Gema Langkah di Lorong yang Tak Pernah Ada

Bimo Aria Fundrika | Fildza Malahati
Gema Langkah di Lorong yang Tak Pernah Ada
Elias dan Elena (AI)

Di rumah nomor 44, waktu seolah berhenti berdetak sejak Elena pergi. Elias, lelaki dengan rambut yang memutih lebih cepat dari usianya, menghabiskan sore-sorenya dengan menatap cermin di lorong utama.

Cermin itu besar, berbingkai perak kusam, dan selalu terasa dingin, seolah-olah menyerap seluruh kehangatan dari ruangan di sekitarnya.

Misterinya dimulai setiap pukul tujuh malam, tepat saat hujan rintik biasanya turun membasahi jendela kayu yang mulai lapuk. Elias akan mendengar suara langkah kaki dari lantai atas.

Tap... tap... tap.

Langkah itu ringan, seperti seseorang yang sedang menari balet, persis seperti kebiasaan Elena dahulu. Namun, lantai atas itu kosong. Elias telah menguncinya rapat-rapat sejak hari pemakaman, membiarkan debu menyelimuti kenangan yang terlalu menyakitkan untuk disentuh.

Suatu malam, sebuah amplop biru tua terselip di bawah pintu depan. Tidak ada nama pengirim, hanya aroma lavender yang kuat—parfum kesukaan istrinya. Dengan tangan gemetar, Elias membukanya.

Di dalamnya hanya ada secarik kertas bertuliskan, “Mengapa kau tidak pernah naik ke atas untuk menyapaku?”

Jantung Elias berdegup kencang. Ia merasa ngeri sekaligus rindu yang menyesakkan. Malam itu, dengan kunci yang sudah berkarat di tangannya, Elias memutuskan untuk naik.

Setiap anak tangga berderit, seolah memprotes kehadirannya. Saat pintu kamar utama terbuka, ia tidak menemukan siapa pun. Namun, tempat tidur itu rapi, dan di atas bantal terdapat bekas tekanan kepala, seolah seseorang baru saja bangun dari sana.

Elias duduk di tepi ranjang, menangis sesenggukan. “Elena, jika itu kau, tampakkan dirimu,” bisiknya ke arah kegelapan.

Tiba-tiba, suhu ruangan turun drastis. Di cermin meja rias yang retak, Elias melihat sebuah bayangan. Bukan bayangan dirinya. Ia melihat seorang wanita berdiri di belakangnya, tetapi wajahnya tertutup kabut kelabu yang pekat. Wanita itu meletakkan tangan dinginnya di bahu Elias.

“Aku tidak pernah pergi, Elias,” bisik suara itu, bukan di telinganya, melainkan langsung di dalam kepalanya. “Kaulah yang membawaku kembali setiap malam dengan kesedihanmu. Namun, kau harus tahu satu hal...”

Bayangan itu mendekat. Kabut di wajahnya perlahan memudar, menampakkan wajah Elena yang pucat, bersimbah air mata. “Aku tidak berada di lantai atas ini.

Aku berada di bawah sana, di dalam tanah yang kau tangisi setiap hari. Dan selama kau tidak merelakanku, aku akan terjebak di lorong ini, menari dalam sunyi yang abadi.”

Elias tersentak. Saat ia mencoba menyentuh tangan itu, bayangan Elena pecah menjadi butiran abu yang menghilang, tertiup angin dari jendela yang tiba-tiba terbuka.

Elias tersadar bahwa misteri langkah kaki dan surat-surat itu bukanlah hantu yang ingin menakutinya, melainkan manifestasi dari rasa bersalahnya yang tak pernah membiarkan Elena beristirahat dengan tenang.

Pagi harinya, Elias membuka semua gorden di rumah itu. Ia membiarkan sinar matahari masuk, mengusir aroma lavender yang selama ini mencekiknya. Saat ia melewati cermin di lorong, langkah kaki itu tidak terdengar lagi. Yang tersisa hanyalah keheningan yang tulus.

Elias akhirnya mengerti: cinta yang paling misterius dan paling menyedihkan bukanlah tentang menahan seseorang agar tetap tinggal, melainkan tentang keberanian melepaskannya agar ia dapat pergi dengan indah.

Rumah nomor 44 kini benar-benar sunyi. Namun, untuk pertama kalinya, Elias tidak lagi merasa sendirian dalam kesedihannya. Ia telah menutup lorong yang tak pernah ada itu—selamanya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak