"Sinestesia" oleh Efek Rumah Kaca (2015) adalah sebuah karya masterpiece. Salah satu lagu ERK yang sedang kembali mengemuka dan banyak diperdengarkan oleh sejumlah pencinta musik tanah air adalah “Putih” yang selalu terdengar sakral.
"Putih" menggabungkan dua fragmen dari lagu-lagu sebelumnya, "Tiada" dan "Ada." Dalam lagu ini, Efek Rumah Kaca mengeksplorasi tema kematian dan kelahiran.
Meskipun tema ini bukanlah hal baru, cara penyampaian dan perspektif yang diusung terasa berbeda dari lagu-lagu serupa sebelumnya. Tampaknya, tema ini belum pernah dibahas oleh mereka dalam diskografi sebelumnya.
Lagu dimulai dengan suasana dingin dan hening, dibuka oleh melodi piano yang didukung oleh ketukan drum yang halus namun tepat, mengantarkan bassline ke dalam nada yang mengalun lembut.
Tanpa progresi akor yang rumit, ketiga instrumen ini saling melengkapi, menciptakan ruang yang intim bagi lagu. Piano menjadi tulang punggung lagu ini, berbeda dengan album sebelumnya yang lebih didominasi oleh riff gitar.
Kali ini, suara gitar Cholil muncul di beberapa bagian penting, memberikan kontribusi krusial pada suasana lagu, sambil tetap mempertahankan kedalaman yang khas dari Efek Rumah Kaca.
Ketika Cholil bernyanyi, ia seolah menjadi sosok yang mengalami kematian. Suara falsetto-nya berpadu dengan vokal Adrian yang menyampaikan lirik dengan nuansa sinematis, membagi lagu menjadi tiga babak.
Bagian pertama "Putih" membawa pendengar menyelami momen-momen menjelang kematian. Liriknya mengajak kita merasakan proses sekarat, memberi tawaran untuk menerima kenyataan dengan lapang dada, seolah berkata, "Akhirnya aku usai juga."
Diskusi tentang kematian dalam lagu bukanlah hal yang baru, namun Efek Rumah Kaca menawarkan pandangan bahwa kematian bukanlah akhir segalanya.
"Putih" tidak melihat kematian sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja, melainkan sebagai harapan akan kebangkitan: "Esok kan bermekaran."
Sebagai lagu kelima dalam album "Sinestesia", Efek Rumah Kaca, band asal Jakarta, dikenal dengan lirik-liriknya yang menyentuh dan menggambarkan realitas sosial.
Dalam "Putih", mereka membahas kematian sebagai bagian tak terhindarkan dari kehidupan, menggarisbawahi bahwa semua yang hidup akan mati.
Tokoh "Aku" dalam lagu ini berbagi cerita tentang pengalaman kematian dan kehidupan. Ditulis oleh Cholil, Adrian, dan Akbar, lagu ini kaya akan simbol.
Meskipun kematian digambarkan secara jelas, simbol-simbol kehidupan disampaikan lebih halus, seperti dalam lirik, "Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian."
Lagu ini menceritakan proses kematian dari sudut pandang yang realistis, mulai dari tiduran di ambulans hingga momen tahlilan.
"Putih" juga memiliki dua narasi yang saling terkait, masing-masing dengan teknik vokal yang berbeda, yaitu nyanyian Cholil dan deklamasi oleh Adrian, yang membuat tokoh "Aku" terasa lebih hidup.
Secara keseluruhan, "Putih" menggambarkan siklus hidup manusia, mengajak kita menikmati setiap momen kehidupan, bukan hanya dari lahir menuju mati, tetapi dari kematian menuju kehidupan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Kritik Penanganan Bencana dan Ancaman bagi Mereka yang Mengingatkan
-
Masyarakat Adat Serawai dan Perlawanan Sunyi di Pesisir Seluma
-
Krisis Iklim dan Cara Masyarakat Pesisir Membaca Ulang Laut yang Berubah
-
Nasib Masyarakat Pesisir di Tengah Gelombang Ancaman Krisis Iklim
-
Memutus Rantai Perundungan di Sekolah Melalui Literasi Hukum Sejak Dini
Artikel Terkait
-
Esensi Lagu SEVENTEEN 'Water': Semangat Berjuang Untuk Mencapai Puncak
-
Ulasan Lagu 'I Don't Know Why' HOA: Sensasi Segar Musik 60an di Abad 21
-
Sontek 6 Mix and Match Atasan Putih ala Member Twice, Mudah Dipadukan!
-
Dere Kisahkan Cinta dan Ragu Bertemu Dalam Rilisan Terbaru Berjudul 'Biru'
-
Makna Mawar Putih, Bunga yang Kompak Dipamerkan Amanda Manopo dan Arya Saloka di Instagram
Ulasan
-
Buku Tuhan, Maafkan Masa Laluku: Teguran Keras untuk Kita yang Lalai
-
Film We Bury the Dead: Duka di Tanah Penuh Zombie yang Mengerikan!
-
Drama China A Romance of the Little Forest: Cinta Tumbuh Seperti Tanaman
-
Buku Sehat Setengah Hati, Cara Mudah Memperbaiki Pola Hidup
-
Film Jay Kelly: Sebuah Drama Komedi yang Hangat dan Mendalam
Terkini
-
Terseret Isu Penelantaran Anak, Denada Unggah Pesan Haru untuk Mendiang Ibu
-
Psikologi Perubahan Iklim: Mengapa Kita Sadar Lingkungan tapi Malas Bertindak?
-
Kepekaan Perempuan Terhadap Bencana, Mengapa Kepedulian Dianggap Ancaman?
-
Mata Istri
-
Kulit Kepala Gatal? Ini 5 Sampo Ampuh untuk Dermatitis Seboroik