Sepertinya, tak banyak novel yang menceritakan tentang kehidupan para voice actor atau pengisi suara pada sebuah film animasi. Karenanya saya sangat excited ketika membaca novel Voice karya dari Ghyna Amanda, yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2014.
Novel Voice berkisah tentang Kirana, seorang operator telepon di perusahaan seluler. Ia memiliki suara yang manly, tidak seperti kebanyakan perempuan. Suatu kali teman masa kecilnya, Indra, tertarik mengajak Kirana bekerja sama untuk menjadi pengisi suara video game yang akan menjadi tugas akhir kuliahnya.
Namun entah bagaimana, Kirana salah mengirimkan file suara dan justru e-mail-nya tersasar ke Studio Brahmana, tempat produksi film animasi yang tengah membuka audisi untuk mengisi suara animasi The Princess and The Raven, yang kemudian memanggil Kirana karena sampel suaranya diterima.
Kirana yang melihatnya sebagai kesempatan yang tak mungkin datang dua kali, menerima tawaran menjadi voice actor tersebut. Ia mengisi suara untuk pangeran pengelana, Satria. Bertolak belakang dengan lawan mainnya, Akira, lelaki yang memiliki suara bening dan lembut yang mengisi suara Putri Viona.
Kirana yang tak memiliki pengalaman di bidang voice actor, harus beradaptasi dengan tokoh pengisi suara lainnya yang lebih profesional. Hal yang membuat kepercayaan dirinya runtuh dan membuat Kirana memutuskan mundur dari project, terlebih ketika Mbak Alena, tokoh pengisi suara lainnya mengkonfrontasi Kirana.
Akankah Kirana mengubur dunia barunya? Bagaimana dengan Akira yang terus memberinya semangat. Bisakah lelaki itu meyakinkan Kirana untuk kembali?
“Menghidupkan karakter dalam layar dengan suaramu. Kamu tahu, ini seperti memberikan nyawa pada boneka,” kata Akira. (Hal. 51)
“Menjadi seorang voice actor bukan hanya berbicara atau membaca dialog, atau menghidupkan sebuah karakter, dan membuat para penonton dapat mengerti pesan yang disampaikan.” (Hal. 175)
Novel Voice memiliki premis cerita yang menarik, tentang dunia voice actor, terlebih lagi tentang kontradiksi produksi suara yang dimiliki Kirana dan Akira. Kirana yang memiliki suara manly bak lelaki sedangkan Akira memiliki suara jernih dan lembut layaknya perempuan.
Perbedaan suara antara Kirana dan Akira ini awalnya sempat menyebabkan kesalahpahaman antara pihak Studio Brahmana dan Kirana-Akira terkait sampel suara yang dikirim keduanya. Terutama Akira yang berkarakter kasar dan emosional dan sempat menyerang Kirana karena sampel suaranya disangka milik gadis itu.
Namun seiring berjalannya waktu, dari kerapnya mereka bertemu di studio dan seringnya Kirana dan Akira bermain role play untuk menciptakan chemistry untuk keperluan film, mereka bisa mengakrabkan diri dan menjembatani perbedaan yang ada.
Konflik dalam novel ini berfokus pada kesulitan Kirana menyesuaikan diri dengan pekerjaannya sebagai voice actor. Ia harus belajar dari awal bagaimana caranya mengisi suara ke dalam sebuah film animasi. Hal yang cukup berat bagi Kirana apalagi ia harus mengejar ketertinggalan dari para voice actor lain yang lebih berpengalaman.
Premis menarik, gaya bahasa yang mengalir, kelebihan novel ini masih ditambah lagi dengan dimasukkannya script film animasi The Princess and The Raven dalam cerita. Sebagai pembaca, saya sangat menikmati ketika turut larut dalam narasi dan dialog film tersebut yang diperankan para voice actor. Rasanya seperti saya sedang menikmati cerita berbingkai, cerita di dalam cerita. Salut untuk penulis atas ide briliannya untuk membuat script tentang pangeran pengelana dan putri yang kehilangan cahaya hatinya tersebut.
Dengan banyaknya kelebihan dalam novel Voice, ternyata novel ini pun tak luput dari kekurangan. Seperti di sebuah dialog ketika Kirana terlambat datang ke studio karena alasan kerja (Hal. 122). Padahal Kirana sudah berhenti dari pekerjaannya sebagai operator telepon di sebuah perusahaan seluler.
Di awal cerita dikatakan tentang Kirana yang kedua orangtuanya telah bercerai dan ayahnya yang sudah menikah lagi. Tadinya saya pikir akan ada konflik yang dikembangkan terkait hal tersebut, apalagi dengan adanya kebimbangan Kirana ketika harus kembali tinggal dengan sang ayah dan melewatkan hari-hari dengan ibu tiri. Namun, ternyata konfik yang sangat mungkin dikembangkan tersebut tidak ada.
Sampul novel yang bergambar mikrofon yang lebih cocok untuk karaokean, sepertinya juga kurang tepat jika untuk merepresentasikan pekerjaan voice actor.
Terlepas dari sedikit kekurangannya tersebut, novel Voice sangat patut diapresiasi. Apalagi di dalamnya sarat akan pesan, terutama tentang menggantungkan impian setinggi mungkin dan keinginan kuat untuk mewujudkannya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Ungkap Kebenaran dan Tegakkan Keadilan dalam Buku Cerpen Saksi Mata
-
Mau Baca Novel Dibayar? 3 Aplikasi Penghasil Saldo DANA Gratis Ini Wajib Dicoba!
-
Persiapkan Ibadah Haji Maksimal, Ini Link Download Buku Saku Haji Resmi Kemenag
-
Review Novel An Acceptable Time: Melintasi Waktu Mencegah Perang Antar Suku
-
Menyesuaikan Diri Terhadap Perubahan Hidup dalam Buku "Adaptasi"
Ulasan
-
Dari Pengusaha Sukses ke Hidup 'Serabutan': Kisah Jatuh Bangun Keluarga Cemara yang Bikin Terharu
-
Romansa Gotik yang Berantakan, Pikir Dulu Sebelum Nonton Film The Bride!
-
Bersenandung dengan Puisi di Buku Syair-Syair Cinta Karya Kahlil Gibran
-
Pelajaran Berharga tentang Waktu dari Buku Seni Mengelola Waktu
-
Makin Bijak di Bulan Ramadan: Bedah Kitab Luqman al Hakim yang Namanya Diabadikan di Al Quran
Terkini
-
Mudik Lebih Nyaman! Ini 5 Aplikasi Rental Mobil yang Bisa Dicoba
-
Komposisi Paling Mewah, Tak Salah John Herdman Jadikan Lini Pertahanan Modal Utama Skuat Garuda
-
Kerajinan Jogja Sukses Diekspor, Limbah Jadi Produk Bernilai Tinggi di Pasar Global
-
5 Moisturizer Soybean untuk Jaga Hidrasi dan Skin Barrier Saat Puasa
-
6 Fakta Menarik Perfect Crown yang akan Segera Tayang