Ketika matahari mulai pergi ke tempat peraduannya dan bintang-bintang mulai bermunculan di langit, kau tengah berjalan tertatih menuju kebun bunga yang ditanam olehku, disana terselip aneka bunga, dari bunga melati, sedap malam, mawar dan masih banyak lagi. Namun kau lebih menyukai bunga berwarna semerah darah dengan tangkainya yang penuh duri sebagai bunga favoritmu. Katamu, mawar merah melambangkan cinta sejati, aku terkikik ketika kau mengatakannya. Aku ragu, apakah cinta sejati itu masih ada? Ketika kepalsuan dan kerakusan tengah merajalela di negeri ini. Kau masih kecil, umurmu baru tiga belas, meskipun kau sudah mendapat haid, tapi kau masih terlalu dini untuk mengenal makna cinta sejati, yang sejatinya hanya ada di dongeng-dongeng pengantar tidur yang setiap malam selalu kubacakan.
Aku melihatmu mencium aroma mawar dengan khidmat seakan ingin menyesap sari-sarinya masuk ke tubuhmu yang kurus. Ya, kau selalu tampak kurus, padahal aku selalu mengirimimu banyak makanan, buah-buahan, susu dan vitamin penggemuk badan.
**
Mawar, namamu sama dengan nama bunga favoritmu, aku terpaksa memberimu nama Mawar, karena aku belum menyiapkan nama lain untukmu, meskipun kau lahir di saat aku belum menginginkanmu. Usiaku tujuh belas saat aku mengetahui bahwa di rahimku terdapat sebuah janin, laki-laki yang seharusnya kau panggil ayah telah kabur lebih dulu begitu mengetahui kau tumbuh di rahimku. Aku mencoba meminum berbagai jamu dan memakan banyak buah nanas agar kau segera lenyap dari rahimku, tapi kau begitu kuat bersemai di rahimku, hingga aku menyerah dan membiarkanmu hidup. Tapi, usiaku baru tujuh belas, aku belum siap untuk menjadi seorang ibu. Atas nama kehormatan dan nama baik keluarga, begitu kau lahir ke dunia, aku dan nenekmu menitipkanmu pada salah seorang pembantu yang sebaya denganku, yang sekarang biasa kau sebut sebagai ibu.
**
Aku mulai menyayangimu, ketika melihatmu belajar berdiri, lalu berjalan dan berbicara. Aku senang ketika kau menyebut kata ibu, tapi aku segera menelan pil pahit, entahlah, rasa nyeri seperti mencengkram ulu hatiku, ketika kata itu memang bukan kau tujukan untukku.
Setiap malam, ketika kau tengah terlelap dipeluk mimpi-mimpi, aku selalu datang membacakan dongeng untukmu, mengisahkan puteri dan pangeran yang selalu hidup bahagia, yang mungkin akan jarang kau temukan di kehidupan nyata. Aku hanya bisa datang ketika gelap menyelimuti langit untuk mengirimimu makanan, pakaian, sepatu, boneka, uang jajan dan limpahan materi lainnya. Namun kau tidak bisa memilikiku seutuhnya, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Karena tuntutan profesiku sebagai seorang public figur yang mewajibkanku untuk tampil sempurna dan tidak boleh memiliki catatan kelam di masa lalu.
Aku tertawa ketika Ratri, perempuan yang sering kau panggil dengan sebutan ibu itu mengatakan, bahwa kau tidak mirip dengannya, tapi wajahmu lebih mirip dengan pemain senetron yang sering nongol di televisi, yaitu aku.
**
Bulan terlihat bulat penuh, cahayanya menyebar membuat pendar-pendar di daun dan bunga-bunga, kau tengah terlelap ketika aku datang ke kamarmu. Mengambil buku cerita dan membacakannya untukmu. Aku hampir menangis ketika melihat poster-poster dengan potret diriku menempel di dinding kamarmu, benar kata Ratri, akhir-akhir ini kau mengidolakanku, yang sesungguhnya adalah ibu kandungmu sendiri.
Mawar, kau memang darah dagingku dan selamanya akan tetap seperti itu, tapi selamanya aku tidak akan mengakuimu sebagai anakku, karena popularitas dan nama baik yang kubangun dengan susah payah akan runtuh begitu masyarakat tahu aku memiliki anak di luar pernikahan. Apalah arti sebuah pengakuan Mawar, jika aku selalu ada untuk membacakan dongeng untukmu, mengirimimu banyak hadiah. Disisi lain aku begitu menyayangimu, namun disisi yang berbeda aku juga harus menjaga nama baikku dan keluargaku. Seolah aku memakan buah simalakama.
“Kondisi Mawar semakin parah Laras,” sergah Ratri, ketika aku menanyakan keadaan Mawar.
“Dia harus segera mendapatkan donor hati, kalau tidak...” lanjut Ratri.
“Aku akan mencarinya sampai dapat, kau tenang saja.”
“Aku sudah tidak sanggup Laras, aku kasihan padanya.”
“Jangan pernah kau katakan aku adalah ibu kandungnya, karirku bisa hancur.”
“Kau selalu memikirkan karirmu Laras, tidakkah kau memikirkan anakmu sedikit saja, dia jadi begitu karena dulu ketika kau hamil, kau cekoki dia dengan jamu-jamu sialan itu!”
“Cukup! kau tidak berada di posisiku saat itu!”
“Andai saja, aku tidak menerima tawaran ibumu untuk mengasuh anakmu, mungkin kini aku telah menikah dan memiliki keluarga sendiri, ya andai saja, aku tidak membutuhkan uang untuk berobat ibuku, mungkin aku tidak akan pernah melihat wajah polos gadis kecil tidak berdosa itu, andai saja waktu bisa kuputar lagi...”
“Aku pergi Ratri!”
Pintu kututup dengan keras, mungkin saat itu kau terbangun mendengarnya. Maafkan aku Mawar, aku mengganggu mimpi-mimpimu.
**
Malam semakin hitam, kelam, bintang-bintang tak menampakkan sinarnya sedikitpun, malam ini aku tidak datang ke kamarmu untuk membacakan dongeng, aku sedikit kesal dengan Ratri kemarin. Tapi perkataannya memang benar adanya. Aku egois, aku terlalu memikirkan diriku sendiri. Ketika kau lahir, melihat wajahmu yang bak malaikat sejujurnya hatiku tersentuh, aku mungkin bisa menerima keberadaanmu, namun orangtuaku tidak menghendakimu, mereka memaksaku untuk berpisah denganmu. Maafkan aku Mawar.
Aku sudah mencari-cari donor hati untukmu, bahkan ke luar negeri, tapi nihil. Sesungguhnya aku takut kehilanganmu Mawar, ini semua salahku, tapi kenapa justru kau yang harus menanggungnya?
**
Malam yang sama, hitam tanpa bintang, aku tengah berada di dalam lamborghini milikku, setelah sebelumnya aku mampir untuk melihatmu yang ketika itu tengah mencium dengan khidmat aroma mawar yang kutanam untukmu. Aku sadar sebagai ibu yang melahirkanmu, seharusnya aku berada di sisimu, bahkan ketika kau tengah sekarat, aku malah menjauh darimu. Aku harus menebus kesalahanku pada Tuhan juga pada dirimu.
**
Aku baru sadar setelah mungkin beberapa hari tertidur, aku tengah berada di sebuah rumah sakit yang mewah, bau obat langsung menusuk hidungku, di sampingku ada ibu yang kelihatan habis menangis seraya menonton televisi. Aku ingin bicara, namun tenggorokanku tercekat, sekilas kudengar suara pembaca berita mengabarkan : seminggu pasca kematian aktris terkenal Larasati yang meninggal karena kecelakaan. Dia aktris favoritku.
Ibu menoleh ke arahku sambil berderai air mata, mungkin itu tangis bahagia melihatku telah sadar. Tapi aku masih ingin bertanya pada ibu, siapa orang yang telah mendonorkan hati untukku ibu? tapi ibu sudah berlari memanggil-manggil dokter.
***