Langkah dari puluhan pasang kaki menghampiri sebuah area pemakaman. Suara isak tangis dan lantunan doa masih mengudara di gendang telinga Ara.
Kim Je Ha, suami Ara yang berdarah Korea, menggenggam tangannya erat, berusaha menenangkan Ara. Gadis itu tidak menangis seperti kebanyakan pelayat yang lain, tapi Je Ha tahu, di balik wajah datarnya, Ara sangat terpukul.
Gundukan tanah yang masih basah itu telah membungkus Gladies, sahabat Ara sejak kecil. Perempuan itu seusia dengan Ara, 23 tahun. Namun, yang membedakan adalah, Gladies telah ditemukan terbujur kaku sebelum sempat menikah.
Sedangkan Ara telah menikah satu tahun yang lalu dengan Kim Je Ha, lelaki yang ia kenal saat melanjutkan studi di negeri ginseng.
Ara tidak pernah menyangka, pertemuannya di cafe sore itu akan menjadi pertemuannya yang terakhir dengan Gladies, sebelum sahabatnya itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Setelah selesai melantunkan doa untuk jenazah, satu per satu dari pelayat mulai meninggalkan pusara Gladies, tapi tidak dengan Ara. Je Ha telah membujuknya untuk pulang, tapi wanita bersurai sebahu itu masih enggan meninggalkan Gladies sendirian.
Setelah semua orang beralalu dan hanya menyisakan Ara dan Je Ha, tangis wanita itu pun pecah. Gejolak perasaan dan gumpalan cairan di sudut netra hitamnya sudah tidak bisa ia bendung lagi.
Je Ha pun menarik Ara ke dalam pelukannya, membiarkan kemeja hitamnya basah oleh air mata Ara, ia semakin menangis meraung-raung.
Langit mulai menggelap, burung-burung beterbangan di atas kepala mereka untuk kembali ke sarang, aroma bunga kantil memenuhi rongga pernapasan. Ara masih belum bisa menghentikan tangisnya.
Je Ha kembali membujuk istrinya agar mau pulang. Sebentar lagi hujan akan turun. Ara pun akhirnya menurut dan melangkah menjauhi pusara Gladies.
Namun, tiba-tiba kakinya terasa kaku. Ia merasa ada tangan dingin yang mencengkeram kaki kirinya, mencegahnya untuk menjauh. Je Ha yang melihat Ara terdiam, menatapnya dengan tatapan, ‘Ada apa?’
“Je-Je Ha, kakiku nggak bisa bergerak.” Suara Ara terdengar panik.
Tangan beku itu masih membelenggu kaki kirinya saat embusan napas menyentuh daun telinganya. Bulu kuduk Ara meremang.
“Ara, tolong aku,” bisiknya.
“Gla-Gladies.”
Ara semakin ketakutan saat suara bisikan itu mengeluarkan bau anyir dan busuk yang menusuk hidungnya. Ara kembali menangis, ia sangat ketakutan.
Je Ha menarik Ara agar menjauh dari area pemakaman, tapi kaki istrinya masih tertanam di bumi.
Pijakannya tidak bergeser sedikitpun. Hal yang sama juga dirasakan Je Ha, bau busuk memenuhi penciumannya, kedua insan ini kini diserang mual.
“Tolong aku. Aku tidak bunuh diri, Ara. Aku dibunuh.”
“Aku akan menolongmu. Tapi bagaimana caranya?”
“Lelaki itu menyimpan racun yang ia gunakan untuk membunuhku di rumahnya. Kau bisa menemukannya di kamar mandi. Hanya ada satu kamar mandi di rumah itu. Bawa barang bukti itu ke kantor polisi. Ia harus menerima hukuman yang setimpal,” bisik roh tak kasat mata itu.
Ara pun menyanggupi ucapan roh sahabatnya itu. Kini ia dan Je Ha telah berhasil meninggalkan area pemakaman.
Je Ha bisa bernapas lega setelah masuk ke dalam mobilnya, tapi tidak bagi Ara. Ia merasa mereka tidaklah sendiri.
Di dalam mobilnya ada makhluk lain yang tidak bisa dilihat suaminya. Ara bersusah payah menelan salivanya.
“Kita jangan pulang dulu, mampir ke Jl. Cendrawasih No. 70, ya.”
“Mau ngapain, Ra?”
“Ki-kita harus nolong Gladies.”
Ara melirik spion yang berada di dalam mobil. Di situ ia melihat bayangan sahabatnya dengan wajah pucat sedang tersenyum. Bahkan ketika ia telah tiada, Ara masih bersedia untuk menolongnya.
Mobil hitam Je Ha pun tiba di depan sebuah rumah dengan alamat yang disebutkan Ara tadi. Ara masih bingung, bagaimana ia harus memulai.
Ia tidak mungkin bisa sembarangan menggeledah rumah orang yang tidak ia kenal. Je Ha melihat istrinya terpejam sambil terengah.
Je Ha masih tidap paham apa yang akan mereka lakukan di rumah ini. Mengapa istrinya bersikap aneh di pemakaman tadi, bahkan hingga kini, Ara masih menunjukkan gelagat aneh di mata Je Ha.
Namun, Je Ha tahu, saat ini mereka tidak sendirian. Pasti ada makhluk lain yang mengikuti mereka. Ara kerap kali seperti ini kala berhadapan dengan makhluk lain yang tidak bisa Je Ha lihat, Ara seorang indigo.
“Kita harus nolong Gladies. Dia dibunuh, bukan bunuh diri. Pembunuh Gladies ada di dalam rumah ini. Cuma itu yang dia bilang ke aku barusan. Ki-kita harus nolong dia.”
Ara meremas tangan Je Ha. Je Ha pun mengangguk paham.
Angin dingin berembus, menerbangkan daun-daun kering, membuat bulu roma Ara kembali meremang. Saat ini Gladies tengah berdiri di sampingnya dengan tatapan kosong dari bola matanya yang putih.
Ia berjalan menembus gerbang terkunci di hadapannya, gerbang itu kini terbuka, memberi akses masuk untuk Ara dan Je Ha. Roh itu juga membuka pintu rumah minimalis itu tanpa menggerakkan seujung kukunya.
Ara berusaha menelan salivanya yang seakan mengganjal di kerongkongannya saat melihat pintu besar itu terbuka sendiri. Ia pun melangkah masuk disusul oleh suaminya.
Netra jelaga milik Ara menangkap Gladies melayang tanpa menapak. Roh sahabatnya itu menjatuhkan beberapa barang yang ada di ruang tamu hingga menimbulkan bunyi nyaring.
Je Ha menangkap pundak istrinya, Ara melangkah mundur karena terkejut. Namun, ia sudah tidak punya pilihan untuk mundur. Ara pun mengikuti roh Gladies dan tiba di depan kamar mandi.
Ara mulai mencari racun yang tadi Gladies katakan. Je Ha membantu Ara menyusuri setiap inci dari kamar mandi itu. Je Ha pun menemukan sebuah botol bening dengan bubuk putih di dalamnya.
Setelah mendapatkan benda yang mereka cari, kepala Ara seakan berputar. Ia didera pusing yang sangat hebat. Kepalanya berdenyut.
Lalu wanita bermata bulat itu seperti melihat potongan-potongan adegan. Ia melihat Gladies sedang menangis, lalu seorang laki-laki datang untuk menenangkannya.
Ara melihat kejadian yang sama dengan setting tempat yang berbeda, Gladies yang sedang menangis dengan laki-laki di sampingnya.
“Mau sampai kapan kamu nangis terus kayak gini, Dis? Je Ha nggak akan bisa—“
“Iya, aku tau Rev! Je Ha suka sama Ara, sahabat aku, dan mereka akan menikah!”
“Apa kamu nggak bisa nyerah aja? Perasaan kamu nggak terbalas, Dis! Bisa nggak kamu sedikit aja ngeliat aku. Aku suka sama kamu, Dis!”
“Revan…”
Ara tersentak mengetahui kenyataan itu. Matanya membulat sempurna, napasnya putus-putus, degup jantungnya tidak beraturan. Selama ini Gladies menyukai suaminya.
“Ra, kamu kenapa?”
“Gladies suka sama kamu.” Hanya itu kalimat yang berhasil meluncur dari bibir mungil Ara.
Adegan lain kembali berdistorsi di depan Ara. Saat ia dan Je Ha menikah, Gladies memang tidak datang dengan alasan sakit.
Hari itu, Gladies berniat bunuh diri. Namun, Revan berhasil menghentikan rencana konyol gadis itu. Sejak itu, Revan menjadi lebih intens untuk menemani Gladies.
8 bulan telah berlalu, Gladies mulai menaruh perhatian pada lelaki berhidung mancung itu. Revan senang, akhirnya gadis pujaannya mampu meliriknya dan melupakan Je Ha yang telah menjadi suami dari sahabatnya.
Waktu terus bergulir, Revan kembali menyatakan cintanya pada Gladies. Perempuan bersurai hitam itu mengatakan akan memberi jawaban saat Revan datang ke rumahnya.
Revan pun menuruti permintaan Gladies. Tanpa Revan duga, Gladies justru menolaknya. Revan merasa telah dipermainkan oleh Gladies. Perhatian, simpati, dan kebersamaan yang telah mereka lalui selama ini tidak berarti apa pun di mata wanita itu.
Nama Kim Je Ha tetap terpatri di relung hatinya. Revan pun menerima keputusan Gladies. Gadis itu senang, karena di luar dugaannya, Revan tidak marah atau benci dengannya.
Keesokan harinya, Revan meminta Gladies untuk datang ke rumahnya. Revan mendadak demam. Gladies panik saat mengetahui kabar sakitnya Revan.
Ia pun langsung menuju ke kediaman lelaki itu. Tanpa Gladies sadari, hari itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Revan. Revan telah membunuhnya dengan racun yang ia bubuhi di minuman Gladies.
Rumah yang awalnya kosong, kini menghadirkan orang lain selain Ara dan Je Ha. Revan sangat terkejut saat melihat rumahnya berantakan. Barang-barang di ruang tamunya berhamburan dan menyisakan pecahan kaca di lantai marmer.
“Ara? Je Ha?”
Revan lebih terkejut lagi saat mengetahui pasangan suami istri itu tengah berada di rumahnya. Pasalnya mereka belum pernah sekalipun berkunjung ke kediaman Revan.
“Ka-kamu udah bunuh Gladies,” ucap Ara.
Revan merasakan gemuruh di dalam dadanya. Rahasianya telah terbongkar. Ara pun mengacungkan botol racun yang berada di genggamannya.
“Kamu nggak punya bukti, Ra. Kamu pikir, hanya dengan nemuin itu di sini bisa cukup kuat buat jadi barang bukti. Itu cuma obat sakit kepala aja,” kilah Revan.
Roh Gladies pun muak mendengar semua penuturan Revan. Ia pun melayang mendekat ke arah lelaki itu.
Revan terkejut dan kaget saat melihat Gladies yang baru saja dikebumikan hadir di hadapannya. Matanya yang putih mengeluarkan cairan kental kehitaman. Bau busuk menguar dari giginya yang tidak beraturan.
Je Ha mendekap Ara agar tidak melihat adegan selanjutnya yang dilakukan roh Gladies terhadap Revan. Je Ha pun memejamkan kelopaknya erat.
Seluruh tubuhnya bergetar. Dan saat ia membuka mata, ia melihat Revan sudah tak bernyawa dan mengeluarkan darah melalui mulutnya. Cairan merah itu membasahi pipi, leher serta kerah kemeja hitam Revan.
Kedua mata Revan melotot dan berwarna putih, sama seperti mata milik roh Gladies. Lantai marmer di bawah telapak kaki Ara semakin dingin.
Gladies mengucapkan terima kasih karena Ara dan Je Ha telah membantunya. Di samping jenazah Revan, Ara melihat bercak darah bertuliskan, “Gladies, maaf aku telah membunuhmu.”