Ada suara perempuan yang mungkin berbicara. Masih di dalam area rumah, bukan dari luar. Tanpa sumber, tanpa wujud. Bukan dari drama, dan tentunya bukan dari kami berdua.
“Ya…iya…iya…ya…”
Kisah ini terjadi saat aku masih duduk di bangku kelas XI SMA. Bertepatan dengan pembagian kelompok untuk membuat spesimen vertebrata, khususnya bangsa Arachnida.
Hal ini dipilih karena mereka masih banyak ditemui di alam. Selain itu, kakak kelas angkatan sebelumnya sudah membuat spesimen herbarium, pada bangsa Pteridophyta alias tanaman paku-pakuan.
“Baik, untuk tugas kali ini, cari spesimen yang mudah dan nggak berbahaya ya. Boleh menghindari kalajengking,” tutur Bu Nindy, guru biologi.
Meski kalajengking masuk bangsa Arachnida, mohon maaf kami bukan Panji Petualang!
“Jadi, kita mau pakai spesimen apa?” tanya Wawan. “Yang gampang saja.”
“Laba-laba, gimana? Di rumahku ada yang besar,” usul Vita.
“Aku nyari kaki seribu ya. Pas banget belakang rumah banyak,” kata Dian.
“Aku bawa cuyu (kepiting sungai) gimana? Nanti kucari sama adikku,” kataku.
Kami berempat setuju.
Keesokan harinya, kami berempat kompak mengumpulkan spesimen yang telah diawetkan dengan cairan formalin. Spesiesnya ada beragam, meliputi laba-laba, kupu-kupu, kaki seribu, cuyu atau kepiting sungai, dan ngengat.
Aslinya, kemarin bapakku menawarkan kalajengking yang kebetulan mampir di halaman rumah. Tapi mohon maaf, kami nggak ada nyali.
Untuk bingkai yang bisa memuat spesimen tadi, aku dan Vita menggunakan styrofoam dan plastik mika agar murah. Kalau pakai kaca dan kayu, wah, budget-nya terlalu mahal.
Jadilah di hari Minggu, aku dan Vita mengerjakan penyusunan spesimen di rumah Vita yang hanya satu kilometer dari rumahku. Minus kehadiran Wawan yang ekskul pramuka, dan Dian yang ekskul tari. Toh, anggaran sudah terkumpul. Jadi langsung gas saja.
“Vit, nggak ada orang di rumahmu?” tanyaku.
“Ortuku masih kerja semua. Kakakku kuliah di kota M,” jawabnya.
“Tapi nggak apa-apa kan, kamu bawa teman main? Sudah ijin ortumu, kan?”
“Aman.”
Sebetulnya, menyusun spesimen di dalam bingkai dan menulis klasifikasinya itu cepat. Dalam satu atau dua jam sudah kelar. Nah, yang bikin lama adalah ngobrol, bahkan menonton film dan drama.
“Fris, aku ngejemur baju dulu ya. Tadi udah masuk pengering.”
“Boleh ikut?” tanyaku cengengesan.
Vita mengangguk tanpa curiga. Jadilah kami menjemur baju berdua di satu spot beratap terbuka. Letaknya di sebelah ruang tamu, dimana kami mengerjakan tugas.
Berikutnya, Vita pamit ke kamar mandi sebentar. Sedangkan aku berjalan kembali ke ruang tamu, dimana masih ada beberapa klasifikasi yang belum selesai kutulis.
Aku berusaha mengabaikan rasa nggak nyaman. Bukan karena apa, melainkan rasanya seperti ada yang mengawasiku sejak tadi. Waktu aku melihat ke sekeliling, Vita pun kembali.
“Kenapa, Fris?” tanya Vita. Dahinya berkerut. “Lihat apa?”
“Nggak apa-apa.” Aku menggeleng. “Vit, ortumu kok belum pulang?”
“Agak sorean sih, biasanya. Kenapa?” jawab Vita sambil kembali fokus pada drama.
“Nggak apa-apa. Kamu nggak takut di rumah sendiri?”
“Takut sih. Tapi ya sambil nonton drama atau film, atau kadang kupakai tidur.”
Aku menelan ludah. “Nggak pernah lihat apa gitu?”
“Kamu jangan nakut-nakuti lho ya!”
Aku cengengesan dan memilih bungkam daripada membuat Vita khawatir atau ketakutan. Toh, fokus saja pada drama komedi yang diputar.
Ketimbang harus mendengar suara perempuan yang terdengar berbicara. Masih di dalam area rumah, bukan dari luar. Tanpa sumber, tanpa wujud. Bukan dari drama, dan tentunya bukan dari kami berdua.
“Ya…iya…iya…ya…”