"Ini bukan sekadar beras, Pak Guru. Ini adalah tanda cinta. Kau tidak boleh menolak cinta dari orang yang sudah menghidupi desa kita."
Ketua RW, Pak Subrata, meletakkan karung beras berlogo wajah seorang politisi klimis di depan pintu rumah dinas Pak Damar. Di karung itu tertulis slogan besar: Membangun dengan Hati, Memberi Tanpa Henti.
Pak Damar, seorang guru honorer yang sudah sepuluh tahun mengabdi di Desa Karang Jati, hanya menatap karung itu dengan mengonfirmasikan kekosongan.
“Cinta itu tidak seharusnya membuat orang-orang berhenti bertanya, Pak RW,” jawab Damar datar. "Anak-anak di sekolah mulai gatal-gatal karena air di sumur desa tercemar limbah tambang di balik bukit itu. Kenapa bantuan ini datang, tapi laporan kita soal pencemaran lingkungan selalu menguap di kantor kecamatan?"
Pak Subrata mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan yang mengancam. "Jangan jadi orang yang tidak tahu terima kasih, Damar. Tambang itu yang mendanai sembako ini. Tambang itu yang membangun jembatan darurat tempo hari. Kalau kau terus vokal soal limbah, bulan depan bantuan ini berhenti. Kau mau melihat warga mengeroyokmu karena mereka kekurangan?"
Malam itu, Desa Karang Jati meriah. Ada panggung dangdut besar di lapangan desa. Truk-truk pembawa paket bansos datang beriringan seperti pawai kemenangan. Warga yang memperkenalkan, sorai menyebut nama sang politisi, seolah-olah ia adalah nabi baru yang turun dari ibu kota.
Namun, di sudut gelap puskesmas pembantu yang atapnya bocor, Damar duduk memegang tangan mungil seorang muridnya, Andi. Wajah anak itu pucat, napasnya tersengal.
"Ibu, sesak..." rintih Andi.
“Dokter ke mana?” tanya Damar pada perawat yang tampak tipis.
"Tidak ada dokter, Pak. Dokter satu-satunya sedang di panggung lapangan, diminta memberikan kesaksian tentang betapa hebatnya program kesehatan gratis dari 'Bapak Pembangunan' kita," jawab perawat itu dengan air mata tertahan. "Oksigen kita habis. Anggaran pengadaan obat tahun ini dialihkan ke 'biaya operasional' mobilisasi massal di lapangan."
Dunia Damar serasa berputar. Di luar sana, dentum musik dangdut beradu dengan sorak kegembiraan warga yang memegang amplop berisi uang dua ratus ribu rupiah. Di dalam sini, seorang anak sedang bertaruh nyawa karena sistem kesehatan yang dikorbankan demi "pesta" pada saat itu.
Damar bangkit. Ia mengambil kamera digital miliknya. Dia tidak pergi ke panggung. Ia berjalan mendaki bukit di belakang desa, area terlarang: instalasi pembuangan limbah menuju tambang yang selama ini dijaga ketat oleh preman berseragam organisasi masyarakat.
Berbekal nekat dan pengetahuan tentang jalur tikus peninggalan kakeknya, Damar berhasil mencapai titik pembuangan. Di sana, ia melihat pemandangan yang mengerikan. Pipa besar milik perusahaan tambang yang berafiliasi dengan sang politisi sengaja dialirkan langsung ke hulu sungai saat warga sedang sibuk berpesta di lapangan. Cairan hitam kental berbau belerang keluar dengan deras, mencemari satu-satunya sumber kehidupan warga.
"Kalian meracuni mereka agar kalian bisa memberikan obatnya," desis Damar sambil merekam semuanya.
Tiba-tiba, sorot lampu senter yang sangat terang menerjang wajahnya.
"Kau lagi, Guru?" suara itu berat dan akrab. Itu adalah kepala keamanan tambang, mantan peserta yang sering terlihat minum kopi bersama Pak Subrata. "Kau tahu, di politik, orang yang terlalu tahu biasanya akan 'pensiun' lebih cepat."
Damar mencoba lari, namun kakinya tersangkut akar pohon. Ia terjatuh. Kamera itu terlepas dari tangan, menggelinding ke arah jurang pembuangan limbah.
"Tunggu!" teriak Damar. "Kalian tidak bisa membungkam semua orang! Andi... muridku... dia bisa mati malam ini!"
Si kepala keamanan tertawa dingin. Ia mengambil kamera Damar, melihat isinya, lalu menjatuhkannya ke dalam lingkungan beracun hingga hancur. "Andi hanya satu anak. Besok, Sang Bos akan memberikan santunan kematian yang besar. Warga akan menangis sebentar, lalu memuji Bos karena kemurahhatiannya memberikan biaya pemakaman yang mewah. Itulah cara kerja dunia ini, Damar."
Dua pria tegap mencengkeram lengan Damar, menyeretnya ke tepi tebing curam yang menghadap langsung ke sungai hitam di bawah sana.
“Ada pesan terakhir untuk murid-muridmu?” tanya si kepala keamanan sambil menyalakan pemantik api.
Damar menjawab. Ia melihat ke arah desa. Dari ketinggian itu, lampu-lampu di panggung tampak seperti kembang api yang indah. Namun, dari arah puskesmas, ia melihat satu lampu kecil yang berkedip lalu padam—tanda bahwa oksigen di sana benar-benar telah habis.
“Satu hal,” kata Damar dengan nada yang sangat tenang, meski jantungnya berdegup kencang. "Aku tidak hanya membawa kamera itu ke sini."
Si kepala keamanan mengernyit. “Maksudmu?”
"Aku sedang melakukan siaran langsung dengan ponsel yang tertanam di balik kerah bajuku sejak aku masuk ke area ini. Dan akun yang menyebarkannya... bukan akunku. Tapi akun Facebook resmi Desa Karang Jati yang kata sandinya belum kalian ganti."
Wajah si kepala keamanan berubah pucat. Ia segera merogoh saku Damar, namun ia hanya menemukan sebuah ponsel mainan milik muridnya yang terbawa.
Damar tersenyum tipis. "Ponsel yang asli ada di bawah tumpukan paket sembako di atas panggung utama, di tangan seorang jurnalis yang menyamar jadi pengantar beras. Dia sedang menonton kalian melalui kamera tersembunyi yang kupasang di pohon itu."
Damar menunjuk ke sebuah pohon tua di belakang mereka.
Tiba-tiba, suara sorak-sorai di lapangan desa yang tadinya meriah berubah menjadi suara gaduh. Musik dangdut berhenti mendadak. Teriakan kemarahan warga mulai terdengar samar-samar hingga ke puncak bukit.
Si kepala keamanan panik. Ia melihat ponselnya sendiri, ribuan notifikasi masuk. Video limbah yang dibuang saat pesta sedang berlangsung telah menjadi viral secara lokal. Warga yang tadinya memuja, kini merasa dikhianati saat menyadari bahwa beras yang mereka makan dibeli dengan nyawa anak-anak mereka.
"Matikan dia!" teriak si kepala keamanan dengan kalap.
Ia mendorong Damar ke arah jurang. Damar terjatuh, namun tangannya sempat meraih akar pohon yang menjuntai. Ia tergantung di antara hidup dan mati, tepat di atas sungai hitam yang bergolak.
Di bawah sana, di lapangan desa, massa mulai bergerak menuju area tambang dengan membawa obor. Pesta berubah menjadi pengepungan.
Namun, di tengah kegelapan tebing, sebuah tangan muncul dari balik semak-semak, mengulurkan tangan Damar yang mulai lemas. Damar menatap ke atas, mencoba melihat siapa penyelamatnya.
Wajahnya asing, namun ia mengenakan seragam yang sangat ia kenali: ajudan pribadi sang politisi yang sejak tadi berdiri di belakang panggung.
"Jangan lepaskan," bisik ajudan itu. "Aku punya bukti yang lebih besar dari sekadar limbah. Tapi aku butuh kau untuk tetap hidup agar ada yang berani bicara di pengadilan pusat. Jika kau ikut aku, kau tidak akan bisa kembali ke desa ini lagi. Kau akan jadi target seumur hidup."
Damar menatap desanya yang membara di kedamaian, lalu menatap tangan sang ajudan yang penuh misteri. Apakah ini jebakan baru untuk melenyapkan bukti, ataukah ada faksi lain dalam kekuasaan yang sedang bermain?
Sirene polisi mulai terdengar mendekat dari jarak dekat, namun bukan ke arah lapangan, melainkan ke arah bukit tempat mereka berada.
"Cepat, Damar! Pilih! Mati sebagai pahlawan di sungai ini, atau hidup sebagai pengungsi untuk meruntuhkan kerajaan mereka?"
Tangan Damar gemetar. Akar pohon itu mulai retak.
Apakah Damar memilih untuk percaya pada sang ajudan yang merupakan bagian dari sistem tersebut? Atau ia memilih melepaskan pegangannya dan membiarkan dirinya menjadi martir terakhir di desa itu?