Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Novel Burung Burung Rantau Karya YB Mangunwijaya. [Gramedia]
Chairun Nisa

Burung-Burung Rantau, yang pertama kali terbit pada awal 1990-an, merupakan karya sastrawan sekaligus rohaniwan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (Romo Mangun) yang terasa sederhana sekaligus rumit. Sederhana karena nyaris tanpa konflik besar atau klimaks menegangkan; rumit karena gagasan-gagasan yang diusung begitu padat dan berat, bahkan terasa seperti novel filsafat. Alurnya mengalir tenang, membawa pembaca pada perenungan tentang manusia dan cara berpikirnya terutama manusia perantau yang semakin bergerak menuju modernitas, atau apa yang dapat disebut sebagai manusia pasca-Indonesia.

Sinopsis

Dengan latar masa Orde Baru, novel ini mengisahkan keluarga Letnan Jenderal purnawirawan Wiranto, mantan duta besar sekaligus perwira tinggi yang di masa pensiunnya masih aktif sebagai komisaris sebuah bank milik pemerintah. Wiranto digambarkan sebagai kepala keluarga yang bijak dan bersahaja. Ia menjalani hari tua bersama istrinya, Yuniati, sosok yang gemar bersosialisasi dan aktif dalam berbagai organisasi kewanitaan. Bersama-sama, mereka menyaksikan anak-anaknya tumbuh dewasa dengan pandangan hidup yang semakin beragam.

Anak sulung, Anggraini (Anggi), adalah seorang pebisnis papan atas yang menimbang setiap langkah hidup berdasarkan untung dan rugi tanpa kompromi. Anak kedua, Wibowo (Bowo), sosok pendiam dan introvert, menekuni dunia fisika nuklir dan astrofisika di CERN. Anak ketiga, Candra, adalah pribadi teknis dan praktis seorang pilot pesawat tempur sekaligus instruktur yang selalu taat pada komando. Anak keempat, Marineti (Neti), tampil paling nyeleneh: kritis, liar, pembangkang, sekaligus sosiowati yang kerap turun ke kawasan kumuh kaum proletar. Adapun si bungsu, Edi, telah lama meninggal terjerumus ke jurang narkotika.

Dengan karakter dan plot yang relatif sederhana, novel ini justru memikat lewat deskripsi tokoh yang kuat serta monolog dan dialog yang menyelingi jalan cerita. Setiap karakter menyimpan gejolak batin yang menjadikan kisah ini terasa seperti sebuah kronik kehidupan.

Percakapan antartokoh dipenuhi metafora dan nuansa filsafat: tentang cara menyikapi keberadaan Tuhan, eksplorasi kosmos makro dan mikro dalam fisika, modernitas dan liberalitas, hingga pernikahan Bowo dengan seorang gadis Yunani di mana filsafat serta bentang alam Yunani tergambar dengan jelas. Hubungan Neti dengan laki-laki berkasta Brahmana dari India pun menimbulkan kekaguman tersendiri atas kepiawaian Romo Mangun menelusuri sejarah dan filsafat India beserta sistem kastanya.

Tokoh-tokoh dalam novel ini digambarkan laksana burung-burung rantau: selalu berusaha menemukan lingkungan ideal yang sejalan dengan cita-cita masa depan, namun tetap membawa ingatan akan asal-usulnya.

Kelebihan Buku

Meski mengangkat topik-topik berat dan kompleks, novel ini tidak terasa memberatkan. Romo Mangun berhasil mengemas pemikiran yang rumit ke dalam balutan sastra fiksi yang menghibur sekaligus mencerahkan. Buku ini menumbuhkan kesadaran bahwa manusia, sebagai makhluk individual, memang rumit; namun sebagai makhluk sosial, ia dituntut untuk menghargai kebebasan berpikir dan toleransi antarsesama.

Kekurangan Buku

Beberapa bagian terasa membosankan karena sarat deskripsi. Novel ini bukan bacaan dengan plot yang menarik, penuh kejutan, atau klimaks yang menggetarkan. Alurnya cenderung lurus dan tenang, bahkan nyaris tanpa puncak dramatik yang benar-benar terasa sebagai klimaks.

Identitas Buku

Judul: Burung-Burung Rantau
Penulis: Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (Romo Mangun)
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit Pertama: 1992
Tahun Terbit Edisi Terbaru: 2014 (edisi sampul baru)
Kategori: Novel / Sastra Indonesia
Bahasa: Indonesia
ISBN (Edisi Terbaru): 978-602-03-0410-6
Jumlah Halaman: ±500–520 halaman (tergantung edisi)
Dimensi Buku: 13,5 × 20 cm