CERPEN: Jam Terakhir di Dunia Peri

Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
CERPEN: Jam Terakhir di Dunia Peri
Ilustrasi foto dunia peri (Nano Banana/ Gemini AI)

Di dunia peri Lumeria, waktu bukan sungai, melainkan jam raksasa yang menggantung di langit. Jarumnya terbuat dari cahaya bintang, dan setiap detiknya adalah kehidupan satu peri. Ketika jam berputar penuh satu lingkaran, satu peri akan lenyap selamanya—bukan mati, tapi terhapus dari ingatan semua makhluk hidup.

Peri-peri tahu aturan itu sejak lahir. Mereka merayakan setiap detik dengan pesta, tarian, dan lagu. Tapi ada satu peri yang berbeda: Liora, peri penjaga jam. Ia tak pernah ikut pesta. Tugasnya hanya satu: memastikan jarum jam tak pernah berhenti.

Suatu hari, jarum jam mulai melambat. Bukan karena rusak, tapi karena peri-peri mulai bosan. Mereka berkata, “Mengapa harus ada yang lenyap? Mengapa waktu harus memakan kita?” Mereka berhenti bernyanyi, berhenti menari. Cahaya bintang di jarum mulai redup.

Liora panik. Ia terbang ke puncak jam, memegang jarum besar yang kini hampir diam. “Kalau jam berhenti,” katanya pada ratu peri, “kita semua akan abadi—tapi dunia ini akan membeku. Tak ada lagi kelahiran, tak ada lagi perubahan.”

Ratu tertawa dingin. “Itulah yang kami inginkan. Keabadian tanpa pengorbanan.”

Malam itu, jarum jam tinggal satu detik lagi sebelum berhenti total. Satu detik terakhir yang akan menentukan: apakah Liora akan menjadi korban terakhir, atau dunia peri akan mati dalam keabadian yang hampa.

Yang membuat cerita ini berbeda adalah pilihan Liora bukan antara hidup atau mati, tapi antara waktu atau kehampaan.

Liora tak memohon. Ia tak menangis. Ia justru melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan peri manapun: ia mematahkan jarum jam dengan tangannya sendiri.

Darah peri—cair seperti embun bintang—menetes ke roda gigi. Jam berderit keras, lalu berputar mundur untuk pertama kalinya dalam sejarah Lumeria.

Waktu mulai mengalir terbalik.

Peri-peri yang sudah lenyap kembali muncul sebagai bayi. Pesta yang dulu dihentikan kini terjadi lagi, tapi dari akhir ke awal. Tawa menjadi tangis, kelahiran menjadi kematian, dan kematian menjadi kelahiran kembali.

Ratu marah. “Kau menghancurkan keseimbangan!”

Liora tersenyum lemah, tangannya masih berdarah. “Tidak. Aku hanya mengubah arahnya. Sekarang, setiap detik bukan memakan satu peri, tapi menghidupkan kembali satu peri yang pernah hilang.”

Tapi ada harga yang mengerikan: karena waktu berputar mundur, ingatan semua peri mulai terbalik juga. Mereka lupa masa depan yang belum terjadi, dan mulai mengingat masa lalu yang seharusnya sudah lenyap. Peri yang dulunya bijak menjadi kanak-kanak. Peri yang dulunya pemberani menjadi penakut.

Liora sendiri mulai lupa siapa dirinya. Ia lupa bahwa ia penjaga jam. Ia lupa mengapa tangannya berdarah.

Hari demi hari—atau malam demi malam, karena waktu kini tak lagi punya arah pasti—dunia peri berubah menjadi mimpi yang berputar. Peri-peri hidup dalam lingkaran abadi: lahir, tumbuh mundur menjadi bayi, lenyap, lalu lahir kembali dari ingatan yang terhapus.

Satu-satunya yang tetap adalah jam di langit. Kini jarumnya berputar tanpa henti, tak lagi memakan peri, tapi juga tak lagi memberi makna pada waktu.

Liora, yang kini hanya peri kecil tanpa nama, duduk di bawah jam setiap hari. Ia menatap jarum yang berputar mundur, dan sesekali tersenyum tanpa tahu mengapa.

Konon, jika ada peri yang cukup berani untuk mematahkan jarum lagi—membuat waktu berhenti atau maju normal—lingkaran ini akan pecah. Tapi tak ada yang mau. Karena di dunia peri yang kini abadi dalam kekacauan, mereka semua bahagia dalam kebingungan.

Mereka tak lagi takut lenyap. Mereka juga tak lagi takut hidup.

Hanya Liora—atau apa yang tersisa darinya—yang kadang menangis tanpa tahu alasannya, saat jarum jam melewati titik yang dulu ia patahkan.

Itulah jam terakhir di dunia peri: bukan akhir waktu, tapi akhir dari makna waktu itu sendiri.

Dan di lingkaran abadi itu, mereka menari selamanya—tanpa tahu bahwa tarian mereka adalah pengulangan dari akhir yang tak pernah selesai.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak