Novel 'Makhluk Bumi': Sebuah Luka yang Dinormalisasi

Bimo Aria Fundrika | Asih Purwanti
Novel 'Makhluk Bumi': Sebuah Luka yang Dinormalisasi
Novel makhluk bumi/ Sayaka murata

Membaca Makhluk Bumi karya Sayaka Murata bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Sejak halaman-halaman awal, saya sudah merasa bahwa novel ini tidak sedang mengajak pembaca untuk bersantai, melainkan menyeret masuk ke ruang yang sempit, gelap, dan sering kali membuat napas terasa berat.

Novel ini seperti suara lirih seseorang yang selama ini ditekan, lalu tiba-tiba diberi kesempatan untuk berbicara tanpa sensor.

Tokoh utama novel ini, Natsuki Sasamoto, adalah anak perempuan yang sejak kecil merasa tidak cocok dengan dunia di sekelilingnya. Ia tidak memahami aturan-aturan tak tertulis yang dianggap wajar oleh orang dewasa, yaitu tentang bagaimana seharusnya bersikap, berpikir, dan hidup normal.

Tinggal di keluarga disfungsional dengan ibu yang kasar dan penuh trauma, ayah yang cuek serta kakak perempuan yang sering tantrum. Ditambah lagi pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pak Igasaki, guru sekolahnya sendiri.

Sebagai pembaca, saya langsung merasa berempati pada si tokoh utama, mengalami banyak hal yang tak biasa sejak usianya masih kecil. Semakin jauh membaca, rasa empati itu perlahan berubah menjadi pemahaman yang pahit, barangkali dunia memang terlalu kejam bagi anak-anak seperti Natsuki.

Sejak kecil, Natsuki menciptakan dunia imajinasi tempat ia percaya bahwa dirinya bukan manusia, melainkan makhluk dari planet lain.

Pyut, boneka landak yang ia anggap sebagai anggota kepolisian sihir di planet pohapipinpobopia, ia menjadi satu-satunya tempat aman baginya. Imajinasi dalam novel ini bukan sekadar keanehan, melainkan bentuk perlindungan diri.

Dunia nyata terlalu bising, terlalu menuntut, dan terlalu tidak aman sehingga imajinasi menjadi satu-satunya ruang untuk sekedar bernapas dan bertahan hidup.

Hubungan Natsuki dengan sepupunya, Yuu, yang tinggal di Akishina membuat saya merasa sangat tidak nyaman sekaligus sedih. Keduanya berbagi luka yang tidak pernah benar-benar diakui oleh orang dewasa. Mereka saling menguatkan dalam keyakinan bahwa mereka bukan bagian dari “makhluk bumi”.

Di sini saya mulai menyadari bahwa Makhluk Bumi adalah novel tentang trauma masa kecil. Ketika luka tidak diberi ruang untuk diakui, ia akan mencari bentuk lain, bahkan jika itu berarti menciptakan realitas alternatif.

Saat Natsuki tumbuh dewasa, tekanan sosial semakin terasa menyesakkan. Ia dihadapkan pada tuntutan untuk menikah, bekerja, dan berperan sebagai perempuan “normal”, padahal dirinya memiliki luka masa kecil yang belum selesai.

Pernikahannya dengan Tomomi terasa dingin, namun justru di situlah letak kejujurannya. Mereka tidak menikah karena cinta, tetapi karena ingin bertahan hidup dalam sistem sosial.

Bagian paling sulit dari novel ini adalah ketika cerita bergerak semakin ekstrem. Murata tidak memberi jarak aman bagi pembaca. Saya beberapa kali ingin berhenti membaca, bukan karena bosan, tetapi karena tidak siap menerima apa yang disuguhkan.

Namun justru di situlah kekuatan novel ini, ia tidak berusaha menyenangkan pembaca. Ia memaksa kita menghadapi pertanyaan yang tidak ingin kita pikirkan, tentang normalitas, tentang kemanusiaan, dan tentang siapa yang berhak menentukan batas kewarasan.

Gaya bahasa Sayaka Murata terasa datar, hampir tanpa emosi, tetapi justru hal itulah yang membuat kisah ini terasa mengerikan.

Tidak ada melodrama. Tidak ada penghakiman. Semua disampaikan seolah-olah hal-hal paling mengerikan adalah sesuatu yang biasa. Setelah selesai membaca, saya merasa terguncang bukan karena kejadian-kejadian ekstremnya semata, melainkan karena saya menyadari betapa banyak kekerasan yang dinormalisasi hanya untuk “menjadi normal”.

Bagi saya, Makhluk Bumi bukan novel tentang kegilaan, melainkan tentang dunia yang terlalu sempit bagi orang-orang yang berbeda.

Novel ini membuat saya bertanya, apakah yang disebut normal itu benar-benar manusiawi? Atau justru kita semua sedang memaksakan diri hidup sebagai “makhluk bumi” yang patuh, meski perlahan kehilangan empati?

Novel ini tidak akan cocok untuk semua orang. Ia gelap, mengganggu, dan meninggalkan rasa tidak nyaman . Namun, bagi pembaca yang siap menghadapi cerita yang jujur dan kejam tentang manusia dan masyarakatnya, Makhluk Bumi adalah pengalaman membaca yang sulit dilupakan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak