Rumput yang Iri Pada Bunga

M. Reza Sulaiman | Nur Khikmatia Hasna
Rumput yang Iri Pada Bunga
Ilustrasi bunga yang tumbuh di antara rerumpputan (Pexels/Richard REVEL)

Di sebuah padang luas yang terbentang di antara bukit dan sungai kecil, rumput tumbuh memenuhi tanah sejauh mata memandang. Hijau, rapat, dan rendah. Mereka hidup berdampingan, saling menekan, saling berbagi ruang, nyaris tak pernah diperhatikan siapa pun.

Di tengah padang itu, bunga tumbuh.

Bunga yang tumbuh tidak banyak jumlahnya. Mereka muncul di sela-sela rumput, dengan warna yang mencolok: merah, kuning, ungu, putih. Setiap kali angin bertiup, kelopak mereka bergerak lembut, menarik mata siapa saja yang lewat. Lebah datang. Kupu-kupu singgah. Bahkan manusia kadang berhenti, menunjuk, lalu memetik.

Rumput melihat semua itu.

Sejak lama, rumput tahu bahwa dirinya ada. Ia hidup, tumbuh, mengering, lalu tumbuh kembali. Namun, ia juga tahu bahwa jarang ada yang benar-benar melihatnya. Kaki manusia menginjaknya. Hewan memakannya. Angin hanya lewat tanpa berhenti.

"Apa yang membuatmu begitu istimewa?" tanya Rumput suatu hari pada Bunga yang tumbuh tak jauh darinya.

Bunga tidak langsung menjawab. Ia sedang menikmati sinar matahari yang jatuh tepat di kelopaknya. "Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Aku hanya tumbuh seperti ini."

Rumput merasa panas di akarnya. Ia sangat iri. Bunga tidak perlu berusaha keras untuk diperhatikan. Sementara rumput, meski jumlahnya tak terhitung, tetap dianggap latar belakang dan tak diperhatikan.

Setiap pagi, embun jatuh sama rata. Matahari menyinari semuanya. Air hujan meresap ke tanah tanpa memilih. Namun, ketika manusia datang, mereka melihat bunga lebih dulu.

"Indah," kata mereka.

Rumput mendengar itu dan merasa kecil.

Ia mulai membandingkan dirinya. Batangnya tipis. Warnanya hijau biasa. Tidak ada aroma, tidak ada warna mencolok. Ia bertanya-tanya apakah hidupnya berarti jika tidak ada yang mengaguminya. Apa gunanya jika ia hidup lalu mati begitu saja tanpa ada satu makhluk pun yang memuji atau sekadar memperhatikan eksistensinya.

Bunga, di sisi lain, hidup dengan kecemasan yang tidak dilihat rumput. Setiap hari ia takut dipetik, takut layu lebih cepat, dan takut menjadi tanaman yang paling singkat hidupnya di padang itu. Meski begitu, bunga jarang mengeluh. Ia tahu hidupnya memang singkat.

Suatu hari, musim kemarau datang lebih awal. Matahari terasa lebih dekat. Tanah mulai retak. Air sungai menyusut. Rumput dan bunga merasakannya bersama.

Rumput menguning perlahan. Ia masih banyak, tetapi tubuhnya melemah. Bunga kehilangan kilau. Kelopaknya mulai rontok satu per satu.

Ketika angin panas bertiup, manusia datang membawa ternak. Hewan-hewan itu memakan rumput tanpa ragu. Rumput merasa sakit, tetapi juga merasa dibutuhkan. Ia memberi makan, meski tidak dipuji.

Bunga tidak dimakan. Hewan melewatinya. Namun, beberapa hari kemudian, seorang anak datang dan memetiknya, mengikatnya menjadi rangkaian kecil, lalu membawanya pergi. Bunga tidak sempat mengucapkan apa pun.

Rumput menyaksikan itu dengan perasaan campur aduk. Ia iri pada perhatian yang didapat bunga, tetapi juga melihat bagaimana bunga pergi lebih cepat.

Musim terus berjalan. Hujan akhirnya turun deras. Tanah yang retak kembali basah. Rumput yang tersisa tumbuh lagi. Hijau baru muncul dari batang lama. Padang mulai hidup kembali.

Beberapa minggu kemudian, tunas bunga baru muncul. Warnanya belum terlihat, tetapi harapan tumbuh bersama mereka.

"Aku iri padamu," kata Rumput suatu pagi pada tunas kecil itu. "Kalian selalu dilihat."

Bunga muda itu terdiam sejenak. "Aku juga iri padamu, rumput," katanya pelan. "Kalian selalu bertahan."

Rumput terkejut. Ia tidak pernah memikirkan dirinya seperti itu.

"Kami hidup singkat," lanjut Bunga. "Kami indah, tapi mudah hilang. Kalian diinjak, dimakan, mengering, tapi selalu kembali."

Rumput memikirkan kata-kata itu. Ia merasakan akarnya yang saling terhubung dengan rumput lain, membentuk jaringan luas yang menahan tanah agar tidak hanyut. Ia menyadari bahwa padang ini ada karena mereka.

Hari-hari berlalu. Padang kembali ramai. Bunga-bunga bermekaran. Rumput tumbuh lebat. Manusia datang dan pergi. Hewan merumput. Angin juga terus bertiup.

Rumput tidak lagi bertanya mengapa ia tidak diperhatikan. Ia mulai memahami bahwa perannya berbeda. Ia bukan pusat perhatian, tetapi dasar dari segalanya. Tanpa rumput, tanah akan terbuka. Tanpa tanah yang stabil, bunga pun tak bisa tumbuh.

Bunga juga belajar. Mereka tidak lagi merasa paling penting hanya karena dilihat. Mereka tahu keindahan mereka singkat, dan itu tidak membuatnya lebih tinggi dari yang lain.

Di padang itu, iri tidak pernah benar-benar hilang. Kadang rumput masih ingin berwarna cerah. Kadang bunga masih ingin hidup lebih lama. Namun, keduanya belajar hidup berdampingan.

Rumput tetap menjadi alas yang menahan tanah dan menanggung pijakan, bunga tetap menjadi penanda musim yang memberi warna dan arah waktu, dan padang itu tetap utuh karena keduanya, yang berbeda namun saling membutuhkan, tumbuh dari tanah yang sama, berbagi hujan yang sama, dan bertahan dengan cara yang tidak pernah benar-benar serupa.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak