Sang Keris adalah Pemenang Kedua Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019.
Sama seperti judulnya, tokoh utama novel ini merupakan sebilah keris. Namanya Kyai Karonsih, akronim kekaron tansah asih, artinya: saling mencintai (hal. 4). Dibuat oleh Arya Matah, anak angkat empu keris Resi Kala Dite, melalui serangkaian ritual (hal. 32-33). Bentuknya ber-dhapur jangkung dengan tiga luk, bilahnya memancarkan cahaya yang sangat silau (hal. 34, 71).
Selama sekian masa, yakni sejak Kerajaan Hindu-Buddha, Kerajaan Islam, pendudukan Belanda, menjelang kemerdekaan Indonesia, hingga zaman terkini, keris berkekuatan magis ini selalu berganti-ganti tuan.
Sayangnya, sebagai senjata sakti, Kyai Karonsih selalu menimbulkan malapetaka bagi pemilik, tidak peduli sang pemilik tergolong pribadi baik atau jahat. Misalnya, pendorong perzinaan adipati dengan seorang putri yang kemudian membuat adipati dipenggal raja (hal. 2-3), penyebab terbunuhnya berandal pasar bernama Pulanggeni (hal. 7), muasal terbakarnya gedhong pusaka (hal. 10-12), dan pemicu kecelakaan pesawat yang ditumpangi Eli, mahasiswi asal Prancis yang tengah meneliti budaya Jawa (hal. 107).
Semua nasib buruk yang ditimbulkan Kyai Karonsih, disebabkan karena, “... sebuah kodrat, siapa saja yang terlahir dari keberkahan luar biasa, selalu ingin unjuk gigi.” (hal. 10). Juga karena telah dipastikan bahwa, “ ... kelahiranmu akan banyak mengubah kisah hidup tuan-tuanmu.” (hal 34).
Kelebihan novel ini, di antaranya, memiliki alur yang tidak linear. Kadang maju, mundur, dan melompat ke kurun masa berbeda-beda.
Layaknya puzzle, menyusuri novel ini membuat pembaca harus menyusun sendiri kepingan-kepingan cerita yang disuguhkan secara terserak. Kualitas kedua, tiap-tiap bab, diuraikan dari sudut pandang berlainan.
Ada sudut pandang engkauan (hal. 2-18, 32-35, 61-63, 80-82), sudut pandang akuan (hal. 44-52), dan dia atau nama orang (hal. 83-107).
Sementara pada bab Sang Pencerah (hal. 41-43) tidak jelas sudut pandang yang digunakan, sebab isinya hanya dialog entah siapa?
Kualitas ketiga, yakni muatan pengetahuan tentang ritual dan urutan cara membuat keris beserta detail bagian juga maknanya (hal. 4, 6, 32-34, 38-39, 62).
Kualitas keempat, yaitu adanya perlambang di banyak bagian novel. Umpamanya, perjalanan Kyai Karonsih yang lintas masa adalah perlambang betapa nafsu akan kekuasaan senantiasa hadir dalam denyut-alir darah manusia, sepanjang kurun waktu.
Sementara kehadiran Kyai Karonsih sendiri menyimbolkan bahwa keahlian yang terlalu mumpuni, malah membahayakan bahkan menghancurkan.
Tag
Baca Juga
-
Pelajaran Tekad dari Buku Cerita Anak 'Pippi Gadis Kecil dari Tepi Rel Kereta Api'
-
Cerita-Cerita yang Menghangatkan Hati dalam 'Kado untuk Ayah'
-
Suka Duka Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Ulasan Novel 'Khofidah Bukan Covid'
-
Akulturasi Budaya Islam, Jawa, dan Hindu dalam Misteri Hilangnya Luwur Sunan
-
Pelajaran Cinta dan Iman di Negeri Tirai Bambu dalam "Lost in Ningxia"
Artikel Terkait
Ulasan
-
Seni Mencintai dengan Konsistensi: Cermin Relasi Sehat di Yumis Cells 3
-
Ngopi di Tarkam Ledokombo: Ketika Tawa, Asap Kopi, dan Jalan Raya Menjadi Satu Cerita
-
Review Jujur Almaz Fried Chicken Kediri: Ayam Goreng Arab dengan Rempah yang Nendang!
-
Daredevil: Born Again Season 1, Sajikan Tema Keadian dan Korupsi Kekuasaan!
-
Pemimpin Karismatik: Ketika Kata-kata Bisa Menggerakkan Banyak Orang
Terkini
-
Sampah Kemasan Skincare hingga Paket Meningkat Akibat Tren Fast Beauty?
-
Redmi Watch 6 Hadir di Indonesia: Smartwatch AMOLED 2,07 Inci, Siap Temani Gaya Hidup Aktif
-
Resmi Debut, AND2BLE Hadapi Perubahan dan Mulai Awal Baru di Lagu Curious
-
Novel Hilang di Wonju, Teror Pembunuhan Saputangan dan Misteri Angka Tujuh
-
Sungai di Belakang Rumah dan Hilangnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Sampah