Di desa kecil yang dikelilingi hutan gelap, hidup seorang gadis bernama Mira. Langit malam di sana selalu kosong—tak ada bintang, hanya kegelapan abadi. Legenda mengatakan bahwa ribuan tahun lalu, seorang Dewa yang marah mencabut semua bintang dan menyimpannya di istana langit yang tak terlihat.
Mira berbeda dari anak-anak lain. Ia tak takut gelap. Malam demi malam, ia duduk di atap rumah, menatap langit kosong, dan berbisik, “Kalau aku punya satu bintang saja, aku akan bahagia.”
Suatu malam, angin membawa suara aneh—seperti tawa kecil dari atas. Mira mendongak dan melihat celah kecil di langit, seperti retakan pada kaca hitam. Dari celah itu, cahaya tipis menyusup, dan sebuah bintang kecil jatuh perlahan, seperti daun emas.
Bintang itu mendarat di tangan Mira. Hangat dan berdenyut seperti jantung. “Kau mencuriku,” bisik bintang itu dengan suara lembut. “Tapi aku senang. Sudah lama aku ingin melihat dunia bawah.”
Mira tersenyum. Ia menyembunyikan bintang itu di saku bajunya. Keesokan harinya, langit tetap gelap, tetapi di desa itu ada cahaya kecil yang mengikuti Mira ke mana pun ia pergi. Tanaman yang layu mulai menghijau kembali. Anak-anak yang sakit menjadi sembuh. Orang-orang berbisik tentang keajaiban.
Namun, yang membuat cerita ini berbeda bukan karena Mira mencuri satu bintang—melainkan karena ia mulai mencuri lebih banyak lagi.
Setiap malam, retakan di langit melebar sedikit. Mira belajar memanjat angin, menggunakan tali dari kabut dan sayap dari mimpi. Ia naik ke istana langit yang tak terlihat, tempat Dewa tua menyimpan bintang-bintang dalam gua kristal. Dewa itu sudah sangat tua dan pelupa; ia tertidur ribuan tahun sembari mengira bintang-bintangnya aman.
Mira tidak merampok seenaknya. Ia hanya mengambil bintang-bintang yang “mau ikut”. Ada bintang yang bosan diam di gua dan ingin berkelana. Ada yang rindu cahaya bulan. Ada pula yang ingin menjadi lampu bagi anak kecil yang takut gelap.
Satu per satu, bintang-bintang kembali ke langit. Desa Mira berubah. Malam menjadi indah. Orang-orang menari di bawah cahaya baru. Namun, Mira tak pernah berhenti. Ia merasa setiap bintang yang ia “curi” membuat dunia lebih hidup.
Hingga suatu malam, ia menemukan bintang terbesar—bintang yang dahulu menjadi mata Dewa. Bintang itu tidak berbicara. Ia hanya diam, dingin, dan berat. Mira ragu, tetapi ia tetap membawanya turun.
Saat bintang itu diletakkan di langit, Dewa terbangun. Istana langit berguncang. Dewa turun dalam wujud badai petir, marah karena “pencuri kecil” telah mengosongkan gudangnya.
“Kau telah mencuri segalanya!” teriak Dewa. “Langit milikku!”
Mira berdiri di atap rumah, dikelilingi ribuan bintang yang kini berkelip di sekitarnya seperti teman. “Tidak,” jawabnya tenang. “Langit milik semua orang. Kau menyimpannya untuk diri sendiri, padahal mereka ingin dilihat dan ingin memberi cahaya.”
Dewa mengacungkan tangan untuk menghukum. Namun, bintang-bintang yang dicuri Mira bergerak. Mereka membentuk dinding cahaya untuk melindungi gadis itu. Bintang terbesar—yang dahulu merupakan mata Dewa—berpindah ke dada Mira dan menyatu dengannya.
Kini Mira tak lagi gadis biasa. Dadanya bercahaya seperti bintang. Ia tak bisa mati karena ia membawa hati langit. Dewa mundur. Ia tak lagi punya kekuatan tanpa bintang-bintangnya. Ia pun lenyap menjadi angin biasa.
Langit kini penuh. Namun, Mira tidak turun kembali ke desa. Ia naik ke langit dan menjadi penjaga baru. Tugasnya bukan menyimpan bintang, melainkan memastikan tidak ada lagi cahaya yang terkunci.
Konon, jika kau melihat bintang jatuh yang tidak hilang—yang malah kembali naik—itu adalah Mira yang sedang mengembalikan bintang yang tidak bahagia di bumi. Ia tetap mencuri bintang, tetapi kini ia mengambilnya dari hati orang yang tidak menghargai cahaya untuk diberikannya kepada mereka yang membutuhkan.
Dan di desa kecil itu, anak-anak masih duduk di atap, menatap langit yang penuh, dan berbisik, “Terima kasih, gadis yang mencuri bintang.”
Karena cahaya terindah adalah yang diambil dari keserakahan dan diberikan kepada kegelapan.