Misteri Pesugihan Kandang Bubrah dan Tumbal Manusia

Bimo Aria Fundrika | Angelia Cipta RN
Misteri Pesugihan Kandang Bubrah dan Tumbal Manusia
Dok. Ilustrasi Gemini

Rumah itu tidak pernah benar-benar tidur. Di siang hari, ia tampak seperti bangunan tua yang dipaksakan hidup. Tembok baru ditempelkan begitu saja di atas dinding lapuk; warnanya tidak pernah benar-benar menyatu.

Genteng-genteng tampak baru, tetapi rangka kayu di bawahnya berderit setiap kali angin bertiup, seperti tulang tua yang menolak menopang beban. Paku-paku berkilat menancap pada balok yang seharusnya sudah lama roboh, seolah seseorang terus memaksa rumah itu berdiri meski ia ingin runtuh.

Namun, di malam hari rumah itu seakan hidup. Bau tanah basah merayap keluar dari celah lantai. Aroma kotoran dan lumpur bercampur dengan sesuatu yang lebih tua, bau yang tidak bisa dijelaskan, seperti kuburan yang baru saja dibuka.

Jendela sering berembun dari dalam, bukan dari udara malam. Bila seseorang berdiri terlalu lama di terasnya, ia akan merasakan seolah lantai kayu di bawah kakinya berdenyut perlahan.

Warga desa menyebutnya Kandang Bubrah.

Tidak ada papan nama. Tidak ada penanda resmi. Namun, semua orang tahu rumah mana yang dimaksud. Mereka mengenalnya dari caranya berdiri, selalu diperbaiki, selalu baru, tetapi sekaligus selalu tampak busuk, seperti bangkai yang dirias berulang kali.

Setiap orang tahu aturannya, meski tak semua berani mengucapkannya dengan lantang. Rumah itu harus direnovasi setiap tahun: atap diganti, dinding ditambal, lantai diperkuat. Namun, rumah itu tidak boleh dibersihkan. Debu harus dibiarkan menumpuk. Sarang laba-laba tidak boleh disapu. Bekas tapak kaki berlendir di lantai cukup dipandang, tidak disentuh. Bahkan air pel yang terlalu bersih dianggap pelanggaran.

Karena rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah kandang.

Pemiliknya, Pak Darmawan, dulunya orang yang nyaris tak terlihat di desa. Ia hidup dari utang ke utang. Sawahnya hampir disita, dan istrinya sering menangis diam-diam di dapur. Darmawan adalah lelaki yang kelelahan oleh segala macam beban hidup, merasa dunia selalu meminta, tetapi tak pernah memberi.

Hingga suatu malam, saat hujan turun seperti air kuburan, ia mendengar bisikan dari arah kebun bambu di ujung tanahnya.

Bisikan itu tidak memanggil nama. Ia hanya menjanjikan kelegaan.

Dengan pakaian basah dan langkah ragu, Darmawan mengikuti suara itu. Di tengah kebun, tanah terasa lebih dingin. Bambu-bambu bergoyang tanpa angin. Dari sana makhluk itu datang, tidak sepenuhnya terlihat, seolah kegelapan sendiri mengambil bentuk.

Tubuhnya kecil, tetapi bayangannya memenuhi tanah. Matanya rendah, hampir sejajar dengan lutut Darmawan. Suaranya seperti pasir digerus tulang.

“Bangun rumah untukku,” katanya.

“Perbaiki setiap tahun agar aku betah.”

“Biarkan kotor agar aku bisa pulang.”

Sebagai gantinya, Darmawan akan kaya, sangat kaya. Uang akan datang tanpa ia tahu dari mana asalnya. Rezeki akan mengalir tanpa ditanya.

Namun, ada satu kalimat yang diucapkan sambil tertawa lirih, yang baru dipahami Darmawan bertahun-tahun kemudian.

“Jika kandang ini kau bersihkan, aku akan membersihkan hidupmu lagi.”

Sejak malam itu, hidup Darmawan berubah drastis.

Utangnya lunas. Sawahnya subur. Dagangannya laris manis. Orang-orang mulai datang meminjam uang darinya. Ia dihormati dan disegani. Namun, bersamaan dengan itu, rumahnya berubah menjadi tempat yang menolak terang.

Lampu selalu tampak redup meski bohlam selalu diganti. Udara di dalam rumah terasa berat, membuat dada sesak. Istrinya mulai mendengar suara mengunyah di bawah lantai, pelan, teratur, seperti seseorang menikmati makanannya tanpa tergesa.

Anak-anak desa yang iseng melempar batu ke halaman Darmawan sering jatuh sakit. Kulit mereka dipenuhi ruam kemerahan, seperti bekas cakar kecil. Orang tua mereka tahu apa artinya, tetapi memilih diam.

Makhluk itu tidak pernah menampakkan diri. Ia hanya meninggalkan tanda: jejak kaki kecil yang selalu basah, bau amis di sudut rumah, dan mimpi buruk yang sama pada siapa pun yang tidur terlalu dekat dengan dinding.

Dalam mimpi itu, mereka melihat rumah yang sama, tetapi tanpa atap, tanpa pintu, hanya kandang tanah dengan sesuatu yang bergerak di dalamnya.

Semua berjalan baik-baik saja hingga Naka, keponakan Darmawan, datang dari kota.

Naka adalah anak muda yang tidak percaya apa pun selain logika. Baginya, cerita pesugihan hanyalah cara orang desa menutupi kemiskinan dan ketakutan. Ia melihat rumah Darmawan sebagai bangunan jorok yang memalukan, bukan tempat keramat.

Suatu siang, saat rumah kosong, Naka mengambil sapu. Ia menyapu lantai ruang tengah. Debu mengepul seperti kabut. Saat sapunya menyentuh sudut rumah, terdengar tangisan lirih, sangat dekat, seolah berasal dari dalam tembok. Naka berhenti. Jantungnya berdegup. Ia tertawa gugup, mengira itu tikus.

Ia menyapu lagi, tetapi tiba-tiba lantai bergetar.

Malam itu, rumah marah. Dinding mengelupas sendiri. Catnya jatuh seperti kulit mati. Langit-langit dipenuhi bekas kuku, panjang dan rapat, seolah sesuatu mencoba keluar dari atas. Dari kolong rumah, sesuatu merangkak naik, tidak sepenuhnya terlihat, tetapi cukup untuk membuat darah membeku.

Tubuhnya rendah. Rambutnya menempel tanah. Punggungnya bergerak terbalik, seperti tidak mengenal arah depan dan belakang.

Istri Darmawan ditemukan mati keesokan paginya. Mulutnya terbuka, penuh tanah. Kukunya patah-patah dan berdarah, seolah ia mencoba menggaruk keluar dari mimpi buruk yang terlalu sempit.

Desa gempar, tetapi tidak terkejut. Orang-orang tua hanya menggeleng pelan.

“Penghuni kandang minta bayaran,” kata mereka.

Sejak itu, Darmawan mulai membusuk sebelum mati. Kulitnya menghitam. Nadinya dingin. Napasnya berbau amis. Setiap malam, ia melihat rumahnya direnovasi oleh tangan-tangan kecil yang tumbuh dari lantai, lalu dikotori kembali dengan daging dan tanah.

Dalam tidurnya, ia sering terbangun sambil menggenggam segenggam tanah basah, entah dari mana asalnya. Akhirnya, ia memanggil Mbah Suro, sesepuh desa.

Mbah Suro datang dengan wajah pucat. Ia tahu pesugihan itu, tetapi jarang ada yang bertahan sampai tahap ini. Ia berkata jujur: perjanjian bisa diputus, tetapi harganya hampir setara dengan nyawa.

Rumah harus dibersihkan sampai ke akar. Artinya, lantai dibongkar, tanah digali, dan kandang harus dihancurkan. Itu berarti mengusir makhluk jahanam itu secara paksa.

Malam ritual tiba. Angin berhenti. Hewan-hewan diam. Air kembang disiram. Doa dilantunkan. Mantra lama diucapkan dengan suara bergetar.

Saat lantai terangkat, mereka menemukannya: lubang sempit seperti rahim tanah, penuh tulang kecil, bukan tulang hewan, bukan pula manusia dewasa. Tulang-tulang itu tersusun rapi, seperti sarang.

Makhluk itu muncul sambil menjerit. Suaranya memecahkan gendang telinga. Tanah bergerak. Dinding bergetar. Rumah seolah menjerit bersama penghuninya.

Makhluk itu menyeret Darmawan ke lubang tersebut, menuntut yang paling berutang. Saat fajar menyingsing, rumah itu runtuh dengan sendirinya. Pesugihan Kandang Bubrah berakhir. Kekayaannya lenyap, dan tanah kembali kosong.

Namun, sejak hari itu warga desa sering mendengar suara palu dari kebun bambu pada malam hari, seolah seseorang sedang membangun rumah baru, pelan, sabar, dan telaten.

Karena Pesugihan Kandang Bubrah tidak pernah mati. Ia hanya berpindah kandang dan mencari tuan yang baru.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak