Ilustrasi Penuh Harap. (Pixabay)
Aku sambut pagi dengan percaya diri.
Ku palingkan badan dari tempat tidurku.
Hingga aku sempatkan untuk berdoa kepada sang Ilahi.
Hidup penuh serba ketidakpastian.
Aku sadar kalau semuanya tidak ada yang gratis.
Kesuksesan mesti dibayar dengan pengorbanan.
Kebahagiaan mesti dibayar dengan kerja keras.
Namun aku menitip agar cita-citaku yang penuh harap dapat diraih.
Di pagi yang indah dan sejuk aku duduk sejenak.
Bersenda gurau pada proses yang aku lakukan saat siang nanti.
Menyusun strategi perjuangan dengan penuh harap.
Hingga menerawang sebab musababnya yang mungkin terjadi.
Gubuk Marhaenis, 3 Agustus 2021
Komentar
Berikan komentar disini >
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Tangki Cinta yang Kosong: Sulitnya Anak Broken Home Mengenal Hubungan Sehat
-
Ghosting, Breadcrumbing, dan Situationship: Bahasa Baru dalam Dunia Asmara
-
Review Every Monday Mabel: Ketika Truk Sampah Jadi Hal Terbaik di Dunia
-
Fenomena Gaji Numpang Lewat: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial yang Bikin Boros
-
Prabowo dan Obsesi MBG: Mengapa Kemajuan Negara Diukur dari Perut Rakyat?