'Berdamai dengan Diri Sendiri' adalah buku yang ditulis oleh Juni Soekendar. Buku ini membahas tentang bagaimana cara berdamai dengan ragam problematika kehidupan. Khususnya bagi para perempuan.
Sebagai seorang konselor dalam bidang pengembangan diri, Bu Juni kerap mendapati banyak curahan hati para perempuan yang merasa bingung dalam menghadapi masalah. Mulai dari kasus KDRT, suami yang minta poligami, hingga menghadapi suami pemalas dan pengangguran.
Kebanyakan kisah yang diangkat memang seputar kehidupan rumah tangga para perempuan dengan suami yang bermasalah. Tapi ada beberapa kisah yang juga mengangkat persoalan jodoh hingga polemik tentang anak.
Meskipun terinspirasi dari kisah nyata, namun Bu Juni tetap menjaga privasi para tokohnya dengan menggunakan nama samaran.
Curahan hati para perempuan tersebut kemudian dibahas oleh Bu Juni dengan memberi sudut pandangnya sebagai seorang konselor. Yakni tentang bagaimana cara untuk berdamai dalam setiap masalah.
Dari kisah-kisah yang disampaikan, ada beberapa pelajaran penting yang bisa di ambil. Di antaranya adalah pentingnya memahami hal-hal yang berada dekat dengan diri kita. Misalnya pada kasus poligami dan perselingkuhan suami.
Memang awalnya akan berat bagi perempuan untuk menerima kenyataan tersebut. Perasaan benci dan sakit hati kepada sosok perempuan lain yang telah menjadi orang ketiga tentu menjadi objek kemarahan utama. Namun, sebelum membenci, kita perlu mengevaluasi semua aspek.
Dalam hal ini, suami juga tak kalah bersalahnya karena telah berani berselingkuh padahal ia sadar bahwa dirinya telah memiliki pasangan. Kemudian kita juga perlu mengevaluasi diri sendiri. Barangkali sebagai istri, ada aspek yang selama ini kita lupakan terkait menjalankan kewajiban dalam status tersebut.
Jadi saat memandang masalah, kita tidak bisa serta merta menyalahkan satu pihak saja. Kita perlu memahami diri sendiri dan menata perasaan dan pikiran agar lebih jernih.
Bagi saya pribadi, apa yang dipaparkan oleh penulis ini adalah hal yang menarik karena semua kisahnya adalah permasalahan yang cukup relate dalam kehidupan sehari-hari banyak perempuan.
Di dunia nyata, tak jarang kita akan menemukan berbagai macam kasus terkait keluarga yang akan membuat kita dihadapkan dengan banyak dilema.
Dengan berkaca pada apa yang terjadi pada kisah ini, kita bisa banyak mengambil pelajaran. Tidak serta merta menyulut api kemarahan saat ada hal-hal yang berada diluar ekspektasi.
Pada setiap pasangan, Bu Juni juga menekankan tentang pentingnya komunikasi. Contoh kasus bisa dilihat pada kisah tentang seorang istri yang bekerja menghadapi suami pemalas.
Kasus seperti ini sering sekali terjadi akibat budaya patriarki yang melekat pada masyarakat. Dalam hal ini, Ibu mertua terlalu memanjakan anaknya sedari kecil. Hingga ketika si anak ini menikah, ia menjadi sosok suami yang tidak bisa diandalkan.
Akibatnya, istri lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Penghasilan yang lumayan besar membuat suami berlama-lama berada di zona nyaman dan enggan untuk menjalankan kewajibannya untuk memenuhi nafkah keluarga.
Dalam kasus tersebut, si istri kerap misuh-misuh karena merasa amat lelah menjalankan peran ganda dalam bekerja sekaligus mengerjakan urusan domestik di rumah.
Nah, pada kasus ini, Bu Juni memberi banyak nasihat, tidak hanya pada istri dalam kasus di atas, melainkan kepada seluruh perempuan agar tidak menjadi tokoh yang justru jadi peran utama yang membesarkan budaya patriarki tersebut.
Entah dengan memanjakan anak laki-laki, atau membiarkan para suami merasa lepas tanggungjawab dengan mengambil beban kewajiban yang seharusnya dipukul oleh seorang suami.
Meskipun memang pelaku utama yang patut dibelajarkan adalah si lelaki itu sendiri. Namun, daripada merutuk keadaan yang tidak bisa kendalikan, mengapa kita tidak mencoba berdamai dengan memperbaiki respon diri kita sendiri terhadap sesuatu?
Secara umum, buku ini mengandung banyak pembelajaran bagi perempuan. Khususnya mereka yang telah berstatus sebagai istri dan ibu.
Bagi kamu yang tertarik untuk membaca kisah nyata dan potret para perempuan yang berusaha berdamai dengan keadaannya, buku ini bisa menjadi bacaan yang inspiratif. Selamat membaca!
Baca Juga
-
Pahlawan Ekonomi Kreatif: Tetap Cuan Meski Tanpa Kerja Kantoran
-
Pecandu Buku, Gerak Laku Penuntut Ilmu: Literasi untuk Membangun Peradaban
-
Resep Kaya ala Orang Cina: Ketika Strategi yang Tepat Terlihat Seperti Hoki
-
Jangan Kalah Sama Monyet: Kumpulan Gagasan di Era Disrupsi
-
Atasi Kecanduan Gadget Anak Lewat Baca Nyaring dalam The Book of Read Aloud
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Growing Pains, Menjalani Hidup Sebagai Orang Tua Tunggal
-
Dari Air Mata ke Surga Kecil: Makna Cinta di Langit Taman Hati
-
Istri Menteri UMKM Diduga Minta Fasilitas Negara, Ternyata Segini Biaya Lomba Sang Anak di Eropa
-
Sosok Arif Rahman Hakim yang Tanda Tangani Surat Kunjungan Tina Astari Istri Menteri UMKM
-
Latar Belakang Istri Bupati Enrekang yang Viral Pelesiran di Markas Real Madrid
Ulasan
-
Bukan Sekadar Isekai: Mengapa Mushoku Tensei Dianggap Pelopor Genre Modern?
-
Simfoni Kesederhanaan Didikan Mamak Nur dan Bapak Syahdan dalam Novel Pukat
-
Maaf Aku Lahir ke Bumi: Refleksi tentang Luka yang Tidak Pernah Bersuara
-
Satire di Balik Tawa: Membaca Indonesia Lewat Buku Esai Lupa Endonesa
-
Cinta Habis di Orang Lama: Romansa Pahit ala The Girl Called Feeling
Terkini
-
iPhone Versi Android? Honor 600 Pro Viral karena Iklan di Depan Apple Store
-
Proyek Bangunan Ternyata Butuh Tumbal? Fakta Menarik di Film Tumbal Proyek
-
Jogja yang Romantis bagi Pelajar, tapi Terasa Pedih bagi Pekerja
-
Murah Tapi Gak Murahan! 7 HP Samsung Terbaik 2 Jutaan
-
Kebiasaan Scrolling Media Sosial: Mengapa Anak Muda Jadi Mudah Insecure?