Di hutan purba yang daunnya tak pernah kering, berdiri pohon beringin raksasa bernama Pohon Penutup Langit. Tingginya menembus awan, akarnya merangkul tanah seperti pelukan ibu. Di puncaknya yang paling tinggi, hidup seekor kera tua bernama Kala. Bulunya sudah memutih, matanya redup, tapi sorotnya tajam seperti pisau yang tersembunyi.
Hewan-hewan hutan memanggilnya “Kera di Atas”. Bukan karena posisinya, melainkan karena ia jarang turun. Setiap pagi, ketika matahari baru menyapa, Kala duduk diam di dahan tertinggi, memandang seluruh lembah. Ia tak pernah ikut berebut buah, tak pernah terlibat perkelahian, tak pernah berteriak memamerkan kekuatan. Hanya diam. Dan diamnya itu membuat semua hewan penasaran sekaligus kesal.
“Apa gunanya duduk di atas terus?” gerutu si Macan Tutul suatu hari. “Ia tak membantu siapa pun. Hanya menonton kita susah payah.”
“Benar,” sahut si Burung Merak. “Kalau dia bijak, mengapa tak pernah memberi nasihat?”
Hanya seekor anak monyet kecil bernama Cici yang tak ikut mencela. Setiap sore, Cici memanjat setinggi mungkin, mendekati Kala, lalu duduk diam di dahan bawahnya. Tak bertanya. Tak mengganggu. Hanya mendengar angin dan melihat ke arah yang sama dengan Kala.
Suatu musim kemarau panjang tiba. Sungai mengecil menjadi genangan lumpur. Buah-buahan gugur sebelum masak. Kelaparan merayap ke setiap sudut hutan. Pertengkaran meletus di mana-mana. Macan mengejar rusa lebih ganas. Burung-burung saling mencuri sarang. Bahkan semut pun bertikai memperebutkan remah terakhir.
Di tengah kekacauan itu, Cici sakit. Demam tinggi. Tubuh kecilnya menggigil di bawah pohon beringin. Ibunya sudah meninggal tahun lalu. Tak ada yang peduli. Kecuali Kala.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Kala turun dari puncak. Langkahnya pelan, tapi tegas. Ia membawa sehelai daun lebar yang masih basah embun malam—satu-satunya sisa air di hutan. Dengan hati-hati ia meneteskan embun itu ke mulut Cici. Lalu ia menggenggam tangan kecil monyet itu, dan berbisik,
“Bertahanlah. Hutan ini belum selesai bercerita.”
Keesokan paginya, kabar menyebar: Kera di Atas turun. Semua hewan berkumpul di bawah pohon beringin, menanti. Mereka menyangka Kala akan marah, menghukum, atau setidaknya berpidato panjang. Tapi Kala hanya berkata satu kalimat,
“Lihat ke atas.”
Mereka mendongak. Di puncak pohon, dahan-dahan tertinggi tampak kering. Namun di sela-sela ranting yang tampak mati itu, terselip tunas-tunas kecil berwarna hijau pucat. Hampir tak terlihat dari bawah.
“Itu bukan tunas biasa,” kata Kala. “Itu harapan yang kalian anggap sudah mati.”
Ia menunjuk satu per satu.
“Macan Tutul, dulu kau pernah menyelamatkan anak rusa dari banjir, tapi kau lupa karena sekarang kau lapar. Burung Merak, kau pernah bernyanyi untuk menenangkan anak-anak kelinci yang tersesat, tapi kau lupa karena sekarang kau takut kehilangan bulu indahmu. Semut, kalian pernah membangun jembatan dari tubuh kalian sendiri untuk menyelamatkan ratu, tapi sekarang kalian bertengkar hanya untuk sebutir gula.”
Hening. Tak ada yang berani membantah.
Kala melanjutkan, suaranya tetap pelan tapi menusuk,
“Aku tak pernah turun bukan karena sombong. Aku takut kalau turun, aku lupa melihat dari atas. Dari atas, aku melihat bukan hanya pohon yang kering, tapi juga tunas yang masih hidup. Bukan hanya kelaparan hari ini, tapi juga benih yang kalian tanam kemarin. Bukan hanya musuh di depan mata, tapi juga sahabat yang kalian lupakan.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Jika kalian hanya melihat apa yang ada di depan kaki, kalian akan terus bertarung. Jika kalian mau naik sedikit lebih tinggi—hanya sedikit—kalian akan melihat ada jalan lain.”
Macan Tutul menunduk. “Bagaimana caranya naik kalau kaki kita sudah lelah?”
Kala tersenyum tipis. “Mulai dari membantu yang lebih lemah. Satu langkah kecil ke atas. Membantu Cici naik satu dahan. Membantu semut menyeberang genangan. Memberi setetes air pada burung yang haus. Itu sudah cukup untuk mulai melihat lebih tinggi.”
Hari itu, sesuatu berubah.
Macan Tutul membawa daging untuk anak-anak rusa yang kelaparan. Burung Merak bernyanyi lagi, bukan untuk pamer, tapi untuk memberi semangat. Semut membangun saluran kecil dari daun untuk mengalirkan sisa air ke lubang-lubang kecil yang membutuhkan. Dan Cici, dengan tubuh yang perlahan membaik, memanjat lagi—bukan untuk mencapai puncak, tapi untuk mendekati Kala dan berkata,
“Terima kasih. Aku ingin jadi seperti kamu suatu hari nanti.”
Kala menggeleng pelan. “Jangan jadi seperti aku. Jadilah lebih baik. Turunlah sesekali. Ajak yang lain naik bersamamu.”
Musim kemarau akhirnya berlalu. Hujan turun deras. Pohon beringin kembali hijau. Tunas-tunas kecil di puncak tumbuh menjadi dahan baru. Dan Kala? Ia kembali ke puncak. Tapi kini tak sendirian. Setiap sore, ada beberapa hewan yang memanjat lebih tinggi dari biasanya—hanya untuk melihat apa yang dilihat Kala. Mereka tak lagi memanggilnya “Kera di Atas”. Mereka memanggilnya “Kala yang Mengajak Naik”.
Dan di antara angin sore yang sejuk, terdengar bisik pelan dari puncak pohon,
“Tak perlu jadi yang tertinggi. Cukup jadi yang mau melihat lebih tinggi dari kemarin.”