Melihat masa yang kalang kabutan, meneruskan angin yang kembang kempisnya silih berganti, di masa yang tak pernah tertebak arahnya, tak terukur jaraknya, musim-musim tidak seperti biasanya, sama sekali tak tertebak. Mereka berlari, bersembunyi, berdiri tetap di tempatnya, ada yang bergumul, dan ada yang diam-diam pergi entah kemana.
Mereka kalang kabutan, arah lawan yang tak terlihat, arah lawan yang terukur, masuk di antara dedaunan rimbun fatamorgana, semua “Mung apus-apus” kata mbah-mbah di desaku. Tidak ada istiqomah, semua berubah-ubah, katanya “Tergantung nasibmu saja bagaimana?”
Jangan terlalu berburu nasib, jalani saja aturan main dari-Nya, sejak sebelum lahir kan sudah berdiskusi dan mengikat janji, mengapa hari ini kau kutuk dan buru nasib, apalagi nasib yang kau maksud harus sesuai persepsimu? Asumsi-asumsi dari kepintaran dan intelektualitasmu.
Kini nasi menjadi bubur, bubur menjadi debu, penuh jamur, bau, kau tak lagi berburu nasi. Hanya nasib yang ingin kau buru, mengejar arah lawan, dalam dirimu, diri kita sendiri, bergelut dengan emosi, bergelut dengan persepsi.
Kalau bukan karena hidup dariNya, siapa lagi yang akan menanggung kemauanmu?
Hanya Dia, ya... hanya keyakinan atas diriNya lah yang harus diperteguh, diteguhkan dalam hatimu, dalam hati kita,
Karena arah lawan ada di dalam diri kita, tak usah memburu nasib, biarkan ia berjalan menghampiri kita, begitu juga hidup.
2021
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Belajar dari Iblis dan Maling? Seni Menang di Buku Jadilah yang Terbalik!
-
Review Serial The Hawk: Ketika Ambisi dan Ego Berbenturan di Lapangan Golf
-
Review Juno: Kisah Kehamilan Remaja yang Hangat dan Penuh Pelajaran Hidup
-
Magic Cat Leave the Trees, Please: Puisi Indah untuk Menyelamatkan Bumi
-
Cegah Kusam! Ini 5 Night Cream Vitamin C untuk Kulit Tampak Cerah Merata