Mustika gelora bersenandung dalam alam lautan kehidupan memberi banyak pesan. Lentera berpapasan menghapus derita kegelapan membutakan langkah. Goresan bauran yang bertumpang tindih menyergap cakrawala ufuk nan jauh. Berbahan asa dalam sebongkah mimpi yang terukir sangat cantik. Naungan berseru menghamba pada satu ikatan raga yang teduh.
Amat meneduhkan suatu permai jalan berpijak yang sangat nyata di seberang tatapan. Menjauh dari seluruh keraguan begitu memasung langkah dalam senyap. Bersolek nyanyian tegas berguncang ledakan kebangkitan jiwa.
Menghancurkan gejolak kecemasan yang berurai seruan batin yang memanggil segenap manusia tuk berubah. Berubah melangkah dalam cakrawala yang semakin indah dari kiasan waktu yang telah terjadi sebelumnya. Kiasan pertambahan zaman yang melampaui setiap bentuk raga.
Gelora yang bergemuruh walau bentuk raga sudah berubah sama sekali. Berkumpul manusia berpandangan ke depan melihat jalan sangat lurus. Luas tatapan berpacu dalam melesatnya langkah yang nyata.
Bias suci nan anggun bertatap langsung membaca dimensi pikiran nalar manusia. Mustika berada dalam rangkulan setiap genggaman tangan. Sangat cantik dipegang yang begitu menggoda nalar manusia. Mustika gelora yang menyerukan bait-bait ruang impian dengan kelembutan harmoni.
Hiasan yang terukir dalam genta buana terbentang seluas-luasnya tak menghalangi gelora manusia menggenggam cita-cita. Asa yang tak pernah lenyap sekalipun walau tergusur oleh pacuan masa yang terlampuai amat cepat.
Baca Juga
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Hikayat Benang Merah
-
Belajar Hukum Lewat Komedi: Mengapa Mens Rea Lebih Kena dibanding Seminar?
-
Dilema Emosional Gen Z: Berani Jujur Tapi Siap Kehilangan atau Lebih Baik Diam?
-
Dapat Daesang, Jennie BLACKPINK Borong Penghargaan Golden Disc Awards 2026
-
John Herdman Latih Timnas Indonesia, Si Anak Hilang Berpeluang Comeback?