Raka selalu percaya bahwa hidupnya akan berputar di sekitar mesin. Sejak masuk SMK jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif, ia sudah terbiasa dengan suara besi beradu, bau oli yang menempel di seragam, dan tangan yang tak pernah benar-benar bersih.
Ia bukan siswa paling menonjol, bukan pula yang paling pandai berbicara. Raka adalah tipe siswa yang lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, Raka sudah berada di bengkel sekolah. Ia membersihkan peralatan praktik, memeriksa kunci pas, dan memastikan mesin latihan siap digunakan.
Baginya, bengkel adalah tempat paling jujur. Mesin tidak pernah berbohong. Jika rusak, pasti ada sebabnya. Jika diperbaiki dengan benar, mesin itu akan kembali bekerja.
Berbeda dengan dunia manusia, pikir Raka.
Hingga suatu hari, sekolah mengadakan program kolaborasi antarkejuruan. Siswa otomotif dan TKJ diminta bekerja sama membuat proyek kendaraan sederhana dengan sistem kelistrikan dan jaringan dasar. Raka awalnya tidak terlalu tertarik. Ia hanya ingin mengerjakan bagian mesinnya, lalu pulang.
Namun, hari itu pandangannya terhenti pada seorang siswi yang duduk di sudut bengkel sambil membuka laptop.
Namanya Aira.
Aira adalah siswi kelas dua SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Rambutnya selalu diikat rapi, seragamnya bersih, dan caranya berbicara tenang.
Ia tidak banyak tertawa keras seperti siswi lain, tetapi senyumnya hangat dan sopan. Aira terbiasa dengan kabel, sistem, dan logika komputer, dunia yang sangat berbeda dengan dunia Raka.
“Ini kabelnya disambung ke sini, ya?” tanya Aira pelan sambil menunjuk bagian rangka motor modifikasi.
Raka mengangguk. “Iya. Tapi hati-hati, jangan sampai kena mesin.”
Aira tersenyum kecil. “Tenang, aku biasa.”
Sejak percakapan singkat itu, Raka mulai memperhatikan Aira. Bukan dengan cara berlebihan, hanya sekadar sadar bahwa ada seseorang yang membuat bengkel terasa sedikit berbeda.
Setiap kali Aira datang, Raka bekerja lebih rapi. Ia membersihkan tangannya sebelum berbicara, meski tahu percuma.
Hari-hari proyek membuat mereka sering bertemu. Awalnya hanya membahas tugas, lalu mulai bercerita tentang hal-hal kecil. Tentang guru yang galak, tentang tugas yang menumpuk, hingga tentang cita-cita setelah lulus.
“Aku ingin kerja di perusahaan IT,” kata Aira suatu sore.
Raka mengangguk. “Bagus. Aku ingin buka bengkel.”
“Bengkel sendiri?”
“Iya. Kecil tidak apa-apa, yang penting jujur.”
Aira tersenyum. “Keren.”
Kata itu sederhana, tetapi cukup membuat Raka terdiam lama.
Perasaan itu tumbuh tanpa disadari. Raka mulai menunggu jam proyek dengan sedikit rasa gugup. Ia bukan tipe siswa yang mudah jatuh cinta, apalagi berani mengungkapkan. Dunia Raka sederhana, sekolah, bengkel, rumah. Sementara Aira terlihat seperti seseorang yang memiliki masa depan luas.
Namun, kebersamaan kecil mereka terus berlanjut. Sepulang sekolah, mereka sering duduk di taman. Aira membuka laptop untuk mengerjakan tugas, Raka duduk di sampingnya sambil membersihkan baut atau sekadar menemaninya dalam diam.
“Kamu tidak bosan duduk sama aku?” tanya Aira suatu hari.
Raka menggeleng. “Tidak.”
“Jarang siswa otomotif yang mau mendengarkan aku cerita soal jaringan.”
Raka tersenyum tipis. “Aku suka mendengarkan kamu bercerita.”
Aira terdiam sejenak, lalu tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Dua minggu berlalu. Proyek hampir selesai. Raka mulai merasa takut. Takut setelah proyek ini berakhir, kebersamaan mereka ikut berakhir. Ia sadar, mereka berbeda jurusan, berbeda kelas, dan berbeda dunia.
Suatu sore, hujan turun deras. Banyak siswa berteduh di koridor. Aira berdiri sendirian, menunggu hujan reda.
“Kamu belum pulang?” tanya Raka.
“Menunggu hujan,” jawab Aira.
Raka membuka jaketnya. “Aku antar sampai gerbang.”
Perjalanan singkat itu terasa panjang. Hujan menjadi suara latar yang membuat Raka semakin gugup. Saat sampai di gerbang sekolah, Aira berhenti.
“Makasih, Rak.”
“Iya.”
Hening.
“Aira,” kata Raka pelan, “kalau nanti proyek selesai, kita masih bisa ngobrol, kan?”
Aira menatapnya, lalu tersenyum. “Kenapa tidak?”
Jawaban itu membuat dada Raka terasa ringan.
Hari-hari setelah proyek selesai ternyata tidak seburuk yang Raka bayangkan. Mereka tetap bertemu, meski tidak sesering sebelumnya. Kadang di kantin, kadang di taman, kadang hanya saling menyapa di lorong sekolah.
Perasaan Raka semakin jelas. Namun, ia juga semakin ragu. Ia takut merusak hubungan yang sudah ada. Takut ditolak. Takut kehilangan.
Sebulan berlalu sejak proyek pertama mereka.
Suatu siang, Aira duduk di bangku taman dengan wajah lelah.
“Kamu kenapa?” tanya Raka.
“Capek,” jawab Aira jujur. “Tugas banyak, pikiran juga banyak.”
Raka duduk di sampingnya. “Kalau capek, istirahat.”
Aira menatap Raka. “Kamu selalu tenang, ya.”
Raka tersenyum kecil. “Mesin mengajarkan aku begitu.”
Aira tertawa pelan. “Kamu aneh.”
“Tapi?”
“Tapi bikin nyaman.”
Kata itu membuat Raka tahu, ia tidak bisa terus diam.
Dua bulan sejak pertama kali mereka bekerja bersama. Suatu sore setelah pulang sekolah, Raka mengajak Aira ke kelas yang sudah kosong. Jantungnya berdebar keras.
“Aira,” katanya, “aku bukan orang yang pandai bicara.”
Aira menatapnya serius.
“Aku anak otomotif. Hidupku mesin, bengkel, dan hal-hal sederhana,” lanjut Raka. “Tapi sejak kenal kamu, aku merasa hari-hariku lebih berarti.”
Aira terdiam.
“Aku suka kamu,” ucap Raka akhirnya. “Kalau kamu belum siap, aku mengerti. Aku cuma ingin jujur.”
Hening panjang.
“Aku kira kamu tidak bakal ngomong,” kata Aira pelan. “Aku juga menunggu.”
Raka terkejut. “Maksud kamu?”
Aira tersenyum. “Aku juga suka kamu, Rak.”
Dunia Raka seakan berhenti sesaat.
“Kalau begitu,” lanjut Aira, “kita coba jalani bersama?”
Raka mengangguk, senyumnya lebar. “Pelan-pelan?”
“Iya. Pelan-pelan.”
Sejak hari itu, siswa otomotif dan siswi TKJ itu resmi berpacaran. Bukan dengan gaya berlebihan, bukan pula penuh pamer. Mereka tetap belajar, tetap mengerjakan tugas, dan saling mendukung mimpi masing-masing.
Di kelas dua SMK, di antara mesin dan kabel, cinta sederhana itu tumbuh—tenang, jujur, dan penuh harapan.
Tamat.