Pengantin Perempuan Misterius di Dekat Bangunan Gereja

Bimo Aria Fundrika | Tika Maya Sari
Pengantin Perempuan Misterius di Dekat Bangunan Gereja
ilustrasi pengantin perempuan (Unsplash/Soroush Karimi)

"Kamu tahu, Ka. Aku masih mengingat parasnya yang cantik jelita, dan senyuman manisnya.” Sorot mata Mbak Ridha tampak menerawang. “Dia kelihatan begitu bahagia dengan gaun pengantinnya, sebelum lenyap saat aku mengedipkan mata.”

Ini adalah kejadian yang dialami Mbak Ridha, yang pernah bertemu sosok pengantin perempuan misterius pada tahun 90an. Begini kisahnya…

Mbak Ridha kala itu bekerja sebagai asisten rumah tangga di salah satu rumah di kawasan perumahan elit kota S. Di suatu hari Minggu selepas subuh, Mbak Ridha sudah siap dengan selang air untuk menyirami taman depan.

“Walah, petugas kebersihan gereja jam segini sudah bersih-bersih ya?”

Perumahan elit ini memiliki jarak yang terbilang cukup dekat dengan sebuah gereja besar. Bahkan, rumah tempat Mbak Ridha bekerja hanya berjarak sekitar lima puluh meteran. Dan ya, mayoritas penduduk kawasan ini beragama nasrani.

Katanya, gereja itu sendiri memiliki dua lantai di atas tanah, dan satu lantai di bawah tanah sehingga mampu menampung banyaknya jemaat. Jadilah, di setiap Minggu pagi atau hari-hari besar keagamaan lain, Mbak Ridha selalu mendengar bising petugas kebersihan gereja yang melakukan tugas. Mana kadang mereka sudah terdengar beraktivitas pada dini hari lagi.

“Lho, Mbak? Jam segini sudah bersih-bersih taman?” sapa Pak Ram, salah satu petugas kebersihan gereja yang sibuk menyapu halaman.

“Enggeh, Pak,” jawab Mbak Ridha.

“Yawes, lanjut ya.”

Pak Ram kemudian segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum bergabung dengan rekannya yang lain di dalam gedung gereja. Sedangkan Mbak Ridha kembali pada kegiatannya menyirami tanaman. Karena hari ini hari Minggu, maka akan ada jadwal perawatan tanaman hias di taman belakang bersama Buk Mulimah, majikannya.

Tiba-tiba suasana berubah menjadi sunyi. Entah kenapa hiruk pikuk petugas kebersihan gereja tidak lagi terdengar. Namun, Mbak Ridha cuek dan berpikir mungkin karena ini masih gelap.

“Eh, ada aroma melati?” gumam Mbak Ridha pelan.

Rasa nggak nyaman mulai merayapi Mbak Ridha. Ada sentuhan angin dingin yang menjalari tengkuknya, dan kesenyapan terasa mencekam. Ditambah dengan aroma melati yang semerbak, padahal di area taman depan tidak ada tanaman melati. Yang ada adalah kamboja aneka warna, yang justru tidak tercium wanginya.

Mbak Ridha kemudian mencoba mengedarkan pendangannya. Hingga sorot matanya tertuju pada suatu obyek di dekat gedung gereja.

“Perempuan?” bisik Mbak Ridha bingung. “Jemaat gereja ya?”

Sosok perempuan bertubuh langsing itu berdiri di dekat teras gereja. Kulit kuning langsatnya yang agak pucat tampak manis dalam balutan gaun panjang berwarna kuning gading, dan veil tipis transparan. Kedua tangannya terlihat memegang sebuket bunga yang dihiasi oleh pita-pita. Sekali lihat, sudah ketahuan bahwa dia adalah seorang pengantin. Namun, apa yang dia lakukan sendirian pagi-pagi buta begini?

Lagipula, kalau memang dia adalah pengantin yang akan melakukan pemberkatan hari ini, bukankah seharusnya ada keluarga yang mendampingi? Bukannya jam operasional gereja adalah jam tujuh pagi? Ada banyak pertanyaan di dalam kepala Mbak Ridha, sembari mengamati gerak-gerik sosok tersebut.

Pengantin itu terlihat menunggu entah siapa. Dia celingak-celinguk, tersenyum seakan baik-baik saja, dan kembali celingak-celinguk. Gerak-geriknya tampak gugup, dan penuh harap. Hingga kedua matanya bertabrakan dengan kedua mata Mbak Ridha.

Di tempatnya, Mbak Ridha membeku. Dia terpesona melihat keanggunan pengantin itu, sekaligus sadar bahwa ini salah. Salah besar. Sedari tadi dia disini, dan tidak ada satu orang pun yang berada di luar bangunan gereja setelah Pak Ram meninggalkan halaman. Jadi, bukankah ini sudah jelas?

Pengantin jelita tadi tampak tersenyum bahagia pada Mbak Ridha. Seakan menunjukkan bahwa hari ini adalah hari spesialnya. Hingga kemudian, rasa perih di kelopak mata Mbak Ridha karena terlalu lama terbuka, membuatnya harus berkedip. Begitu membuka mata kembali, pengantin tadi lenyap tanpa jejak.

Suara ribut petugas kebersihan gereja mulai terdengar lagi, dan aroma melati yang pekat menghilang. Berganti aroma kesegaran pagi. Angin dingin yang membuat buku kuduk meremang juga tidak terasa lagi. Semuanya kembali normal.

“Jadi, dia cantik banget, Mbak?” tanyaku memastikan.

Mbak Ridha mengangguk. “Wajahnya itu kayak ada bule-bulenya. Semacam blasteran begitu. Cantik, tapi manis.”

“Dan dia senyum begitu?”

Mbak Ridha kembali mengangguk. Dia kemudian terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.

“Kamu tahu, Ka. Aku masih mengingat parasnya yang cantik jelita, dan senyuman manisnya.” Sorot mata Mbak Ridha tampak menerawang. “Dia kelihatan begitu bahagia dengan gaun pengantin berwarna kuning gadingnya, sebelum lenyap saat aku mengedipkan mata.”

Sampai sekarang pun, Mbak Ridha masih mengingat sosok pengantin misterius waktu itu. Alih-alih tampak tertekan, pengantin itu terlihat bahagia sekaligus sedikit gugup. Suatu sikap alami seseorang dalam menyambut hari istimewanya. Dan entah apakah sosok tersebut adalah penghuni kawasan disana, atau bagaimana. Karena setelahnya Mbak Ridha tidak pernah bertemu dengannya lagi hingga kepulangannya ke kampung dua tahun kemudian.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak