Malam di Jakarta Selatan selalu terasa seperti mesin yang menolak untuk berhenti. Namun bagi Budi, malam ini terasa sangat sunyi. Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 01.30 dini hari.
Aspal jalanan masih basah setelah diguyur hujan sisa sore tadi, memantulkan cahaya lampu jalan yang kuning pucat seperti deretan gigi yang membusuk. Anehnya, ia mulai merasa terbiasa dengan kegelapan dini hari. Tenang.
Budi membetulkan letak jaket hijaunya yang mulai lembap. Sebagai pengemudi ojek online atau ojol, jam-jam seperti ini adalah waktu bonus sekaligus waktu yang paling dibencinya. Sepi, namun kebutuhan cicilan motor memaksanya untuk tetap menyalakan aplikasi.
Ting!
Sebuah notifikasi masuk. Ponselnya yang terpasang di setang motor menyala terang. Pesanan masuk dari Kirana. Titik jemput, Gerbang Timur Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut. Titik antar, Jalan Mawar No. 13. Tidak jauh pikirnya.
Tapi, Budi terpaksa menelan ludah. TPU Jeruk Purut bukanlah tempat yang ingin dikunjungi siapa pun saat tengah malam telah lewat, apalagi di gerbang timurnya yang terkenal gelap dan berbatasan langsung dengan deretan pohon kamboja tua. Namun, tarif yang tertera di layar hampir tiga kali lipat dari harga normal.
"Mungkin karena jam kalong," gumamnya menenangkan diri.
Ia memacu motornya. Semakin dekat ke titik penjemputan, udara terasa semakin padat dan dingin. Kabut tipis mulai merayap dari balik nisan-nisan yang berjejer rapi. Di depan gerbang besi yang berkarat, seorang wanita berdiri membelakangi jalan. Ia mengenakan gaun putih panjang yang tampak bersih, sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang kumal dan kotor.
"Mbak Kirana, ya?" tanya Budi pelan saat menghentikan motornya.
Wanita itu menoleh perlahan. Wajahnya cantik, namun sangat pucat, hampir seperti porselen yang rapuh. Ia tidak tersenyum, hanya mengangguk pelan dan segera naik ke boncengan motor Budi. Budi memberikan helm cadangan, namun wanita itu hanya memegangnya di pangkuan tanpa memakainya. Rasanya aneh.
"Jalan Mawar ya, Mbak?" kata Budi sedikit berdebar.
"Iya, Mas. Ikuti saja jalan ini, lalu belok kanan setelah jembatan," suara wanita itu terdengar lirih, seperti bisikan angin di sela daun kering.
Budi mulai menjalankan motornya. Keanehan pertama mulai terasa. Motor matiknya terasa sangat ringan, seolah-olah ia tidak sedang membonceng siapa pun. Namun, saat ia melirik kaca spion, ia bisa melihat pantulan wanita itu duduk tegak di belakangnya. Curiga.
Anehnya, Budi tidak merasakan napas di punggungnya, juga tidak ada getaran dari beban tubuh di jok motor. Lebih aneh lagi, ia merasa kejadian ini membuatnya berdebar, terkadang bulu kuduknya merinding. Tapi, ia merasa sudah biasa.
"Mas sudah lama narik ojek?" tanya wanita itu tiba-tiba.
"Baru dua tahun, Mbak. Buat nyambung hidup," jawab Budi berusaha ramah demi mengusir rasa takut.
"Sama... saya juga dulu suka naik ojek. Sebelum kejadian itu," kata Kirana dengan nada sedih.
"Kejadian apa, Mbak?" tanya Budi dengan perasaan aneh bercampur bingung.
Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke depan. Mereka memasuki kawasan pemukiman yang tampak terbengkalai. Jalan Mawar. Budi mengernyitkan dahi. Sejauh yang ia tahu, daerah ini sudah dikosongkan sejak kebakaran besar melanda lima tahun lalu.
"Itu rumahnya, Mas. Yang ada pohon mangganya," bisik Kirana.
Budi menghentikan motor di depan sebuah bangunan yang keadaannya sangat mengerikan. Rumah itu tidak memiliki atap. Tembok-temboknya hitam legam terkena jelaga, dengan sisa-sisa kayu yang mencuat seperti tulang-belulang yang hangus. Tidak ada lampu, tidak ada kehidupan. Hanya bau sangit yang mendadak menyeruak masuk ke indra penciuman Budi. Makin aneh.
"Mbak... ini rumahnya? Maaf, tapi sepertinya rumah ini..." Budi menoleh ke belakang untuk memprotes, namun jok belakangnya kosong.
Helm yang tadi dipegang wanita itu tergeletak di aspal. Budi gemetar hebat. Ia buru-buru melihat ponselnya. Aplikasi ojeknya masih terbuka, namun titik lokasinya kini berada tepat di tengah-tengah puing rumah yang terbakar itu. Tiba-tiba, sebuah pesan masuk di kolom chat aplikasi dari akun Kirana.
"Terima kasih sudah mengantar saya pulang, Mas Budi. Maaf kalau saya merepotkan. Tolong lihat di bawah jok motor Mas, ada sesuatu untuk Mas," tulis Kirana.
Dengan tangan gemetar dan keringat dingin yang bercucuran, Budi membuka bagasi motornya. Di sana, ia menemukan sebuah dompet kulit yang sudah setengah hangus. Di dalamnya ada selembar KTP atas nama Kirana Wahyuni. Dunia terasa runtuh.
Namun bukan itu yang membuat Budi hampir pingsan. Di dalam dompet itu juga terdapat potongan koran yang sudah menguning dan rapuh. Tangannya gemetar hebat membaca tulisan di dalam koran itu.
"Kecelakaan maut ojek online, penumpang tewas terbakar bersama driver setelah motor meledak karena masalah mesin dan knalpot," baca budi dengan nada tak percaya.
Di bawah judul itu, ada foto sang korban wanita yang memang adalah Kirana. Dan di sebelahnya, foto sang pengemudi ojek online yang tewas dalam kejadian itu. Budi menjerit tertahan. Wajah pengemudi di foto koran itu adalah wajahnya sendiri. Tidak mungkin.
Memori itu mendadak menghantamnya seperti palu. Ia ingat rasa panas yang membakar kulitnya. Ia ingat suara jeritan Kirana saat bensin menyambar tubuh mereka berdua di jalan ini, tepat lima tahun lalu. Ia ingat rasa sakit yang luar biasa sebelum semuanya menjadi hitam.
Budi melihat ke bawah, ke arah tangannya yang memegang setang. Perlahan, kulit di tangannya mulai melepuh dan menghitam. Jaket hijaunya yang tadi tampak baru, kini berubah menjadi kain perca yang hangus terbakar. Motornya yang tadi mulus, kini tampak seperti rongsokan besi yang berkarat dan penuh jelaga. Mulai sadar.
Ia tidak pernah bertahan hidup. Ia hanyalah sebuah gema yang terus mengulang rute kematiannya setiap malam, terjebak dalam pengulangan waktu yang tak berujung, menunggu penumpang yang sama.
Di kegelapan Jalan Mawar, suara mesin motor yang parau terdengar menjauh, kembali menuju gerbang TPU Jeruk Purut, bersiap untuk menerima pesanan dari Kirana. Pengulangan tanpa ujung. Tak ada akhir.