Menurut saya, novel Jenderal kambing karya Khrisna Pabichara ini menarik, mulai ide, alur cerita, hingga sederet konflik yang dimunculkan. Penulis mampu membuat pembaca merasa penasaran untuk terus membaca kisahnya yang diwarnai ketegangan. Belum lagi filosofi hidup yang diselipkan penulis baik melalui dialog maupun narasi.
Novel ini menceritakan tentang pemuda bernama Ibrahim yang ditolak cintanya oleh Salma, gadis pujaannya. Sudah sejak lama ia memendam suka pada gadis yang satu sekolah dengannya itu. Tepatnya, sejak ia masih kelas satu SMA, hingga akhirnya ia kelas tiga. Cintanya pada Salma tetap, tak berubah, dan ia mencoba mengutarakannya. Sayangnya, ia ditolak mentah-mentah bahkan dengan kalimat kasar yang menyakitkan.
Berikut ini kutipan saat Ibrahim menyatakan cinta dengan begitu polos, tapi diramu dengan bahasa yang sangat memikat oleh penulis:
“Ada yang ingin kukatakan kepadamu.”
Salma mendongak. Sembari meletakkan novel yang tengah dibacanya ke atas meja, ia berkata dengan tenang. Suaranya pelan, tetapi mengancam. “Katakanlah, aku tidak cukup banyak waktu untuk pembicaraan yang sia-sia!”
Beberapa jenak Ibrahim tertegun. Ia berusaha tersenyum untuk menyamarkan rasa gugupnya. “Aku mencintaimu.”
Berikut ini saya kutip cara penolakan Salma. Saya coba potong sebagian agar tidak terlalu kepanjangan:
Salma berdiri dan menatap Ibrahim dengan mata mencorong. “Sudah kubilang, aku tidak punya banyak waktu untuk pembicaraan yang sia-sia.” Ia menatap Ibrahim dari kepala hingga ke kaki, kemudian meneleng-nelengkan kepala. “Juragan kambing jatuh cinta kepadaku.” Ia kembali menatap Ibrahim dan menggeleng-geleng.
“Kalau kambingmu sudah terjual, kamu bayar iuran sekolah dan sisihkan sedikit uangmu untuk membeli cermin. Tidak usah banyak. Satu saja. Lalu kamu berdiri di depan cermin, lihat siapa dirimu sebenarnya, dan pikirkan matang-matang apakah kamu layak berdiri di sampingku sebagai pendamping atau lebih pas di belakangku selaku jongos!”
Memang, Ibrahim termasuk keluarga yang kekurangan. Dan salah satu pekerjaan untuk meringankan hidupnya ialah dengan menggembala kambing. Ia tak menyangka Salma akan setega itu padanya, kalau memang tak mau menerima uluran cintanya, tak usah membawa-bawa “kambing”, hewan ternak yang selama ini sangat meringankan beban biaya pendidikannya (halaman 20).
Kisah Ibrahim yang ditolak cintanya masih panjang. Ia berusaha tak marah atas sikap Salma kepadanya. Ibu tirinya, yang begitu baik kepadanya, telah mengajarkan bagaimana cara ia bersikap terhadap gadis yang menolak cintanya.
Dulu, ibu tirinya juga pernah menolak saat ayah Ibrahim menyatakan cinta padanya. Namun, pada akhirnya ibu luluh juga dan menerima ayah Ibrahim. Begini petikan dialog saat Ibrahim bertanya alasan ibu tirinya luluh dan menerima ayah sebagai suaminya:
“Kenapa hati Ibu bisa luluh?”
“Karena tak ada kebencian atau kemarahan di mata ayahmu meskipun berkali-kali Ibu tolak. Lelaki yang marah karena cintanya ditampik adalah lelaki yang tidak paham hakikat cinta. Lelaki seperti itu ‘mencintai dirinya sendiri’. Egois. Mau menang sendiri. Hanya perempuan lugu, kalau kata ‘dungu’ terlalu kasar, yang mau dicintai lelaki seperti itu.”
Ibunya tersenyum lagi sambil menyeduh kopi dan menaruh gelas kopi di depan Ibrahim. “Kalau kamu marah karena ditolak, kamu termasuk lelaki tidak tahu diri.”
Kisah Ibrahim yang terus berusaha memperjuangkan rasa cintanya meski telah ditolak dengan kasar oleh gadis pujaannya, menurut saya sangat menarik disimak. Tak hanya kisahnya yang layak disimak, tapi juga pesan-pesan filosofi yang begitu berharga yang diselipkan penulis dalam novel terbitan Exchange Publishing Your Idea (2017) ini. Selamat membaca.
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku God, Please Help Me: Setiap Masalah Ada Solusinya
-
Maksimalkan Diri untuk Mengais Rezeki, Ulasan Buku Aplikasi Pencari Rezeki
-
Keras! Politisi PDI P, Masinton Pasaribu Anggap Negara Tak Berdaya Melawan Mafia Minyak Goreng
-
Bakal Diangkat Web Series, Kisah Cinta Thariq Halilintar dan Fuji Menjanjikan!
Ulasan
-
Review Jodohku Om-Om: Konflik Tak Seberapa dengan Alur Manis bak Stevia
-
Review The Death of Robin Hood: Saat Sang Legenda Menepi di Pulau Terpencil
-
Apakah Semua Orang Berhak Mendapat Kesempatan Kedua? Menakar Film DOSA
-
Mencintai dan Melarikan Diri: Pergulatan Batin dalam Cerita Cinta Enrico
-
Novel Insiden Berdarah: Saat Misteri Menyeret Isu Sosial ke Permukaan
Terkini
-
Punya Koleksi Merchandise Piala Dunia? Simak 7 Tips Merawatnya Supaya Awet
-
4 Headset Gaming Murah dengan Active Noise Cancellation, Mulai 300 Ribuan
-
Situasi Serba Salah: Antara Opang, Gojek, dan Hak Penumpang
-
Kesenjangan Literasi AI yang Diam-diam Menciptakan Kasta Baru di Kampus
-
Chainsaw Man Rilis Teaser Anime Assassins Arc dan Umumkan Game Mobile Baru