Idealnya, setiap masalah atau persoalan harus bisa diselesaikan secara baik-baik. Jangan sampai menumpuk masalah hingga akhirnya membuat diri menjadi stres dan tak lagi bisa merasakan kebahagiaan dalam hidup.
Masalah pasti akan dihadapi oleh setiap manusia. Dari yang sepele atau ringan, hingga rumit, datang silih berganti dalam kehidupan manusia. Dalam sebuah rumah tangga misalnya. Yang namanya persoalan adalah hal biasa. Antara suami, istri, anak, bahkan tetangga, kadang terjadi kekurangharmonisan karena sebuah masalah yang muncul di antara mereka. Kuncinya sederhana, berusahalah menyelesaikan setiap persoalan yang muncul secara baik-baik.
Kisah sebuah keluarga yang tak terlepas dari persoalan bisa kita simak dalam sebuah cerpen menarik berjudul Bola Plastik di Meja Makan karya Gatot Prakosa. Cerpen tersebut saya temukan di Tabloid Nova edisi 1562/XXX, 29 Januari—4 Februari 2019.
Cerpen tersebut bercerita tentang kegundahan hati seorang istri saat menghadapi Aya, anak semata wayangnya yang sekolahnya akan diliburkan selama seminggu, karena sekolahan akan dipakai acara guru-guru. Aya, yang usianya baru 8 tahun tampak kecewa melihat kenyataan sekolah akan diliburkan. Maklum saja, di usianya yang masih sangat belia, dia tentu sangat senang berjumpa dan bermain dengan teman-teman sebaya di sekolah.
Sebagai seorang ibu, tentu bisa memahami bagaimana rasa bosan Aya libur seminggu dan hanya berdiam diri di rumah. Dia ingin suaminya yang selama ini terlalu sibuk di kantor, memahaminya. Dia ingin suaminya melakukan cuti dan mengajak Aya rekreasi. Berikut ini saya kutip petikan kisahnya:
Aku kabarkan liburnya Aya pada suamiku. Menyebalkan. Ia hanya membaca, cukup tahu saja. Karena telepon dari kantor datang merampas perhatiannya. Sampai tiga kali aku berusaha katakan padanya pentingnya Aya rekreasi paling tidak sehari. Tapi lelaki ini tak menggubris, malah bicara tentang tanggung jawab pekerjaannya.
Memang, pada akhirnya sang suami bisa cuti dan mengajak istri dan Aya berlibur ke Bali. Tapi tetap saja, di tengah momen liburan itu, suami masih diganggu oleh pekerjaan kantor. Sang suami selalu mendapat telepon dari kantor. Sampai-sampai membuat istrinya kesal. Tak hanya saat berlibur, di rumah pun, telepon dari kantor selalu datang mengganggu dan merampas kebahagiaan mereka.
Usut punya usut, ternyata di kantor, meski suaminya menjabat manajer, tapi sejatinya dia hanyalah pesuruh. Dan ketika pada akhirnya dia berusaha membicarakan masalah tersebut pada si bos, tentang keberatannya ditelepon ketika sedang libur atau cuti, bos malah langsung memecatnya.
Sebuah cerpen yang menarik, karena dari sederet persoalan yang dialami oleh pasangan suami istri dan anaknya tersebut, akhirnya dapat diselesaikan secara baik-baik. Dari kisah tersebut, pembaca bisa belajar bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluar terbaiknya.
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
Ulasan
-
I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa
-
Mampukah Indonesia Bangkit? Mencari Jalan Keluar dari Krisis
-
Indonesia Tidak Lagi Dijajah Belanda, Lalu Mengapa Gerpolek Masih Relevan?
-
Tragedi Ohara: Ketika World Government One Piece Fobia pada Pengetahuan
-
Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Saat Skala Sekuel Dipaksa Lebih Besar
Terkini
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Comeback dengan Lagu Stay, Yuqi i-dle Yakin Hari Esok Pasti Akan Lebih Baik
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau