Malam itu, hujan turun seperti ribuan jarum yang menghantam atap mobil Honda tua milik Aris. Wiper kacanya bekerja maksimal, menyapu air yang terus-menerus mencoba menghalangi pandangan. Namun, kegelapan di Jalur Lingkar Selatan seolah-olah menelan cahaya lampu depannya.
Aris lelah. Ia baru saja menyelesaikan lembur di kantor pusat dan hanya ingin segera sampai di kasurnya yang empuk. Ia rela mengebut untuk mencapai tujuannya. Terkadang, ia tidak peduli jika genangan air menciprat orang di pinggir jalan dan mereka memprotes mobilnya. Aris hanya akan memacu kendaraannya dan kabur.
"Buka navigasi. Tujuan, rumah," ucap Aris dengan suara serak.
Layar ponsel yang tertempel di dasbor menyala terang, membiaskan cahaya biru pucat ke wajah Aris yang kuyu. Sebuah aplikasi navigasi baru bernama Tipi atau "Tikus Pintar" muncul dengan ikon tikus berwarna merah darah berdasi hitam. Aplikasi ini diklaim mampu menemukan jalan tikus tercepat.
"Rute ditemukan. Waktu tempuh 20 menit. Ambil jalur kiri dalam 500 meter," suara wanita dari aplikasi itu terdengar jernih. Namun, ada sesuatu yang janggal; intonasinya terlalu datar, bahkan untuk ukuran kecerdasan buatan. Aris mengabaikannya karena suara itu terasa mirip dengan seseorang yang ia kenali. "Mungkin suara seorang artis," pikirnya dengan senang.
Aris memutar kemudi ke kiri, masuk ke sebuah jalan aspal sempit yang tidak pernah ia sadari keberadaannya. Jalan itu tidak memiliki lampu penerangan. Di kanan-kirinya hanya ada pohon-pohon jati yang menjulang tinggi, tampak seperti jari-jari raksasa yang mencoba mencengkeram langit.
"Lurus sejauh lima kilometer," perintah Tipi.
Aris mengerutkan kening. Jalanan semakin menyempit dan aspalnya mulai berubah menjadi tanah merah yang becek. "Rumahku kan di perumahan kota, kenapa lewat hutan?" gumamnya.
Ia mencoba melihat peta di layar ponsel, namun garis biru jalurnya memanjang ke arah area kosong di peta. Tidak ada nama jalan, tidak ada simbol bangunan; hanya layar hitam. Tiba-tiba, suara terdengar dari speaker mobil. Suara wanita navigasi itu sedikit bergetar.
"Aris... apakah kau ingat malam itu?"
Aris menginjak rem dengan mendadak hingga tubuhnya terlempar ke depan. Napasnya memburu. Navigasi tidak seharusnya menyebut nama penggunanya, dan ia tidak pernah memasukkan namanya ke aplikasi itu.
"Tiga tahun lalu. Jalur antarprovinsi KM 87. Hujan deras yang sama. Kau sedang terburu-buru, bukan?" Suara itu kini tidak lagi datar. Ada nada kebencian yang terselip di sana.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipis Aris. Ingatan yang selama ini ia kunci rapat di sudut tergelap otaknya mendadak terbuka paksa. Sebuah tabrakan. Suara hantaman besi yang beradu. Sosok wanita yang terpental ke parit. Dan yang paling menghantuinya adalah keputusannya untuk mematikan lampu mobil dan tancap gas meninggalkan lokasi kejadian tanpa menoleh sedikit pun.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!" teriak Aris pada ponselnya. Ia mencoba memutar balik mobilnya, namun saat ia melihat ke kaca spion, jalan di belakangnya telah hilang. Seolah ia telah pindah ke tempat antah-berantah.
"Belok kanan sekarang," perintah navigasi itu lagi.
"Tidak ada jalan di kanan! Itu jurang!" Aris berteriak histeris melihat pembatas jalan yang rapuh di sisi kanan mobilnya.
"Belok kanan sekarang, Aris. Dia sudah menunggu di bawah."
Mobil Aris mulai bergerak sendiri. Pedal gasnya melesak ke dalam seolah ditekan oleh kaki yang tidak terlihat. Setir mobilnya berputar kasar, mengunci tangannya. Aris berusaha menarik rem tangan, namun tuasnya patah. Ia panik luar biasa.
Layar ponselnya kini tidak lagi menunjukkan peta, melainkan sebuah rekaman video hitam putih dari kamera dasbor yang sangat ia kenali. Itu adalah rekaman malam kecelakaan tiga tahun lalu. Di layar itu, Aris melihat dirinya sendiri keluar dari mobil, menatap korban yang bersimbah darah di bawah guyuran hujan, lalu kembali masuk ke mobil dan melarikan diri.
"Kau meninggalkanku di sana, Aris. Dingin sekali di dalam parit itu," suara wanita navigasi itu kini berubah total. Suaranya lebih hidup, namun terasa jauh lebih menyeramkan karena seolah datang dari segala arah.
"Maafkan aku! Aku takut! Aku akan menyerahkan diri!" Aris meratap. Air mata bercampur ketakutan membanjiri wajahnya.
"Sudah terlambat untuk menyerahkan diri ke polisi. Kau harus menyerahkan diri... kepadaku."
Lampu dasbor mobil mulai berkedip merah. Suara tawa yang melengking memenuhi kabin mobil, memantul dari kaca-kaca jendela. Tiba-tiba, di kursi penumpang sebelah Aris, muncul sosok wanita yang basah kuyup. Rambutnya yang panjang menutupi wajah, namun air yang menetes dari tubuhnya bukanlah air hujan, melainkan darah hitam yang kental.
Wanita itu perlahan menoleh ke arah Aris. Melalui sela-sela rambutnya, Aris melihat satu mata yang pecah menatapnya dengan dendam yang murni. Tatapan itu menghujam jantung dan pikirannya. Hutang nyawa harus lunas.
"Tujuan Anda sudah sampai," navigasi itu berbisik lembut tepat di telinganya.
Mobil tua itu melesat menembus pembatas jalan. Aris merasakan sensasi melayang selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Dalam kegelapan saat terjatuh itu, ia melihat layar ponselnya menyala untuk terakhir kalinya. Di sana tertulis: "Tujuan Tercapai: Neraka".
Mobil itu menghantam dasar jurang dengan ledakan yang merobek kesunyian hutan. Keesokan harinya, polisi menemukan bangkai mobil di dasar jurang KM 87. Titik yang sama persis dengan lokasi tabrak lari tiga tahun lalu. Namun, saat mereka memeriksa ponsel korban yang secara ajaib masih utuh, mereka tidak menemukan jejak koordinat, apalagi aplikasi bernama Tipi.
Satu-satunya hal yang ada di layar ponsel Aris adalah sebuah rekaman suara yang terus terputar secara otomatis: suara tangisan seorang wanita yang meminta tolong, diikuti oleh suara mesin mobil yang menjauh, meninggalkan keheningan yang mematikan. Terbayar lunas.