Novel anak ini berjudul Indahnya Langit Kanazawa: Musim Semi. Sesuai tagline atau anak judulnya, novel ini adalah pembuka atau jilid pertama dari tiga novel kelanjutannya yang dibubuhi keterangan musim gugur, musim salju, dan musim panas.
Saat novel ini ditulis, Adila Tsabita Suryo Kusumo atau karib dipanggil Adila adalah siswa Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Saat itu, ibu dan ayahnya mendapatkan panggilan untuk melanjutkan pendidikan doktoral di Kanazawa, Jepang. Ibu dan ayah Adila bekerja sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Mula-mula yang berangkat ke Jepang adalah ibu. Adila masih tinggal di rumah bersama ayah dan adik laki-lakinya. Adila dan adik menyelesaikan pelajaran sampai akhir semester, barulah berangkat ke Negeri Sakura.
Pada masa itu pula, Adila dan adiknya, bernama Luqman, belajar bahasa Jepang secara privat di rumah. Ayahnya mendatangkan seorang guru yang mengajarinya untuk membaca, menulis, dan berbicara bahasa Nippon.
Berselang waktu kemudian, setelah urusan di Indonesia selesai, Adila bersama ayah dan adik berangkat ke Negeri Matahari Terbit.
Di tempat tinggal baru, Adila dan Luqman tidak perlu repot mencari sekolah. Sebab pemerintah kotapraja atau setingkat kecamatan sudah mencarikan sekolah yang tepat.
Di Jepang, semua sekolah memiliki kualitas yang sama bagusnya. Oleh karena itu, pemerintahlah yang menentukan di mana seorang anak mesti belajar secara formal?
Penentuan itu didasarkan pada zonasi atau letak rumah dengan sekolah terdekat.
Ini jelas berbeda dengan pengalaman di Indonesia. Anak dan orang tua dapat memilih bersekolah di mana pun, terutama jika sekolah yang dituju, milik yayasan swasta, seperti sekolah Al Irsyad Al Islamiyyah.
Banyak pengalaman menarik yang Adila dan adiknya dapatkan. Di sekolah, mereka dibiasakan mandiri. Ketika mendapat jadwal piket, mereka harus berangkat sangat pagi. Pulangnya, harus bertugas membersihkan kembali.
Untuk pembagian tugas membersihkan, sangat detail. Ada anak yang bertugas menggosok lantai hingga bersih mengilat. Ada yang bertugas fokus membersihkan jendela, dan sebagainya.
Membaca buku ini, sungguh amat mengasyikkan. Bahasanya enak. Cara bertuturnya lincah, mudah dipahami. Terlebih lagi, muatan pengalaman yang Adila paparkan, sungguh satu cerita tersendiri yang berlainan dengan keseharian pelajar di Indonesia.
Baca Juga
-
Pelajaran Tekad dari Buku Cerita Anak 'Pippi Gadis Kecil dari Tepi Rel Kereta Api'
-
Cerita-Cerita yang Menghangatkan Hati dalam 'Kado untuk Ayah'
-
Suka Duka Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Ulasan Novel 'Khofidah Bukan Covid'
-
Akulturasi Budaya Islam, Jawa, dan Hindu dalam Misteri Hilangnya Luwur Sunan
-
Pelajaran Cinta dan Iman di Negeri Tirai Bambu dalam "Lost in Ningxia"
Artikel Terkait
-
Rabu Hari Ini WN Jepang Koruptor Bansos COVID-19 Dideportasi dari Indonesia
-
Buronan Kasus Bansos Covid-19 Mitsuhiro Tanaguchi Akhirnya Dideportasi Ke Jepang
-
Stray Kids Sukses Gelar Konser Kedua di 2 Kota Besar Jepang
-
Makanan Jepang yang Nikmat Disantap saat Musim Hujan, Bisa Bikin Sendiri!
-
Film Kimi wa Tsukiyo ni Hikarikagayaku: Gadis yang Tak Akan Sempat Dewasa
Ulasan
-
Review Nine Puzzles: Alasan Penggemar Drama Misteri Wajib Nonton Ini
-
Membaca Pachinko: Metafora Keberuntungan dan Luka Sejarah yang Abadi
-
Review Film Case 137: Drama Prosedural yang Menyentuh Hati dan Akal Sehat
-
Telegram Karya Putu Wijaya: Kabar Duka dari Dunia yang Tak Pernah Pasti
-
Drama Romance Benci Jadi Cinta, Apakah My Dearest Nemesis Layak Ditonton?
Terkini
-
Koleksi Wajah di Tas Ayah
-
The Rose Umumkan Rencana 2026: Album Baru, Tur Dunia, Hiatus Pasca-Tur
-
Side Hustle Bukan Gila Kerja, Tapi Perjuangkan Pekerja UMR untuk Bertahan
-
Gaji UMR Kediri, Selera Senopati: Ketika Gengsi Jadi Kendaraan Menuju Kebangkrutan
-
Di Balik Angka UMR: Ada Cerita Perjuangan di Tengah Kebutuhan yang Meningkat