Salah satu tanda bahwa seseorang memiliki kehidupan yang bahagia adalah bila dia berusaha membebaskan dirinya dari penyakit hati seperti rasa iri dan dengki terhadap orang lain.
Iri dan dengki termasuk sifat bahkan penyakit yang begitu berbahaya bila tidak segera diatasi. Rasa iri dan dengki ini akan menyebabkan seseorang merasa benci dan selalu curiga dengan anugerah kenikmatan yang didapatkan oleh orang lain.
Dalam buku ‘Hidup Bahagia dan Berkah tanpa Penyakit Hati’ diungkap empat jenis penyakit hati yang seram, berbahaya, dan mematikan, yakni angkuh, iri hati, dengki, dan sombong. Penderita angkuh sering kali menganggap dirinya lebih dari segala yang dimiliki orang lain.
Sementara iri hati adalah suatu perilaku manusia yang selalu tidak senang dengan nikmat atau rezeki yang dimiliki oleh sesamanya, dan cenderung ‘keras berambisi’ menyaingi. Hari-harinya lebih disibukkan dengan pikiran bagaimana bisa melebihi kekayaan si A, kehebatan si B, dan malah lupa mengusahakan bagaimana kita bisa kaya dan hebat.
Selanjutnya dengki. Apa itu dengki? Dalam buku karya Husain Suitaatmadja ini dijelaskan, dengki memiliki pengertian sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berusaha untuk menghilangkan nikmat orang tersebut.
Terakhir sifat sombong. Ini termasuk paling tinggi derajat keburukannya. Jika diibaratkan sebatang pohon, yang di mana sombong ialah pohonnya, maka akar-akarnya adalah sifat tercela seperti menganggap rendah orang lain, riya' atau pamer kebaikan, taraffu atau suka menonjolkan diri, terlena oleh hawa nafsu, dan ujub atau membanggakan diri (hlm. 75-76).
Selain keempat jenis sifat tercela tersebut, tentunya masih ada sifat-sifat tercela lainnya yang harus kita waspadai kehadirannya dalam jiwa kita. Misalnya pelit untuk mengeluarkan harta yang kita miliki. Padahal kita memiliki harta yang cukup banyak, tapi merasa enggan untuk menggunakan sebagiannya untuk jalan kebaikan, misalnya untuk membantu kesulitan orang lain.
Orang yang pelit mungkin tidak mampu memahami bahwa harta kekayaan yang dimilikinya itu sifatnya tidak abadi dan bisa lenyap dalam sekejap bila Allah menginginkannya.
Manusia tidak menyadari bahwa harta yang dimiliki adalah pemberian Allah Swt., dan merupakan titipan yang semestinya kita sucikan dengan zakat, infak, dan sedekah. Sementara orang bakhil dan kikir malah menggunakan untuk kepentingan sendiri tanpa memikirkan orang lain (hlm. 78).
Selain mengungkap penyakit hati, dalam buku terbitan Elex Media Komputindo ini penulis juga membahas tentang seputar kebahagiaan dan keberkahan. Buku ini dapat memotivasi para pembaca untuk menjalani hidup bahagia dan penuh keberkahan.
Tag
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Novel Resign!: Saat Keluar dari Kantor Jadi Sebuah Taruhan
-
The Love Hypothesis: Cinta Tumbuh Karena Sering Bersama
-
Review Milk & Mocha Our Little Moments, Komik Hangat yang Bikin Gemas
-
Menemukan Arti Rumah yang Sesungguhnya dalam Novel Kosan Griya Wacana
-
Ulasan Memburu Pemangsa: Drama Horor Mencekam dengan Pesan Moral yang Kuat
Terkini
-
Kim Young Kwang dan Lee Ju Myoung Dipastikan Bintangi The Queen of Taming
-
Jangan Tunggu Burnout: Pentingnya Ambil Ruang Jeda Sebagai Kebiasaan Rutin
-
Bikin Makeup Flawless dan Tahan Lama: 5 Primer Serum Pengunci Kelembapan
-
Akun Cenblu Menjamur di X, tapi Kenapa Kontennya Justru Makin Tak Bermutu?
-
Alya Sometimes Hides Her Feelings in Russian 2 Rilis PV Baru, Tayang 2027