Ada satu hal yang sampai sekarang aku nggak berani terus terang pada Vita, salah satu teman SMA dulu. Walaupun sudah bertahun-tahun kami berteman, dan masih kerap bertemu sebelum akhirnya dia pindah ke kota L, setelah menikah.
Alasanku sebenarnya adalah karena Vita penakut. Sama sepertiku. Dan hal yang kusembunyikan itu adalah keberadaan lelaki bungkuk di rumahnya.
Jujur, kisah ini kudengar dari ibuku.
“Jadi, belum bisa pulang ya?”
“Belum, Buk. Kayaknya masih lusa.”
“Lho, bukannya besok masuk sekolah?”
“Iya sih. Anu, Buk bisa minta tolong sampaikan surat izin ke Vita?”
“Oh, yang rumahnya ada pohon mangga tepi jalan itu? Yang punya pagar besi cat cokelat?”
“Iya, betul Buk.”
“Oke, tak sampaikan. Kamu hati-hati yo.”
“Oke.” Aku kemudian menutup telepon.
Ceritanya, saat aku masih kelas XI dulu, di saat libur tiga hari menyambut bulan puasa, aku pernah ikut bapak kerja karena waktu itu beliau agak sakit. Mau izin rehat, barangnya kadung urgent sehingga mau nggak mau harus kirim ke kota S, Jawa Tengah. Sebetulnya dalam waktu semalam sudah sampai. Namun, karena kondisi bapak yang kurang fit, alhasil nggak bisa ngebut dan memakan waktu lebih lama.
Jadi, apa gunanya aku? Logika bapak bilang, agar kalau ada apa-apa dengan beliau, aku bisa langsung minta tolong.
Untunglah, kondisi bapak kian membaik meski harus menjalankan kendaraan dengan kecepatan rendah. Pun saat harus berada di belakang truk angkut babi, kami hanya tertawa karena aroma pesing.
Setelah bongkar muat di kota S, bapak melajukan kendaraannya kembali ke kota T, Jawa Timur, di mana orderan baru siap diangkut. Tujuan berikutnya adalah kabupaten G, Yogyakarta. Namun, untunglah bapak mendapatkan waktu rehat sehingga kami bisa pulang.
Tepat tengah malam, kami mendarat di rumah. Membangunkan ibu yang terkantuk-kantuk tapi terlihat lega. Meski tengah malam, bapak tetap meneguk kopi yang turut kuseruput sedikit.
“Fris, kamu pernah ketemu ayahnya Vita?” tanya ibu memecah suara. Kantuknya sudah hilang.
“Pernah,” jawabku. “Kenapa, Buk?”
“Orangnya bungkuk ya?”
Aku terhenyak. Bingung. “Ayahnya Vita itu bertubuh tinggi tegap. Rambutnya beruban karena sudah agak sepuh, tapi badannya masih tegap kok.”
“Lho, bukannya tubuhnya bungkuk, kulit sawo matang, dan rambutnya agak gondrong hitam ya?”
“Lho, enggak. Ayahnya Vita berkulit kuning langsat, dan rambutnya pendek rapi.”
Dahi ibuk berkerut. “Tadi siang waktu aku ke sana buat menyampaikan surat izinmu, Vita sendiri yang buka pintu. Nah, di belakangnya ada lelaki yang kumaksud tadi. Kukira itu ayahnya.”
Aku turut terpekur. “Kalau siang, ayahnya Vita belum pulang kerja, Buk.”
Kami berdua saling berpandangan.
Hingga bapak turut bersuara. “Ya coba besok tanyakan pada temanmu itu. Siapa tahu itu kerabatnya toh?”
Keesokan harinya aku segera meluncur mampir ke rumah Vita, seraya menyampaikan maaf karena surat izinku jadi nggak berguna. Vita hanya tertawa, meski sebelumnya tampak kaget. Kami lalu berangkat ke sekolah bersama.
“Vit, maaf sekali lagi kalau aku jadi ngerepotin kamu. Sudah nitip surat izin, tapi akunya masuk,” kataku.
Vita tertawa. “Halah, kayak sama siapa saja. Betewe, kamu ternyata mirip ibumu ya.”
Aku menelan ludah gugup. “Eh, Vit. Kata ibuku, kemarin beliau menyampaikan surat izinku itu agak siangan ya?”
Vita mengangguk. “Betul kok.”
“Berarti kamu sendiri ya nerima?”
“Iya. Kan ceritanya aku lagi downoad drama, terus dengar ada orang ngetok pintu. Ternyata ibumu.”
“Owalah, kukira ayah atau ibumu.” Tengkukku agak meremang. “Tapi kuingat-ingat, orangtuamu jam segitu belum pulang kan?”
“Iya. Mereka baru pulang agak sorean, mana katanya ada rapat dadakan. Kakakku pun masih di kota M karena kuliah. Jadi aku sendirian di rumah.”
Aku mengangguk memastikan. “Jadi kemarin itu kamu di rumah sendirian? Nggak ada om atau kakekmu berkunjung mungkin?”
“Nggak ada kok,” ucap Vita agak ragu. “Memang kenapa?”
“Nggak apa-apa,” Aku menggeleng cepat. “Ke perpus yok, ngadem?”
Vita setuju. Kami lalu bergegas pergi ke perpustakaan mengingat hari ini sedang full jam kosong. Vita sendiri tampak membaca beberapa buku, sedangkan aku merebahkan kepala di meja sambil berpikir keras.
Kira-kira, lelaki bungkuk yang dilihat ibuku kemarin itu siapa?