Rilis Februari 2026, Film 'The Mortuary Assistant': Teror Iblis Kamar Mayat

Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Rilis Februari 2026, Film 'The Mortuary Assistant': Teror Iblis Kamar Mayat
Kolase Poster Film 'The Mortuary Assistant' (IMDb)

Film horror Amerika bertajuk 'The Mortuary Assistant' hadir sebagai adaptasi horor yang memilih jalur sunyi namun menusuk, memanfaatkan rasa tidak nyaman yang tumbuh perlahan. Bisa dibilang ini menjadi salah satu film horror yang mengandalkan genre supernatural dan misteri.

Sinopsis Film ‘The Mortuary Assistant’

Film ini mengikuti Rebecca Owens, seorang petugas kamar mayat yang baru saja diterima bekerja dan harus menjalani shift malam pertamanya seorang diri. Alih-alih menjadi malam adaptasi yang canggung namun biasa, Rebecca justru terjebak dalam pengalaman yang secara perlahan meruntuhkan batas antara realitas, ketakutan, dan sesuatu yang jauh lebih gelap.

Sejak menit-menit awal, film ini langsung menanamkan atmosfer dingin yang menekan. Kamar mayat digambarkan bukan sekadar ruang kerja, melainkan ruang liminal tempat di mana kehidupan telah selesai, tetapi kematian belum benar-benar diam.

Rebecca ditampilkan sebagai karakter yang rapuh namun berusaha profesional, sosok yang mencoba menenangkan diri dengan prosedur dan rutinitas. Justru di situlah letak kekuatan film ini horor tidak datang dari jeritan atau musik keras, melainkan dari detail pekerjaan yang secara perlahan menjadi tidak wajar.

Salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika Rebecca harus menjahit mulut mayat menggunakan kawat. Secara teknis, ini adalah prosedur standar, namun kamera memilih untuk tidak menjauh.

Setiap tarikan kawat, setiap gerakan tangan yang ragu, menjadi sumber ketegangan yang nyaris fisik bagi penonton. Film ini memahami bahwa rasa jijik dan takut sering kali berakar pada hal-hal yang terlalu dekat dengan realitas, bukan yang sepenuhnya fantastis.

Memasuki paruh berikutnya, ‘The Mortuary Assistant’ mulai bermain dengan gangguan psikologis dan teror supernatural. Rebecca mengalami penampakan, suara-suara samar, hingga halusinasi yang membuatnya dan penonton meragukan apa yang benar-benar terjadi.

Entitas iblis yang merasukinya tidak diperlihatkan secara eksplisit sejak awal, melainkan hadir sebagai tekanan konstan yang mengikis kewarasan. Ini adalah pendekatan horor yang menuntut kesabaran, namun memberi imbalan berupa rasa takut yang bertahan lama.

Peran Raymond Delver, sang atasan, menjadi elemen menarik tersendiri. Ia hanya hadir melalui suara di telepon, memberikan arahan prosedural seolah semua yang terjadi adalah hal biasa. Jarak fisik ini mempertegas isolasi Rebecca.

Ia tidak hanya sendirian secara fisik, tetapi juga emosional. Bantuan yang datang terlambat atau terlalu normatif justru menambah rasa putus asa, seakan Rebecca memang ditinggalkan untuk menghadapi sesuatu yang seharusnya tidak dihadapi manusia biasa.

Bagi penggemar game yang asli, film ini terasa seperti penghormatan yang cukup setia. Beberapa momen ikonik berhasil diadaptasi dengan pendekatan live action yang efektif, seperti kemunculan sosok nenek yang meminta masuk lewat jendela atau penampakan wanita di dalam peti mati.

Adegan-adegan ini tidak sekadar menjadi fan service, tetapi disematkan secara organik dalam narasi, menjaga ketegangan tanpa terasa dipaksakan.

Meski jelas tidak memiliki anggaran sebesar film horor blockbuster, keterbatasan tersebut justru dimanfaatkan dengan cerdas. Alih-alih bergantung pada efek visual besar, 'The Mortuary Assistant' mengandalkan pencahayaan redup, desain suara yang subtil, dan ritme cerita yang konsisten. Hasilnya adalah horor yang lebih personal dan intim, terasa seperti mimpi buruk yang pelan-pelan menyelinap, bukan serangan mendadak yang cepat dilupakan.

Namun, pendekatan ini juga berisiko. Penonton yang terbiasa dengan horor cepat dan penuh kejutan mungkin merasa film ini terlalu lambat. Beberapa bagian terasa berulang, dan narasi sengaja dibuat ambigu, yang bisa memicu frustrasi bagi mereka yang menginginkan jawaban jelas.

Meski demikian, ambiguitas ini tampaknya menjadi pilihan sadar, sejalan dengan tema kehilangan kendali dan ketidakpastian.

Secara keseluruhan, 'The Mortuary Assistant' adalah adaptasi yang berani mengambil jalur atmosferik dan psikologis. Film ini tidak berusaha menyenangkan semua orang, melainkan fokus membangun pengalaman horor yang tidak nyaman, sunyi, dan membekas.

Ia berbicara tentang ketakutan terdalam manusia sendirian, terjebak dalam tanggung jawab, dan menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan atau dilawan dengan logika.

Dengan jadwal rilis bioskop Amerika Serikat pada 13 Februari 2026 dan menyusul ke Shudder pada 27 Maret 2026. Jadi, siapkah kamu menjadi saksi perjalan sosok pekerja kamar mayat dalam kisah ‘The Mortuary Assitant’ ini?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak