para audiens dengan ilusi kemewahan, seperti jet pribadi, rumah megah, barang branded, hingga rutinitas "quiet luxury" yang dipoles sedemikian rupa agar ramah algoritma. Konten ini tidak hanya berfungsi sebagai aspirasi, tetapi juga sebagai sinyal moral. Ia mendikte anak muda tentang apa yang diabnggap penting, siapa yang dianggap menang, dan siapa yang dianggap gagal dalam hal kekayaan.
Fenomena Wealth Porn di Indonesia
Di Indonesia, tren ini terwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari pamer kekayaan yang sangat spesifik hingga konten yang dibalut komedi.
1. Delvin Sucahya
Delvin menjadi fenomena unik dengan gaya branding yang sangat detail menyebutkan harga dan spesifikasi barang-barang mewah yang ia punya. Ia dikenal melalui branding dirinya yaitu "iPhone 17 Pro Max Silver Cash 45 Juta 2TB Singapore gak nyicil, Casing Rimowa 3 juta, Sandal Hermes 14 juta, Dompet Rimowa 4 juta, dan Tas Prada 45 juta."
Detail harga ini menciptakan standar materialisme yang kaku, di mana nilai seseorang seolah-olah setara dengan total harga barang yang melekat di tubuhnya. Bahkan, sekarang hal ini sudah menjadi pengangkat namanya dan viral dengan lagunya yang menyebutkan detail tersebut.
2. Sisca Kohl & Jess No Limit
Pasangan ini merupakan wajah utama wealth porn yang lebih "mulus." Melalui konten seperti memasak makanan berlapis emas atau membeli barang dalam jumlah yang tidak masuk akal (memborong), mereka menjual narasi bahwa uang bukan lagi objek. Bagi audiens, ini adalah tontonan yang memanjakan mata. Namun di sisi lain, ini juga menjadi hal yang memperlebar jarak psikologis antara realitas kehidupan rata-rata orang Indonesia dengan standar "normal" yang mereka bangun.
3. Bobby Saputra (Ben Sumadiwira)
Berbeda dengan yang lain, sosok Bobby Saputra yang diperankan oleh Ben Sumadiwira sebenarnya adalah sebuah satir atau kritik. Dengan gaya sombong yang berlebihan sebagai "anak orang terkaya di Indonesia," Ben sebenarnya sedang menertawakan konyolnya perilaku pamer kekayaan. Namun, ironisnya, banyak audiens yang tetap mengonsumsinya sebagai bagian dari ekosistem wealth porn itu sendiri.
Dampak Bagi Anak Muda
Profesor Sarah Lawrence College, Samuel J. Abrams, dalam artikelnya di American Enterprise Institute (AEI), memberikan peringatan keras mengenai fenomena ini. Ia mencatat bahwa dampak dari wealth porn jauh lebih dalam dari sekadar rasa iri.
"Mahasiswa saat ini bukanlah orang yang malas, tetapi ketika mereka membuka ponsel dan melihat teman sebaya memamerkan kehidupan bernilai jutaan dolar yang dibangun di atas bisnis dropshipping atau estetika yang dimonetisasi, hal itu tidak menginspirasi. Itu mempermalukan, mendistorsi, membuat kehidupan bermasyarakat menjadi lambat dan merasa tidak sempurna. Hal ini terasa seperti usaha yang sia-sia."
Menurutnya, dampak berbahaya dari tren ini mencakup:
- Erosi Karakter ke Penampilan: terjadi pergeseran makna hidup. Jika dulu anak muda mencari makna melalui profesi, agama, atau pengabdian masyarakat, kini mereka beralih ke influencer gaya hidup yang menjual jalan pintas menuju kemewahan.
- Sinisme Terhadap Institusi: ketika kesuksesan diproyeksikan sebagai sesuatu yang tanpa usaha dan berada di atas aturan/institusi, anak muda mulai kehilangan kepercayaan pada sistem bersama, seperti pendidikan atau kerja keras konvensional.
- Atomisasi Sosial: wealth porn mengajarkan bahwa hidup adalah kompetisi tunggal. Maksudnya adalah seseorang harus menang atau tidak terlihat sama sekali. Ini merusak rasa kebersamaan dan empati, karena setiap orang dianggap sebagai saingan atau sekadar batu loncatan menuju status yang lebih tinggi.
Wealth porn bukan sekadar hiburan yang dapat memberikan dampak berbahaya. Ia adalah narasi yang mereduksi politik menjadi permainan, komunitas menjadi panggung, dan kehidupan menjadi sebuah merek. Jika kita tidak mulai membangun kembali nilai-nilai kewarganegaraan dan karakter di atas penampilan, kita berisiko melahirkan generasi yang merasa gagal hanya karena mereka hidup dalam realitas ketimpangan saat ini yang akhirnya dianggap manusiawi.
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
-
Terjebak Algoritma: Mengapa Internet Hanya Menampilkan yang Kita Suka?
-
Perang Gender di TikTok: Saat Algoritma Memperuncing Polarisasi Relasi Laki-laki dan Perempuan
-
Opini Publik yang Dibentuk Algoritma For Your Page, Apakah Masih Organik?
-
Sisi Gelap Algoritma: Monetisasi Atensi dan Eksploitasi Emosi Publik
-
YouTube Lumpuh Tiba-Tiba: Sejenak Merasa Dunia Tanpa Algoritma
News
-
PATRIBERA 2026 Hadirkan AHY hingga Diskoria, Warnai Langkah Awal Mahasiswa Baru UPNVJ
-
Usai Upacara HUT ke-81 RI, DKI Jakarta Kirim Nakes dan Galang Rp3,8 M untuk NTT
-
Resep Rahasia Don Rare Jaga Harmoni Alam dan Budaya di Desa Sejahtera Astra Les
-
Menelisik Garam Palungan Desa Les: Saat Warisan Leluhur Bertahan di Tengah Modernisasi
-
Skybar ibis Styles Yogyakarta Kembali Dibuka, Hadirkan Beragam Agenda Rutin
Terkini
-
Ulasan Drama Mother and Mom: Kritik terhadap Obsesi Menjadi Ibu Ideal
-
Review Serial Silo Season 1: Adaptasi Novel Wool yang Penuh Teka-Teki Seru!
-
Dari Maryamah Karpov ke Maryam Mah Kapok Garapan Asma Nadia dkk
-
Ironi di Negeri Tropis: Buah Melimpah, Harga Tak Ramah
-
Review Novel Jejak Langkah: Ketika Pena Menjadi Senjata Perlawanan