Aku menghela nafas dan berpikir panjang.
Hidup aku pertaruhkan lama di rumah ini.
Proses yang panjang aku gali di tempat ini pula.
Rumah juang, tempat aku banyak belajar arti kehidupan.
Di rumah juang, aku bersenda gurau dengan kawan seperjuangan.
Mengadu nasib bersama.
Bertahan hidup bersama.
Menyongsong hidup bersama.
Di rumah juang, aku temukan arti persaudaraan dan persatuan.
Di rumah juang, aku melihat Indonesia mini.
Di rumah juang, aku dapat menyaksikan kejamnya penindasan di negeri ini.
Disinilah aku makin sadar dan merasa masih banyak yang akan aku pelajari.
Sepanjang malam, mendiskusikan negeri tak pernah usai.
Rumah juang kadang menjadi wadah konsolidasi menyusun gerakan.
Menyusun untuk melawan penguasa negeri yang bejat.
Rumah juang, aku tak bisa membayar jasa atas apa yang kau berikan kepadaku.
Aku hanya berharap, engkau tetap kokoh dan terus berada di pihak yang lemah.
Baca Juga
-
Standar TikTok: Katalog Hidup Mewah yang Bikin Kita Miskin Mental
-
Ketika Rumah Tak Lagi Ramah: Anak yang Tumbuh di Tengah Riuh KDRT
-
Nasib Generasi Sandwich: Roti Tawar yang Kehilangan Cita-Cita
-
Romantisasi Ketangguhan Warga: Bukti Kegagalan Negara dalam Mengurus Bencana?
-
Sampah, Bau, dan Mental Warga yang Disuruh Kuat
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Film We Bury the Dead: Duka di Tanah Penuh Zombie yang Mengerikan!
-
4 Drama Korea Adaptasi Webtoon dibintangi Oh Yeon Seo
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan, Ada The Housemaid hingga Modual Nekad
-
4 Mix and Match Daily OOTD ala Wooyoung ATEEZ, Street Style ke Formal Look
-
Drama China A Romance of the Little Forest: Cinta Tumbuh Seperti Tanaman