Hari itu perutku bukan cuma mulas. Dia memberontak.
Baru pukul enam pagi ketika ponselku bergetar. Nomor tak dikenal, tapi instingku langsung bilang: ini bukan penawaran pinjol. Dan benar saja, suara perempuan terdengar dari seberang:
“Selamat pagi, ini dari SMK PGRI. Bisa datang hari ini untuk interview? Jam delapan ya, menemui Waka Kurikulum.”
Jam delapan? Hari ini?
Aku langsung duduk tegak. Belum mandi. Belum sarapan. Dan CV? Bahkan belum sempat diedit sejak lulus kuliah tiga tahun lalu. Tapi dompetku hanya berisi recehan seribu-seribu, dan aku anggap ini... panggilan Ilahi—walau Ilahinya mungkin sambil nyengir.
Dengan map plastik berisi ijazah teknik elektro dan semangat seadanya, aku berangkat. Tapi sebelum sampai sekolah, harus mampir dulu ke toilet umum terminal. Perutku protes habis-habisan. Entah karena gugup atau soto semalam yang keasinan.
Sekolahnya tua, cat dindingnya pudar, dan papan namanya menegaskan: ini SMK jurusan otomotif dan kelistrikan. Aku langsung pesimis. Aku lulusan elektro, bukan pendidikan teknik. Tapi ya, mungkin karena pernah megang solder dan ngerti resistor, aku dinilai cukup "layak mengajar".
Waktu interview, cuma ditanya tiga hal: bisa datang tiap hari? Bisa pegang materi kelistrikan kendaraan? Bisa bantu ngisi RPP?
RPP? Dalam hati aku berpikir: Rencana Pura-Pura?
Tapi seminggu kemudian, aku resmi jadi guru honorer mata pelajaran Kelistrikan Otomotif.
Guru. Aku.
Yang kupikir megah, ternyata absurd. Belajar daring via WhatsApp grup. Zoom? Boro-boro. Materi diketik di Word, dikirim ke grup, lalu ditinggal. Siswa diam. Paling banter, ada yang bales: “Hadir, Bu,” satu jam kemudian. Sisanya? Entah.
Pernah satu siswa kirim tugas, file-nya berjudul tugas cdi fix.docx. Kukira serius. Kubuka… isinya selfie dia di ruang tamu. Lain waktu, ada video gitar akustik. Judulnya: Tugas Otomotif Kelistrikan. Ya mungkin, di semesta mereka sendiri, gitar itu juga listrik—secara emosional.
Hari-hariku berlalu dengan menyusun RPP, mencari tahu beda kompetensi dasar dan indikator sambil googling diam-diam. Belajar jadi guru rasanya kayak nyemplung ke kolam lumpur tanpa pelampung.
Yang lebih gila, aku disuruh praktik motong kabel. Bawa tang kecil, ketemu kabel setebal lengan bayi. Kupotong… nggak putus. Keringat dingin turun. Tanganku gemetar. Hatiku nyesek kayak lihat saldo rekening.
Tapi aku tetap belajar.
Bikin infografis di Canva. Kirim voice note. Tambah emoji biar gak kaku. Kadang kuawali materi dengan lelucon receh:
“Anak-anak, hari ini kita bahas saklar. Tapi jangan kayak saklar mantan ya—nyala mati seenaknya.”
Dan dibalas, “Bu, gurunya lucu. Saya jadi pengen baca.”
Aku mulai merasa nyambung.
Minggu pertama berlalu. Lalu minggu kedua. Lalu ketiga. Sampai bulan pertama habis, dan aku belum menerima selembar pun tanda bahwa aku ini—secara administratif—dianggap manusia.
Gaji? Ah, kata itu terlalu mewah untuk disebut di ruang guru. Bahkan aroma kopi sachet di pagi hari jauh lebih nyata daripada janji honor yang katanya “segera cair kalau semua data sudah masuk.”
Akhir bulan itu, aku dipanggil ke ruang TU. Diminta tanda tangan slip gaji. Aku pikir—akhirnya. Tapi ketika kubuka map berkop yayasan itu, mataku langsung berhenti di kolom nominal: kosong.
Bukan 0. Bukan ‘belum dihitung’. Tapi betul-betul kosong, lompong, seperti akal sehat di tengah birokrasi.
Di bawah kolom itu, tertulis kalimat mungil yang seolah meminta dimaklumi:
"Honor akan ditentukan kemudian berdasarkan kebijakan yayasan dan kondisi keuangan sekolah.”
Aku nyaris tertawa. Tapi hanya menelan ludah dan tersenyum palsu.
“Bu, nanti bisa ditulis sesuai UMR ya, untuk laporan monev,” kata staf TU dengan enteng, seperti sedang menyarankan menu lauk nasi padang.
“Oh, maksudnya... untuk data ke pengawas?”
“Iya. Nanti kontraknya juga ditandatangani, tertera sesuai UMR kota. Biar rapi.”
Dan saat itulah aku benar-benar merasa... bukan guru. Tapi komoditas.
Beberapa hari kemudian, datanglah kontrak kerja.
Kertas putih bersih, dengan logo sekolah yang tebal di kepala, dan angka cantik di baris honor: Rp 3.950.000,- per bulan.
Kukira aku direkrut oleh sekolah Finlandia.
Kenyataannya?
Aku menerima Rp 900.000 sebulan. Dan itu pun kadang telat.
Sisanya? Katanya subsidi transport, insentif, tunjangan—semua fiktif, semua hanya untuk memuaskan mata pengawas monev yang akan datang membawa lembar evaluasi dan menanyakan, “Sudah sesuai belum dengan standar UMR?”
Dan kami—para guru honorer—akan tersenyum. Menyodorkan berkas yang bersih. Menyembunyikan keletihan. Dan pura-pura percaya bahwa kami dibayar sesuai harga hidup.
Itu bukan sekadar pemotongan. Itu penghilangan martabat.
Satu-satunya yang tidak pernah dipotong... adalah beban kerja.
Di antara bau oli dan kabel starter yang menggantung di langit-langit bengkel, Aku berdiri—sendiri—dengan spidol di tangan dan hati yang semakin letih. Aku tak pernah mendaftar jadi guru, tapi hidup menempatkannya di sekolah kejuruan yang bahkan murid-muridnya lebih paham sistem kelistrikan daripada dirinya.
Setelah pandemi mereda dan sekolah kembali aktif, suasana berubah. Bukan hanya ruang kelas yang kembali penuh, tapi juga notifikasi WhatsApp yang bertambah aneh. Beberapa pesan masuk dari siswa-siswa laki-laki: “Bu, saya suka caranya Ibu ngomongin sekring.” “Bu, kalau saya belajar serius, boleh nggak traktir saya es teh?” Bahkan ada yang dengan polos (atau nekat) mengirim foto selfie sambil menulis, “Bu Nisa, pacaran sama anak SMK yuk, dijamin bisa benerin hati yang korslet.”
Aku mengabaikan. Tapi rasa risih tidak bisa dimatikan begitu saja. Apalagi ketika perhatian itu datang bertubi-tubi. Salah satu siswa, Dani, berbeda. Ia sopan, pintar, selalu tepat waktu mengumpulkan tugas, dan diam-diam sering meninggalkan catatan kecil: “Terima kasih sudah sabar mengajar, Bu. Saya suka pelajaran Ibu, dan... Ibu juga.” Aku tahu Dani jatuh hati, tapi ia menjaganya tetap di jalur wajar. Dani lulus dengan harapan yang masih tersisa, dan Aku tak pernah menjanjikan apa pun, kecuali senyum yang menyiratkan: “Kamu akan baik-baik saja tanpa harus menunggu yang tidak pasti.”
Namun dunia orang dewasa lebih rumit daripada WA siswa. Setelah Dani, datanglah perhatian dari kolega. Satu-dua guru lelaki mulai menyelipkan candaan genit. “Bu Nisa, kabel hatiku belum nyambung kalau belum lihat senyummu.” Bahkan kepala sekolah sendiri, Pak Iswadi, mulai menunjukkan atensi berlebihan: selalu menyapa paling awal, mengundang diskusi mendadak di ruangannya, dan... mengirim buket bunga tanpa nama, berulang kali. Pernah suatu pagi, di meja guru, ada kue ulang tahun berbentuk aki mobil dengan kartu ucapan: “Semoga dayamu selalu kuat, walau terus disetrum cinta.”
Aku menahan tawa, dan juga jijik.
Aku tahu siapa pelakunya.
Tapi yang tak aku duga, penolakan halusku membuat Pak Harun—kepala program jurusan otomotif yang selalu tampak profesional—berubah sikap. Dari senyum ramah jadi sinis. Dari memberi bahan ajar jadi membentak di depan siswa. Suatu pagi, saat aku salah menempelkan poster skema kelistrikan, Pak Harun berteriak, “Kalau nggak paham, jangan sok ngajarin!”
Suasana kelas mendadak dingin.
Hari-hari berikutnya, tubuhku melemah. Kepalaku sering pusing tanpa sebab, dan setiap kali melintasi bengkel belakang, aku mencium bau terbakar yang tak terdeteksi orang lain. Aku muntah-muntah, padahal tidak hamil. Aku mendengar bisikan di ruang guru saat sedang sendirian.
Dan suatu malam, aku bermimpi ada kabel menjalar ke kakiku, melilit tubuhku seperti ular panas yang mengirim kejutan-kejutan menyakitkan. Dalam mimpi itu, Pak Harun berdiri di ujung ruangan, tertawa sambil membawa solder menyala.
Ketika bangun, tanganku melepuh.
Aku tak bisa menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Namun aku tahu, bukan hanya tubuhku yang jadi target. Tapi keberadaaku—keberanianku menolak—telah mengganggu sesuatu yang diam-diam memegang kuasa.
Dan dalam dunia pendidikan yang katanya menjunjung ilmu, kadang yang berani berkata tidak... justru dianggap yang paling layak disingkirkan.
Setelah insiden tangan melepuh, desas-desus lama yang dulu hanya dipandang omong kosong mulai terbayang dalam pikiranku. Siswa-siswa sering membicarakan bahwa di halaman belakang bengkel terdapat sebuah makam Tionghoa kuno, nisannya pecah, tingginya sepinggang orang dewasa dan setengahnya tertutup oleh semak-semak. Sekolah sengaja tidak menutupi hal itu dengan karung semen ataupun pot bunga, mereka seolah-olah menganggap tidak terjadi apa-apa.
Namun, tetap saja, setiap semester selalu ada siswa yang tiba-tiba berteriak atau kesurupan saat berlatih di bengkel hingga di kelas. Guru-guru cepat menganggapnya sebagai “kelelahan” atau “kurang sarapan,” padahal siswa lain paham: itu disebabkan mereka terlalu dekat dengan teras belakang.
Ada seorang anak yang paling sering menjadi saksi. Namanya Mamad, seorang pelajar difabel dengan kaki tempang dan mata kiri yang rabun berat. Ia sering memilih tertidur berhari-hari di kelas, ia bilang rumahnya jauh, padahal ia hanya ingin selalu dekat dengan sinar. “Jika gelap, dia mengikuti lagi,” begitulah ia pernah berbisik.
Awalnya aku berpikir Mamad hanya ingin menarik perhatian. Namun seiring waktu, anak itu semakin dekat denganku, seakan meyakini hanya aku yang mau mendengar. Namun yang membuatku merinding, Mamad terus-menerus mengulang kata yang serupa:
"Perempuan itu berada di bengkel." Dia kesal dengan Pak Harun. “tapi sekarang dia ngikutin Ibu.”
Ucapan tersebut membuat aku merasa pusing. Terlebih lagi, setiap kali melewati bengkel di sore hari, suasana di sekitarnya menjadi lebih dingin. Aroma melati samar berpadu dengan bau kabel yang terbakar, sementara lampu neon yang sebelumnya terang mendadak berkedip. Sesekali, di tengah suara mesin praktik, telingaku mendengar suara napas perempuan yang berat—seolah ada tepat di belakangku.
Pada suatu sore, saat jam kelas hampir berakhir dan bengkel mulai sepi, aku berdiri di dekat halaman belakang. Dari pandanganku, aku memperhatikan seorang wanita berambut panjang berdiri di sebelah makam yang retak itu. Tubuhnya melengkung, menunduk dengan kaku. Aku tiba-tiba menoleh sepenuhnya, namun yang tersisa hanyalah pot bunga yang bergoyang perlahan.
Di kepalaku, suara halus berbisik, hampir mirip dengungan listrik:
“Harun… harus membayar.”
Aku tidak tahu kenapa nama Harun disebut. Tapi sore itu, ketika aku bersiap mau pulang dan di parkiran motor sendirian, penjaga sekolah yang sudah tua, Pak Isnun, tiba-tiba bercerita tanpa kuminta, seolah pak Isnun mengetahui semuanya. Katanya, sebelum bengkel ini dibangun, tanah di belakang sekolah adalah lahan bekas bengkel milik seorang perempuan Tionghoa bernama Tan Lian Nio. Ia tinggal di situ bersama suaminya, sampai suatu malam suaminya mati tersetrum mesin las.
“Perempuannya keras kepala,” kata Pak Isnun sambil menyalakan rokok. “Malam-malam masih kerja sendiri. Terus, kebakar. Ditemuin gosong sambil meluk gulungan kabel.”
Kata-kata itu membuat kulit tengkukku meremang.
Pak Isnun juga menyebut, ada satu orang yang terakhir kali terlihat keluar dari bengkel sebelum kebakaran. Dia masih bocah yang biasa bantu-bantu di bengkel. Namanya... Harun.
Aku terdiam.
Ketika sekolah ini dibangun di atas lahan itu, nisan batu bertuliskan huruf Tionghoa masih dibiarkan berdiri di teras belakang bengkel. Beberapa guru lama pernah menyarankan agar dipindah, tapi entah kenapa Pak Harun malah menolak keras. Katanya, “Sudahlah, biar saja. Toh orangnya sudah lama mati.”
Sejak mendengar itu, sekarang aku paham: perempuan itu tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu.
Berhari-hari di sekolah, masih terlihat normal tapi berat. Dari bengkel mau menuju kelas, rasanya kaki ini berat seperti ada yang menahan pergelangan kakiku. Aku merasa sepatu kerjaku terlalu berat kupakai. Safety shoes yang khusus di pakai di bengkel dan ini memang keren banget kalau seorang perempuan yang pakai kayak aku gini. “Sudahlah, ini bukan soal sepatu.” gumamku. Tapi aku makin ngos-ngosan jalannya.
Suasana sore di bengkel hanya tertinggal suara detak jam dinding di ujung ruangan. Jam praktik baru saja berakhir, semua siswa berlari keluar semburat berhamburan ingin segera pulang, meninggalkan aroma oli dan panas mesin. Hanya aku, yang masih menata spidol di atas meja, dan Pak Harun, yang tiba-tiba muncul di pintu dengan muka masam.
“Nisa,” suaranya terdengar berat. “Kamu pikir bisa menolak saya tanpa konsekuensi?”
Aku ingin menjawab, tetapi kepalaku tiba-tiba terasa berdenyut. Udara dalam ruangan terasa sangat berkurang, seolah ada kipas besar yang menghembuskan angin dari dalam dinding. Dari sisi teras belakang, aroma melati dan anyir darah tercampur, menghujam hingga membuat mata pedih.
Secara tiba-tiba, tubuh aku menjadi kaku. Tangannya gemetar keras, kaku seperti kawat yang dialiri listrik. Kulit di telapak tanganku merah, melepuh, tetapi aku tidak berteriak. Mataku melotot tanpa ekspresi, pupilku menyusut. Dan dari mulutku yang bergetar, suara lain muncul—parau, lembab, dan bukan milikku:
“Harun… waktumu sudah berakhir.”
Pak Harun tertegun, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat. Ia melangkah mundur, tetapi tiba-tiba pintu bengkel menutup dengan suara keras. Dari sudut ruangan, cairan gelap kental menempel keluar dari celah lantai, beraroma amis seperti daging yang sudah membusuk. Cairan itu bergerak dengan sendirinya, merayap menuju kakinya.
“Ini benar-benar gila… Nisa, kamu sadar kan!” teriaknya. Tapi tubuhku hanya berputar perlahan, senyum kaku tersungging di wajahku. Dari kedua mataku mengalir cairan hitam pekat, mengotori seragam putihku.
Tiba-tiba, kabel-kabel yang menggantung di plafon bergetar, lalu satu per satu jatuh, melilit tubuh Pak Harun. Semakin ia berusaha melepaskan diri, lilitan itu semakin mengikat, meninggalkan jejak luka bakar di kulitnya. Suara daging mendesis bercampur teriakan memenuhi bengkel.
Aku melangkah maju, gerakanku kaku seperti boneka. Aku mengulurkan tanganku yang penuh dengan lepuhan yang meletus, dan setiap kali jariku bersentuhan dengan kulit Pak Harun, dagingnya meleleh seperti plastik terbakar, meneteskan cairan kuning yang bercampur darah.
Pak Harun meronta, semakin ia berteriak, semakin banyak cairan hitam keluar dari mulutnya, mirip dengan isi perut yang telah membusuk sejak lama.
“Bayar… dengan tubuhmu,” suara itu bergema, tercampur antara suaraku dan ruangan bengkel yang bergema sendiri.
Dan saat teriakan terakhir bergema, tubuh Pak Harun tumbang ke lantai—membusuk dengan cepat, meninggalkan bau busuk menyengat. Kabel-kabel yang sebelumnya melilitnya kini terurai, namun kulitnya telah mengelupas, dagingnya mencair, meninggalkan sosok yang nyaris tak dapat dikenali. Bengkel berubah seperti ruang jagal, udara penuh dengan bau amis darah dan lelehan daging.
Aku terjatuh ke lantai dan pingsan. Saat mataku terpejam, suara lirih terdengar dari arah makam di belakang bengkel...
“Yang bersalah… sudah membayar.”
Aku terbangun dua hari kemudian di rumah sakit. Dokter bilang aku pingsan karena kelelahan. Polisi datang, menanyai macam-macam hal, tapi aku hanya diam. Mereka bilang Pak Harun ditemukan meninggal tersengat listrik di bengkel, dengan lilitan kabel di tubuhnya. Tak ada yang percaya selain aku, kabel-kabel itu bergerak sendiri.
Sekolah sempat diliburkan seminggu. Setelah itu, bengkel belakang ditutup rapat, dan makam Tionghoa di terasnya akhirnya benar-benar dipindahkan. Tapi tiap kali aku melewati dinding tempat nisan itu dulu berdiri, aku masih mencium bau melati samar yang bercampur dengan logam terbakar.
Kadang, saat kelas sedang sepi, aku masih mendengar bisikan tipis dari stop-kontak di pojok ruangan:
“Sudah… tapi jangan pergi dulu.”