Sayap Kecil yang Menantang Badai

M. Reza Sulaiman | Angelia Cipta RN
Sayap Kecil yang Menantang Badai
Ilustrasi Cerita Lebah pekerja (Gemini AI)

Di tepi hutan di sekitaran taman bunga liar, di antara kelopak-kelopak yang selalu menghadap matahari, berdirilah sebuah sarang lebah tua yang sudah ada jauh sebelum musim hujan tiba.

Sarang itu bukan yang terbesar, bukan pula yang paling indah. Dindingnya sederhana di beberapa sisi dan bagian bawahnya tampak pernah rusak diterpa hujan panjang. Namun, di dalamnya tinggal koloni yang bertahan dengan satu prinsip sederhana: bekerja hari ini agar esok bisa tetap hidup.

Di antara ribuan lebah pekerja itu, ada seekor lebah kecil bernama Hachi. Tubuhnya lebih mungil dari lebah lain. Sayapnya tipis dan tak sekuat teman-temannya.

Ketika lebah-lebah muda pertama kali belajar terbang jauh, Hachi selalu tertinggal. Ia bukan yang tercepat. Bukan yang paling tangguh. Bahkan, beberapa lebah sering berbisik pelan saat ia berjuang naik melawan angin.

"Dia terlalu kecil untuk perjalanan jauh," ujar mereka dengan rasa iba melihat kondisi Hachi.

"Sayapnya lemah."

"Dia tidak akan bertahan lama jika terus memaksakan diri."

Hachi mendengar semuanya. Dadanya sering sesak dan hancur karena cemoohan mereka. Namun, setiap pagi saat matahari membuka hari dengan cahaya emasnya, Hachi tetap berdiri paling depan di pintu sarang. Ia akan terus berjuang dan selalu berangkat paling awal.

Bukan karena ia kuat, melainkan karena ia takut tertinggal dan tidak berguna bagi koloninya.

Hari pertama musim kering datang dengan angin panas. Bunga-bunga mulai jarang, semuanya layu. Perjalanan mencari nektar menjadi lebih panjang dari biasanya. Lebah-lebah pekerja harus terbang lebih jauh ke padang terbuka, tempat angin lebih liar dan burung-burung lebih lapar.

Pemimpin koloni mengumpulkan semua lebah.

"Perjalanan hari ini berbahaya," katanya. "Yang lemah harus tinggal di sarang."

Hachi tahu kalimat itu ditujukan untuknya.

Beberapa lebah menoleh sinis ke arahnya. Sudah pasti ia harus menjaga sarang.

Ia bisa saja tinggal. Tak ada yang akan menyalahkannya. Namun, bayangan sarang kosong di musim dingin lebih menakutkan daripada angin besar.

"Aku ingin tetap ikut," katanya pelan.

Tidak ada yang menjawab. Hanya angin yang lebih dulu menelan suaranya.

Perjalanan pertama itu hampir merenggut nyawanya. Angin memukul tubuh kecilnya seperti dinding tak terlihat. Ia berputar, jatuh, nyaris terseret ke tanah. Lebah-lebah lain melaju jauh di depan. Untuk beberapa detik, Hachi sendirian di udara yang luas.

"Aku tidak bisa," gumamnya dalam hati.

Sayapnya gemetar, matanya ikut terpejam menahan angin. Namun, di bawahnya ia melihat ladang bunga kering. Tanpa nektar. Tanpa harapan.

Kalau ia kembali, sarang akan kehilangan satu tetes madu. Satu tetes mungkin kecil. Akan tetapi, musim dingin tidak pernah menghitung kecil atau besar. Ia hanya datang.

Hachi mengepakkan sayapnya lagi, lagi, dan lagi.

Setiap kepakan seperti menolak kalah. Ketika akhirnya ia mendarat di bunga terakhir yang tersisa di ujung ladang, tubuhnya gemetar kelelahan. Tapi nektar itu ada. Sedikit. Sangat sedikit. Ia mengumpulkannya seperti mengumpulkan alasan untuk tetap bertahan hidup.

Saat kembali ke sarang, ia jatuh di pintu masuk. Lebah-lebah lain mengira ia tak selamat. Namun, Hachi bangun. Madu kecil itu tetap ia bawa dengan sepenuh jiwanya.

Hari-hari berikutnya lebih berat. Badai datang tanpa peringatan. Burung-burung mulai mengintai jalur lebah mencari makan.

Bunga semakin jarang. Banyak lebah kuat mulai menyerah diam-diam. Mereka terbang lebih pendek. Mengumpulkan lebih sedikit. Harapan hidup mulai menipis seperti musim dingin yang terus memanjang. Namun, Hachi tidak berhenti.

Ia selalu berangkat awal dan pulang paling akhir. Tubuhnya lelah dan penuh debu, sayapnya lecet. Namun, setiap hari ia tetap teguh membawa nektar sedikit demi sedikit.

Suatu sore, badai besar datang. Langit cerah kini berubah menjadi hitam seperti malam yang jatuh terlalu cepat. Angin memecah arah. Hujan menampar udara. Lebah-lebah yang sedang terbang panik.

"Pulang!" teriak seseorang yang membuat semua lebah berhamburan.

Namun, Hachi berada paling jauh. Ia melihat sarang seperti titik kecil di kejauhan. Angin terus mendorongnya ke arah yang salah. Hujan membuat sayap kecilnya semakin berat. Ia terpental dan jatuh.

Untuk pertama kalinya, Hachi menyentuh tanah. Dunia terasa dingin, basah, dan sunyi. Ia kembali mencoba mengepak, tetapi tubuhnya tidak mau bergerak. Di atasnya badai meraung seperti dunia sedang dihapus.

"Aku gagal," katanya yang kali ini disertai derai air mata bercampur hujan yang mengguyurnya.

Matanya tertutup dan untuk sesaat ia pasrah.

Akan tetapi, sesuatu yang hangat menyentuh tubuhnya. Seekor lebah tua mendarat di sampingnya. Itu penjaga sarang yang paling senior, lebah yang jarang terbang jauh lagi.

"Bangun," katanya pelan.

"Aku tidak bisa, sayapku rapuh," katanya.

"Kamu sudah bergerak sejauh ini. Kau tidak boleh menyerah hanya karena kondisimu yang berbeda dari lebah lainnya," tambahnya yang kali ini membuat Hachi semakin pasrah dengan keadaan.

"Aku lelah, sangat lelah."

Lebah tua itu mendekat.

"Semua yang bertahan hidup pernah lelah. Yang membedakan mereka adalah mereka bangun dan berusaha lagi."

Hachi menangis. Lebah jarang menangis, tapi jika bisa, air matanya pasti jatuh seperti hujan kecil. Dengan sisa tenaga yang tidak ia tahu masih ada, Hachi kembali mengepak.

Satu kali.

Dua kali.

Badai tak kunjung berhenti. Namun, ia terbang meski perlahan dan terhuyung angin. Dan setiap meter terbangnya terasa seperti kemenangan pribadi atas dunia.

Ketika ia tiba di sarang, seluruh koloni hening. Mereka melihat tubuh kecil itu masuk dengan sayap hampir sobek, tetap kokoh membawa nektar.

Lebah-lebah yang dulu meragukannya menunduk, bukan karena malu, melainkan karena sadar kekuatan tidak selalu terlihat dari ukuran tubuh. Kadang ia hidup di dalam tekad.

Musim dingin akhirnya datang yang menjadi keheningan panjang. Namun, sarang itu tetap bertahan dengan stok madu yang cukup. Dan setiap lebah tahu, bahwa cukupnya madu itu karena ada seekor lebah kecil yang menolak menyerah saat yang lain mulai meragu.

Hachi tidur sepanjang musim dingin dengan sayap rusak yang perlahan sembuh. Tubuhnya penuh bekas luka. Tapi hatinya hangat. Ia tidak menjadi lebah terkuat. Ia juga tidak menjadi yang tercepat. Namun, ia menjadi alasan bahwa koloni mereka tetap bertahan dan itu lebih besar dari kemenangan pribadi mana pun.

Musim semi kembali. Bunga bermekaran seperti janji baru. Lebah-lebah muda mulai belajar terbang dan berburu nektar. Salah satu dari mereka jatuh berkali-kali. Ia menangis dan nyaris menyerah.

"Aku tidak bisa," katanya.

Hachi mendarat di sampingnya. Ia tersenyum lembut.

"Semua yang bisa pun pernah tidak bisa."

Lebah kecil itu menatapnya serius. "Benarkah?"

Hachi mengangkat sayapnya yang bekas lukanya masih terlihat.

"Ini buktinya. Aku juga dulu pernah meragukan diriku, tetapi kini tidak lagi," katanya pelan.

"Terbang bukan tentang tidak jatuh. Terbang adalah tentang bangun setiap kali jatuh."

Lebah kecil itu mengepak lagi dan kali ini, ia bertahan lebih lama di udara.

Tahun-tahun telah berlalu. Sosok Hachi menjadi legenda kecil di koloni. Bukan legenda tentang kekuatan, melainkan legenda tentang semangat. Lebah-lebah muda tumbuh dengan cerita tentang lebah mungil yang menantang badai. Dan setiap kali angin terasa terlalu besar, mereka mengingat satu hal:

Jika Hachi bisa, mereka juga pasti bisa.

Semangat bukan milik yang paling kuat, melainkan milik yang paling gigih. Pantang menyerah bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi selalu memilih bangun dan berusaha.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak